Entertainment

Ed Sheeran mendukung skema “musik di perpustakaan” yang dirancang pemerintah

×

Ed Sheeran mendukung skema “musik di perpustakaan” yang dirancang pemerintah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Ed Sheeran inspires government-backed 'music in libraries' scheme

jurnalistik.co.id – Pemerintah Inggris meluncurkan rencana baru untuk mendorong ekosistem musik dengan menjadikan perpustakaan sebagai ruang latihan dan kesempatan berkarya yang lebih terbuka bagi masyarakat.

Dalam skema yang didukung kebijakan pemerintah, perpustakaan umum di berbagai wilayah akan berubah menjadi “music lending spaces”. Warga dapat memperoleh akses studio secara gratis sekaligus peluang tampil di ruang-ruang pertunjukan yang disiapkan dalam program tersebut.

Program ini terinspirasi dari kerja Ed Sheeran melalui yayasannya. Selama ini, inisiatif serupa di perpustakaan dan pusat-pusat pemuda telah didanai oleh Sheeran, termasuk penyediaan pinjaman alat musik bagi calon musisi.

Sheeran ikut memperjuangkan skema itu kepada Menteri Kebudayaan, Lisa Nandy, pada tahun lalu. Saat itu, mereka bertemu setelah berkunjung ke Brighten The Corners, sebuah organisasi seni nirlaba di Ipswich.

Melalui kesepakatan yang kemudian ia dorong, Sheeran disebut telah mengamankan setidaknya £12,5 juta untuk program Music in Libraries. Dana tersebut—yang disusun bersama—akan dipakai untuk menghadirkan booth perekaman, mixing desk, serta peralatan lain yang dibutuhkan di perpustakaan-perpustakaan lokal.

Perpustakaan sebagai tempat yang terasa aman untuk berkarya

Guvna B, musisi sekaligus penyiar yang memulai kiprah dari gereja setempat, menilai program ini dapat menjadi kunci bagi musisi dari latar belakang kurang mampu. Menurutnya, perpustakaan adalah tempat yang sudah familiar bagi anak muda sehingga suasananya lebih terasa aman.

“Jika Anda melihat perpustakaan, itu adalah tempat yang anak muda sudah kenal,” katanya. “Mereka merasa aman di sana, dan mereka akan merasa bebas untuk menciptakan karya yang baik dalam lingkungan yang nyaman bagi mereka.”

Guvna B—yang juga menjabat co-chair di charity Youth Music—menekankan bahwa akses terhadap musik memiliki peran dalam upaya menanggulangi meningkatnya masalah kesehatan mental pada kalangan muda.

Ia mengatakan, “Hal yang sering diremehkan dari musik adalah betapa musik membantu orang menghadapi situasi sulit dalam hidup dan mengekspresikan diri. Anda tidak harus semua menjadi artis yang membawakan konser di O2 Arena atau Wembley Stadium.”

Ia menambahkan, “Kadang-kadang cukup bagi seorang anak di kamar di Scunthorpe untuk mengambil gitar dan mengekspresikan diri. Dampak yang itu berikan pada pikiran anak muda tidak ada bandingnya.”

Model dari Ipswich, dengan rencana pengembangan lebih luas

Setelah kunjungan ke Ipswich pada tahun lalu, Lisa Nandy menggambarkan kota tersebut sebagai “model” bagi musisi muda yang akan datang. Ia menyebut ada “sebuah ekosistem penuh” yang dibangun untuk merawat talenta baru.

Pemerintah berharap pendekatan serupa bisa direplikasi di tempat lain. Rencana musik yang disiapkan juga menargetkan tersedianya mentoring bagi seniman maupun promotor, sekaligus memotong birokrasi yang berlebihan bagi festival musik dan venue-venue kecil.

Pemerintah juga mengalokasikan tambahan £15 juta untuk Music Growth Package yang sudah ada sebelumnya. Paket ini ditujukan agar talenta yang sedang berkembang dapat menembus panggung, baik di dalam negeri maupun di tingkat internasional.

Selain itu, pemerintah menyatakan akan melonggarkan pembatasan perizinan untuk acara musik. Pemerintah juga berencana memberi kontrak yang lebih panjang kepada festival agar keberlangsungan kegiatan mereka lebih aman dari tahun ke tahun.

Dalam pernyataannya, Nandy menempatkan perubahan ini sebagai upaya membuat industri musik bernilai £8 miliar menjadi lebih mudah diakses. Ia mengutip, “Seperti lirik lagu yang berbunyi: ‘Setiap generasi mengangkat seorang pahlawan ke tangga lagu pop.’ Tapi pop sekarang terlihat makin eksklusif, dan itu harus berubah.”

Ia melanjutkan, “Kami percaya musik itu milik semua orang, bukan hanya bagi segelintir yang beruntung.”

Dukungan tambahan untuk musik akar rumput

Secara terpisah, LIVE Trust mengumumkan tambahan pendanaan sebesar £1 juta untuk mendukung musik live tingkat akar rumput di Inggris. Dana itu dihimpun melalui kontribusi sejumlah artis seperti Sam Fender, Wolf Alice, dan Harry Styles.

Harry Styles, misalnya, disebut menyumbang £1 dari setiap tiket yang terjual di tur terbarunya. Targetnya adalah membantu bintang-bintang yang sedang naik daun serta venue-venue yang menjadi tempat awal mereka tampil.

Sejak dibentuk pada Januari 2025, trust tersebut disebut telah mendukung lebih dari 100 seniman, venue, dan promotor. Salah satu penerima manfaat adalah penyanyi folk dari Sheffield, Jim Ghedi, yang bisa membawa tur untuk album 2025-nya, Wasteland, kepada audiens yang lebih luas.

Jim Ghedi mengatakan, “Pendanaan ini memberi dampak besar. Ini memungkinkan saya membawa seluruh band ikut tampil sebagai formasi empat orang, serta menutup biaya akomodasi dan perjalanan tanpa harus mengorbankan jumlah uang yang signifikan.”

Ia menambahkan, “Itu juga memungkinkan saya membuat dua pertunjukan di Cornwall, yang sebetulnya tidak akan mungkin dilakukan tanpa dukungan ini, karena biaya perjalanan membuat rencana itu jadi tidak masuk akal.”

Pendanaan tersebut muncul ketika panggung musik akar rumput makin mendapat tekanan. Dalam laporan rata-rata, tiga klub malam tutup setiap minggu. Lebih dari separuh venue musik kecil juga dikatakan tidak memperoleh keuntungan.

Gus Unger-Hamilton dari Alt-J—yang juga merupakan direktur Featured Artists Coalition—menyebut dukungan seperti LIVE Trust adalah langkah yang patut ditempuh. Ia menilai ekosistem sedang kesulitan, terutama karena jarak yang makin lebar antara tur di level stadion dan arena dibanding tur di tingkat akar rumput.

Ia mengatakan, “Masalahnya sekarang terlihat semakin jelas jurang yang melebar antara tur stadion dan arena dengan tur akar rumput. Tiket konser makin mahal—sering kali di atas £100 untuk kursi yang tergolong rata-rata untuk menonton bintang pop—dan akibatnya orang punya lebih sedikit uang untuk pergi menikmati musik live.”

Unger-Hamilton menambahkan bahwa kondisi ini membuat scene yang lebih kecil mengecil, karena uang lebih banyak mengalir ke pertunjukan besar di arena. Namun ia melihat sisi positif ketika artis yang bermain di konser besar ikut mendukung akar rumput, yakni tempat mereka semua berasal.

“Ini benar-benar hal yang bagus,” ujarnya. “Ketika artis yang tampil di panggung besar bisa ikut mendukung akar rumput, yaitu tempat mereka semua memulai. Itu membuat ekosistem menjadi lebih sehat.”

Respons industri musik terhadap rencana pemerintah

Menanggapi pembaruan rencana musik dari pemerintah, pihak industri musik menyatakan “sangat bersemangat” untuk bekerja dengan menteri guna memperbaiki akses serta peluang bagi musisi muda.

Tom Kiehl, CEO UK Music, menyatakan bahwa “selalu ada lebih banyak yang bisa dilakukan”. Ia menyoroti sejumlah area seperti kecerdasan buatan serta tur di kawasan Uni Eropa, selain juga pendidikan musik, yang perlu ditingkatkan.

Meski demikian, Kiehl menilai rencana baru itu memberi “fondasi yang kuat” bagi industri musik dan pemerintah untuk bekerja bersama menghadapi tantangan-tantangan tersebut.