jurnalistik.co.id – Perempuan yang menduga menderita endometriosis segera memiliki jalur pemeriksaan yang lebih cepat di layanan kesehatan. Rancangan panduan baru yang diajukan untuk Inggris dan Wales menekankan bahwa dokter umum dapat mulai menawarkan dua tes non-invasif tertentu, di samping pemeriksaan rutin.
Kondisi ini memengaruhi sekitar satu dari sepuluh perempuan, namun sering kali membutuhkan waktu lama untuk dipastikan. Pihak ahli berharap pengenalan tes baru dapat memangkas penantian yang saat ini bisa mencapai sembilan tahun atau lebih sebelum diagnosis ditegakkan.
Endometriosis terjadi ketika jaringan yang mirip dengan lapisan dinding rahim tumbuh di bagian tubuh lain. Gejala yang muncul pun tidak selalu mudah dikenali, sehingga kerap bertumpang tindih dengan keluhan dari kondisi lain.
Dua tes non-invasif yang akan ditawarkan
Tes pertama berupa pemeriksaan air liur untuk mendeteksi materi genetik. Metode ini, yang dikenal dengan nama Endotest, saat ini sudah digunakan dalam studi percontohan di lingkungan NHS.
Tes kedua menilai sinyal listrik di area usus. Pada prosedur ini, sensor ditempatkan pada bantalan di perut untuk mengukur respons yang berkaitan dengan kondisi yang diduga endometriosis; uji tersebut disebut Endosure, dan sedang menjadi bagian dari studi klinis di Worcestershire Acute NHS Hospital Trust.
Untuk menjalani tes usus tersebut, pasien perlu berpuasa selama enam hingga delapan jam sebelumnya. Setelah itu, pasien diminta minum air selama 45 menit selama proses pemeriksaan.
Dalam rancangan rekomendasi, dokter umum berpotensi menawarkan salah satu atau kedua tes tersebut kepada sebagian pasien, asalkan ketersediaannya memungkinkan. Tidak semua fasilitas akan memiliki akses yang sama, sehingga implementasi tetap harus melalui pengawasan tenaga kesehatan yang memiliki keahlian dalam penegakan diagnosis dan penatalaksanaan endometriosis.
Tidak menggantikan diagnosis utama
Pihak penyusun panduan menegaskan bahwa kedua tes tidak dimaksudkan sebagai pemeriksaan yang berdiri sendiri untuk menetapkan diagnosis. Tujuannya adalah mempercepat identifikasi dan membuka jalan menuju penanganan yang tepat.
Saat ini, salah satu cara utama untuk memastikan diagnosis endometriosis di NHS masih menggunakan prosedur pembedahan yang disebut laparoskopi, dengan pasien menjalani anestesi umum. Dengan adanya tes non-invasif, diharapkan pasien dapat memperoleh rujukan lebih cepat sebelum menjalani tindakan tersebut.
NHS juga akan terus mengumpulkan bukti untuk menilai seberapa baik kinerja kedua tes ini. Penilaian dilakukan supaya penerapan di layanan kesehatan benar-benar didukung oleh data yang memadai.
Berita Terkait
Studi dan uji yang dilakukan pada tes Endotest maupun Endosure dipandang sebagai bagian dari upaya memperbaiki pengalaman pasien yang selama ini menghadapi proses panjang. Dalam banyak kasus, keluhan yang sama bisa dimaknai sebagai masalah lain, sehingga pasien harus bolak-balik mencari jawaban.
Pengalaman pasien yang menunggu bertahun-tahun
Ami Robertson, perempuan berusia 23 tahun, menyampaikan bahwa ia merasakan nyeri endometriosis sejak umur 16 tahun. Namun, ia berulang kali diberi penjelasan bahwa kemungkinan besar keluhannya berasal dari kondisi lain, misalnya irritable bowel syndrome.
Ia mengatakan bahwa gejala endometriosis bisa sulit dikenali dan dapat bertumpang tindih dengan gangguan lain. Ami juga pernah melakukan pemeriksaan secara mandiri yang akhirnya mengonfirmasi diagnosisnya, lalu ia menjalani operasi.
“Saya mulai meragukan diri sendiri, bertanya-tanya apakah semuanya hanya ada di kepala saya,” ujarnya. Ia juga menambahkan, “Tidak ada orang yang seharusnya harus menunggu bertahun-tahun agar dipercaya.”
Kisah serupa disampaikan Sharan Uppal, 46 tahun, yang tinggal di Huddersfield. Menurutnya, proses penegakan diagnosis untuk putrinya, Simran yang berusia 15 tahun, juga memerlukan waktu bertahun-tahun.
Sharan mengatakan ia kehilangan hitungan mengenai berapa kali membawa Simran ke dokter umum. Mereka bahkan harus mendatangi unit gawat darurat tiga atau empat kali, dengan salah satu kunjungan yang memakan waktu lebih dari 10 jam, tetapi tidak ada pihak yang benar-benar mengambil tanggung jawab untuk memastikan arah pemeriksaan.
Ia menyebut bahwa tes usus yang mereka jalani memberikan hasil yang kuat mengarah pada diagnosis. “Tes itu memberi saya dorongan untuk kembali ke dokter umum kami dan mendorong agar dilakukan rujukan,” katanya. Ia menambahkan, “Tes itu membuka pintu bagi kami untuk mendapatkan bantuan yang Simran butuhkan.”
Kesiapan layanan dan edukasi tenaga kesehatan
Emma Cox, chief executive Endometriosis UK, menyambut langkah tersebut. Ia menekankan bahwa ketersediaan tes baru harus berjalan seiring dengan edukasi bagi dokter umum dan perawat praktik agar akses terhadap pemeriksaan bagi pasien yang memerlukannya dapat diberikan segera.
“Ketersediaan tes-tes baru ini perlu sejalan dengan edukasi dokter umum dan praktik nurses untuk memastikan akses cepat bagi mereka yang membutuhkan, serta mengakhiri rasa sakit dan gejala yang tidak diakui,” ujarnya.
Dengan demikian, rancangan panduan ini tidak hanya mengedepankan teknologi pemeriksaan, tetapi juga menyoroti pentingnya pemahaman klinis di lini depan. Target akhirnya adalah agar perempuan yang mengalami gejala endometriosis tidak harus menempuh jalan panjang hanya untuk mendapatkan kepastian.






