jurnalistik.co.id – Penilaian IMTI di Gorontalo
Provinsi Gorontalo dinilai memiliki modal kuat untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata ramah muslim di Indonesia. Penilaian tersebut menyoroti perpaduan tradisi religi, kearifan lokal, serta budaya masyarakat yang berpijak pada falsafah “Adat bersendikan syara’, syara’ bersendikan Kitabullah”.
Tim Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI melakukan penilaian langsung di Gorontalo. Dalam kesempatan itu, Tim diterima Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie pada jamuan makan malam di Aula Rumah Jabatan Wagub.
Pertemuan berlangsung pada Jumat, 4 September 2026 malam. Idah hadir bersama sejumlah pejabat provinsi, antara lain Kepala Perwakilan Bank Indonesia Gorontalo, Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga, Kepala BKPSDM, serta Komisi III DPRD Provinsi Gorontalo. Kehadiran unsur-unsur tersebut menunjukkan fokus penilaian yang tidak hanya menilai lokasi wisata, melainkan juga ekosistem sosial budaya di daerah.
Idah menyampaikan apresiasi atas kedatangan Tim penilai IMTI. Ia juga menegaskan rasa bangga sekaligus harapan agar Gorontalo mampu terus bergerak naik dalam pemeringkatan Indonesia Muslim Travel Index.
Menurut Idah, kemajuan Gorontalo dapat dilihat dari posisi yang semakin meningkat. Ia menyampaikan harapan tersebut dengan mengaitkan capaian peringkat sebelumnya terhadap target ke depan.
“Peringkat Provinsi Gorontalo dalam Muslim Travel Index menunjukkan kemajuan yang baik. Dulu peringkat 13, terakhir sudah peringkat 11. Kami berharap pada tahun ini bisa masuk 10 besar,” ujar Idah.
Idah menilai harapan itu memiliki dasar karena Gorontalo merupakan daerah dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Kondisi sosial tersebut, lanjutnya, membuat berbagai kebiasaan dan tradisi di masyarakat dapat berkembang menjadi destinasi wisata bernuansa muslim.
Ia mencontohkan salah satu tradisi yang menjadi bagian dari momentum keagamaan. Pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, masyarakat Gorontalo melaksanakan tradisi Walima yang dapat menjadi daya tarik budaya sekaligus praktik keagamaan.
Idah juga menyampaikan bahwa dalam rangka penilaian, tim penilai dapat mengunjungi desa religi yang ada di Bongo, Kabupaten Gorontalo. Di sana, kata Idah, akan ditemukan tradisi yang hingga kini masih dilaksanakan dan dipertahankan oleh masyarakat setempat.
Berita Terkait
Selain tradisi pada momen Maulid, Idah menyoroti potensi budaya lain yang dianggap memiliki daya tarik. Salah satunya adalah tradisi Lebaran Ketupat yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Gorontalo.
Ia menjelaskan bahwa momentum Lebaran Ketupat menghadirkan pengalaman khas, karena masyarakat tidak hanya berkumpul untuk menjalankan rangkaian kegiatan. Tradisi ini juga membuka rumah bagi siapa saja untuk menikmati hidangan khas Gorontalo.
Pada kesempatan yang sama, Idah turut menyebut Mopotilolo sebagai salah satu kekayaan adat dan budaya yang dapat dipertimbangkan dalam penilaian IMTI. Mopotilolo merupakan upacara adat Gorontalo yang dilaksanakan untuk menyambut tamu, pejabat negara, maupun tamu kehormatan yang baru pertama kali datang ke daerah.
Idah menekankan keunikan tradisi Mopotilolo terletak pada pemberian sedekah kepada tamu yang disambut. Dalam penjelasannya, sedekah tersebut wajib diterima sebagai simbol doa dan keselamatan bagi tamu.
Ia kemudian mencontohkan pelaksanaan tradisi tersebut pada pertemuan yang melibatkan tokoh nasional. Idah menceritakan bahwa beberapa bulan sebelumnya, Mopotilolo digelar saat upacara adat menyambut Presiden RI Bapak Prabowo Subianto.
“Beberapa bulan lalu ketika kami menggelar upacara adat Mopotilolo untuk menyambut Presiden RI Bapak Prabowo Subianto. Saya sendiri menyampaikan kepada Pak Presiden untuk menerima sedekah itu, dengan artian secara adat sebagai simbol keselamatan bagi Pak Presiden,” tuturnya.
Menurut Idah, rangkaian tradisi yang disebutkan tersebut memperlihatkan bahwa potensi wisata ramah muslim di Gorontalo tidak bertumpu semata pada destinasi fisik. Potensi itu, lanjutnya, juga berakar pada cara hidup masyarakat, adat, budaya, serta tradisi religi yang masih hidup dan dilestarikan hingga sekarang.
Ia menilai kehadiran tim penilai dari Kemenparekraf RI menjadi momen penting untuk menyampaikan gambaran nyata mengenai praktik budaya di Gorontalo. Dengan demikian, penilaian IMTI diharapkan dapat menangkap konteks sosial yang membuat wisata ramah muslim menjadi lebih bermakna.
“Bicara soal muslim atau religinya Gorontalo, masih sangat banyak. Maka dari itu, kami sangat bangga dan menyambut baik kehadiran tim penilai dari Kemenparekraf RI. Semoga yang kami sampaikan dalam pertemuan makan malam ini bisa menjadi masukan yang sangat positif untuk tim penilai,” pungkasnya.
Melalui penilaian tersebut, Gorontalo berupaya menegaskan identitas budayanya sebagai bagian dari pengalaman perjalanan. Harapannya, masukan dari tim IMTI dapat mendorong Gorontalo untuk terus menguatkan posisinya dan menembus target peringkat pada pemeringkatan tahun berjalan.












