jurnalistik.co.id – Pangkalpinang menempatkan peringatan Sumpah Pemuda ke-98 sebagai pengingat penting bahwa perlindungan bagi generasi muda harus dimulai sejak dini. Kapolresta Pangkalpinang, Kombes Pol Indra Wijatmiko, menekankan bahwa langkah pencegahan lebih efektif sebelum persoalan berubah menjadi pelanggaran hukum.
Momen pada Rabu (28/10/2026) itu menurutnya tidak hanya menjadi seremonial, melainkan kesempatan untuk menengok kembali cara kota memperlakukan pemuda. Ketika ruang berkembang, kesempatan didengar, dan perlindungan diberikan saat situasi sulit hadir, risiko masalah yang lebih besar dapat ditekan.
Wijatmiko juga menggarisbawahi bahwa perubahan zaman membuat tantangan yang dihadapi anak muda semakin beragam. Banyak persoalan kini tidak muncul secara terang-terangan, melainkan datang melalui layar telepon genggam, lingkungan pergaulan, tekanan sosial, hingga hal-hal pribadi yang akhirnya dipendam.
Di antara bentuk tantangan tersebut, ia menyoroti beberapa isu yang sering berulang di sekitar anak muda. Menurutnya, judi online, narkoba, penipuan digital, hingga perundungan termasuk persoalan yang memerlukan perhatian dan penanganan bersama.
Namun, di balik setiap kesulitan, ada satu kebutuhan yang kerap luput dari pengamatan. Tidak semua pemuda memiliki keberanian untuk menyampaikan keadaan yang sedang mereka hadapi, sehingga pertolongan yang tepat sering datang terlambat karena mereka belum tahu harus berbicara kepada siapa.
Kapolresta Pangkalpinang menegaskan perlunya kedekatan sejak awal, bukan pendekatan ketika masalah sudah muncul. Ia menyampaikan, “Jangan menunggu seorang pemuda bermasalah untuk mulai mendekatinya. Ada kalanya mereka membutuhkan seseorang yang bersedia mendengar sebelum keadaan menjadi lebih sulit. Di situlah kehadiran polisi harus bisa dirasakan,” kata Kapolresta Pangkalpinang dalam momentum Sumpah Pemuda.
Bagi Wijatmiko, pendekatan seperti itu menempatkan pemuda sebagai bagian dari upaya membangun keamanan lingkungan. Pemuda, kata dia, membawa pengalaman, keresahan, serta cara pandang yang layak mendapat ruang dalam percakapan tentang arah masa depan kota.
Berita Terkait
Ia juga mengingatkan bahwa tidak semua persoalan dapat diselesaikan melalui peringatan semata. Ada kondisi yang membutuhkan pendampingan, ada yang menuntut perlindungan, dan ada pula situasi yang harus ditangani melalui penegakan hukum secara profesional.
Karena itu, memahami perbedaan tiap situasi menjadi bagian dari strategi pencegahan agar persoalan tidak berkembang lebih jauh. Dalam keseharian, seorang anak muda bisa saja tampak baik-baik saja di hadapan keluarga dan teman-temannya, tetapi menyimpan beban yang sulit diungkapkan.
Wijatmiko menambahkan, tekanan pergaulan, ancaman yang datang dari ruang digital, maupun ajakan yang menjerumuskannya ke tindakan berisiko tidak selalu diketahui orang-orang terdekat. Kondisi seperti ini menuntut lingkungan yang membuat pemuda berani menyampaikan persoalan tanpa merasa langsung dicap buruk.
Dengan demikian, ia menilai pendekatan humanis dalam pelayanan kepolisian memiliki cakupan yang lebih luas daripada sekadar keramahan saat bertugas. Pendekatan itu mencakup kesediaan untuk mendengar, memahami persoalan secara proporsional, menjaga martabat setiap orang, serta mengambil langkah yang tepat sesuai ketentuan hukum.
Melalui penekanan tersebut, peringatan Sumpah Pemuda ke-98 diharapkan tidak berhenti pada ajakan moral, tetapi diterjemahkan ke dalam tindakan yang nyata. Ketika kedekatan hadir lebih dulu, perlindungan dapat diberikan sebelum keadaan memburuk, dan keamanan lingkungan dapat tumbuh bersama.
Ia memandang bahwa pencegahan juga berarti menyiapkan ruang komunikasi yang nyaman, sehingga pemuda tidak merasa sendirian ketika menghadapi tekanan atau godaan. Saat saluran untuk bercerita terbuka, peluang intervensi yang lebih cepat menjadi lebih besar.
Dalam konteks itu, dorongan untuk mendekat sejak awal sekaligus mengandung pesan agar penanganan tidak seragam. Ada masalah yang memerlukan pendampingan, ada yang menuntut perlindungan, dan ada pula yang harus ditangani melalui proses hukum, semuanya disesuaikan dengan kebutuhan yang nyata di lapangan.
Kapolresta Pangkalpinang menilai, dengan pendekatan yang mendengar secara langsung, tanda-tanda persoalan seperti judi online, narkoba, penipuan digital, ataupun perundungan bisa lebih cepat dikenali. Tujuannya agar lingkungan tetap aman dan generasi muda dapat bertumbuh tanpa terjebak pada konsekuensi yang lebih berat.












