Entertainment

Jay-Z Hadirkan Bintang-Bintang di Konser Inggris yang Lama Ditunggu

×

Jay-Z Hadirkan Bintang-Bintang di Konser Inggris yang Lama Ditunggu

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Jay-Z: Stars join US rapper at long-awaited UK show

jurnalistik.co.id – Jay-Z menutup penantian panjang para penggemar dengan konser tunggal solo pertamanya di Inggris dalam lebih dari satu dekade. Malam itu menjadi panggung perayaan budaya hip-hop sekaligus sorotan bagi sejumlah tamu spesial yang ikut memanaskan Tottenham Hotspur Stadium, London, Jumat malam.

Dalam penampilannya yang berlangsung lebih dari dua jam, rapper asal Amerika tersebut membawakan serangkaian lagu hits yang memperlihatkan betapa kelasnya bertahan seiring waktu. Ia tampil pada konser pertama dari dua pertunjukan di London akhir pekan ini.

Tampil di rangkaian tur “Jay-Z 30”, konser ini dirancang untuk menandai 30 tahun album debutnya, “Reasonable Doubt”. Setlistnya juga merangkum jejak karier yang panjang, termasuk momen-momen yang selama ini identik dengan namanya.

Salah satu yang paling ditunggu adalah kemungkinan Beyoncé naik ke panggung. Pada awalnya, banyak penggemar berharap sang istri bergabung seperti yang sempat terjadi di dua dari tiga konser Jay-Z di New York musim panas ini, mengingat Beyoncé juga merayakan ulang tahun ke-45 pada hari yang sama.

Menjelang akhir acara, Jay-Z menyebut bahwa itu “ulang tahun wanita muda”, hingga penonton langsung heboh. Namun ia kemudian mengisyaratkan bahwa ia tidak bisa meminta Beyoncé tampil pada hari besar tersebut, lalu mengajak seluruh penonton ikut menyanyikan “Happy Birthday” untuk penyanyi itu yang duduk di ruang VIP, sementara kembang api berpendar di langit stadion.

Bagian pembuka menjadi pengantar yang tepat untuk suasana penuh bintang yang menyusul. Aktor Inggris Sir Idris Elba mengambil alih panggung terlebih dahulu dengan membawakan intro track dari album “American Gangster” tahun 2007, sebelum Jay-Z benar-benar masuk ke bagian utama acara.

Saat naik panggung, Jay-Z mengingat kembali kunjungannya ke London pada 1989 bersama mentor Jaz-O. Ia menuturkan bahwa kota tersebut memperlihatkan “apa yang mungkin”, dan pengalaman itu ia sebut menjadi bagian yang membuat tempat itu terasa “spesial” dalam perjalanan kariernya.

Selepas pengantar itu, intensitas konser langsung meledak melalui deretan lagu yang menggema di stadion. Jay-Z memainkan “Izzo (H.O.V.A.)”, “On To The Next One”, dan “Song Cry”, lalu berlanjut ke “99 Problems”, “Empire State of Mind”, serta “Dead Presidents”.

Sepanjang pertunjukan, layar LED raksasa menayangkan cuplikan video bernuansa nostalgia dari fase awal karier Jay-Z. Di atas panggung, orkestra dan beberapa pemain gitar turut mengiringi, memberi lapisan musik yang membuat setiap transisi terasa lebih hidup.

Meski tidak ada tanda kehadiran Rihanna maupun Alicia Keys pada malam itu, penonton tidak kehilangan tenaga. Keramaian stadion justru mengimbangi dengan ikut melantunkan bagian lirik saat “Run This Town” dan “Empire State of Mind” dibawakan.

Jay-Z juga meluangkan waktu untuk menyapa dan mengucap terima kasih kepada penggemar yang ia sebut sudah hadir sejak awal. Ia mengatakan, “music saved my life”, sembari menjaga suasana tetap personal sebelum kembali menaikkan tensi.

Dari sisi materi yang lebih reflektif, ia membawakan “Hard Knock Life (Ghetto Anthem” serta “Where I’m From”, lagu yang mengeksplorasi masa tumbuhnya di lingkungan Marcy housing projects, Brooklyn, New York. Setelah itu, ia menaikkan lagi energi melalui “No Church in the Wild” yang dilengkapi piroteknik dan efek kembang api.

Untuk lagu tersebut, ia pernah berkolaborasi dengan Ye (Kanye West). Dalam penampilannya malam itu, Jay-Z meninggalkan suaranya untuk bagian paduan suara, tetapi memotong bagian verse yang menjadi milik Ye.

Selain itu, DJ Khaled sempat muncul di panggung saat Jay-Z sedang melakukan pergantian bagian penampilan. Meski begitu, momen yang benar-benar membuat kerumunan meledak datang saat rapper kelahiran London, Giggs, tampil sebagai kejutan.

Giggs sempat terlihat seperti kewalahan ketika mengamati keramaian, bahkan beberapa saat ia menahan wajah dengan tangannya. Ia kemudian berduet lewat “Talkin Da Hardest” bersama Jay-Z, dan menyulut sorak yang semakin kencang.

Tamu kejutan tidak berhenti sampai di situ. Lauryn Hill dan Wyclef Jean, yang berasal dari kolektif hip-hop Amerika 1990-an Fugees, kembali menyatu untuk membawakan lagu-lagu mereka seperti “Ready or Not”, “Killing Me Softly With His Song”, dan “Fu-Gee-La”.

Penampilan itu terasa seperti momen “lingkaran penuh” bagi semua pihak, sebab Jay-Z mengingat dukungan yang pernah ia berikan kepada mereka saat tur Eropa. Malam tersebut kemudian ditutup dengan rangkaian lagu “Public Service Announcement (Interlude)” dan “Numb/Encore”.

Menjelang akhir, Jay-Z menyebut ini sebagai “malam yang legendaris” yang akan ia “tidak pernah lupakan”. Ribuan penonton seakan sepakat dengan sikap itu, terlihat dari gesture tangan berlian yang mereka angkat secara serentak.

Di antara penonton yang datang dari berbagai penjuru, ada Prince Dean Sithole yang menilai Jay-Z sebagai panutan. Ia mengungkapkan, bagi dirinya Jay-Z berdampak besar—terutama bagi komunitas kulit hitam yang menurutnya tidak terlalu sering mendapat pengakuan—serta mengatakan bahwa melihat Jay-Z hari itu membuat mimpi terasa mungkin untuk diwujudkan.

Nama Jay-Z sendiri memang telah lama menjadi simbol perjalanan hip-hop. Shawn Carter—nama asli Jay-Z—mulai menonjol lewat album debutnya pada 1996, tetapi catatan momentum terbesarnya hadir pada album ketiga “Vol. 2: Hard Knock Life” tahun 1998 yang untuk pertama kali menempatkannya di puncak tangga lagu AS, sekaligus membawa Grammy untuk album rap terbaik.

Setelah itu, ia membangun reputasi sebagai salah satu figur paling berpengaruh dalam hip-hop. Sepanjang kariernya, Jay-Z merilis 13 album studio solo serta beberapa rekaman kolaborasi yang turut membuatnya mengumpulkan 25 penghargaan Grammy.

Ia juga menjadi rapper pertama yang masuk Songwriters Hall of Fame pada 2017, dan kemudian masuk Rock & Roll Hall of Fame pada 2021. Dalam kiprahnya di luar panggung, Jay-Z dikenal pula sebagai figur musik sekaligus pemilik perusahaan, dengan Roc Nation yang menaungi berbagai talenta, termasuk kiprah yang belakangan ini berkaitan dengan penampilan halftime Super Bowl.

Pada 2019, Forbes menyebut Jay-Z sebagai miliarder pertama di dunia hip-hop. Ia dikatakan membangun kerajaan yang bertumpu pada musik, properti, fashion, dan investasi bersama Beyoncé; pasangan ini juga memiliki tiga anak, yakni putri Blue Ivy yang berusia 14 tahun, serta kembar Rumi dan Sir yang sama-sama berusia 9 tahun.