jurnalistik.co.id – Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi tiba di Provinsi Gorontalo pada Kamis (3/9/2026) pukul 15.00 WITA. Kedatangan tersebut diiringi rangkaian penyambutan adat Mopotilolo di Bandara Djalaluddin.
Yudian beserta rombongan disambut di Ruang VIP Bandara Djalaluddin. Penyambutan diawali dengan tarian Longgo yang diiringi tabuhan genderang adat Gorontalo.
Setelah rangkaian tari, penyambutan dilanjutkan dengan kedatangan Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail beserta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Gorontalo. Sekretaris Daerah Provinsi Gorontalo Sofian Ibrahim turut hadir dalam momen penerimaan tersebut.
Rangkaian prosesi Mopotilolo
Proses berikutnya memasuki tahapan adat Mopotilolo. Prosesi ini dipimpin oleh para pemangku adat U Duluwo Limo Lo Pohalaa.
Tradisi Mopotilolo dimaknai sebagai penghormatan kepada tamu kehormatan yang baru pertama kali berkunjung ke Gorontalo. Selain menjadi tanda penerimaan secara adat, rangkaian ini juga disebut sebagai simbol kesediaan tuan rumah menyambut kunjungan secara penuh.
Memasuki Ruang VIP, Yudian mengikuti prosesi mopodungga lo uyilumo. Prosesi tersebut berupa jamuan makan dan minum, yang menjadi bagian dari tata cara penerimaan tamu dalam adat Gorontalo.
Melalui tahapan jamuan tersebut, suasana pertemuan berlangsung khidmat. Rangkaian tradisi dijalankan dengan mempertahankan urutan prosesi yang diwariskan masyarakat Gorontalo.
Setelah tahap mopodungga lo uyilumo, penyambutan dilanjutkan dengan penyampaian petuah adat. Petuah ini kemudian diikuti dengan doa bersama sebagai bagian dari rangkaian yang menyertai penerimaan tamu kehormatan.
Berita Terkait
Petuah dan doa bersama diarahkan untuk memohon keselamatan, kesehatan, serta kelancaran selama Yudian Wahyudi menjalankan agenda kunjungannya di Gorontalo. Doa dan arahan adat tersebut menjadi penguat agar seluruh rangkaian agenda dapat berjalan sesuai harapan.
Penutupan dengan mongabi
Prosesi ditutup dengan mongabi. Dalam rangkaian ini, mongabi dipahami sebagai pernyataan resmi tokoh adat yang menandai bahwa Yudian Wahyudi telah diterima secara adat.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi restu agar Yudian memperoleh izin dan diterima untuk berada di Gorontalo. Dengan demikian, kunjungan tidak hanya dipandang sebagai agenda kenegaraan, tetapi juga sebagai pertemuan yang dihormati melalui nilai-nilai tradisi.
Penyambutan yang berlangsung dalam rangkaian Mopotilolo memperlihatkan bagaimana adat tetap menjadi unsur penting dalam menerima tamu kehormatan di Provinsi Gorontalo. Melalui urutan prosesi yang terjaga, penerimaan dilakukan secara terstruktur dan penuh penghormatan sejak kedatangan hingga penutupan.
Rangkaian penerimaan itu berjalan sebagai satu kesatuan sejak Yudian Wahyudi menginjakkan langkah di Bandara Djalaluddin hingga proses di ruang penerimaan. Kehadiran rombongan serta susunan tamu pendamping menjadikan momen penyambutan lebih tertata, sementara alur kegiatan adat mengarahkan setiap peralihan tahap berlangsung tanpa terburu-buru.
Di dalam prosesi Mopotilolo, peran para pemangku adat menjadi penentu agar tata cara tetap selaras dengan pakem yang diwariskan masyarakat Gorontalo. Tradisi ini diletakkan sebagai ungkapan penerimaan yang tidak semata seremonial, melainkan juga dimaknai sebagai tanda kesediaan tuan rumah untuk menyambut kunjungan secara utuh, termasuk bagi tamu kehormatan yang baru pertama kali berkunjung.
Setelah bagian jamuan, suasana pertemuan kemudian dihias dengan rangkaian petuah adat yang disampaikan sebagai arahan nilai. Petuah tersebut disusul doa bersama yang dimohonkan untuk keselamatan, kesehatan, dan kelancaran selama agenda kunjungan berlangsung di Gorontalo. Melalui tahapan ini, proses penerimaan dipelihara agar terasa khidmat dan bermakna bagi semua pihak yang hadir.
Pada penutup, penyambutan diakhiri dengan mongabi yang berfungsi sebagai pernyataan resmi tokoh adat. Lewat penanda itu, Yudian Wahyudi ditempatkan sebagai sosok yang sudah “diterima secara adat” sehingga kunjungan tidak hanya dilihat sebagai agenda kedinasan, tetapi juga sebagai pertemuan yang dihormati melalui nilai-nilai tradisi yang disampaikan berjenjang dari awal hingga akhir.












