jurnalistik.co.id – Asosiasi dokter gigi di Irlandia Utara memperingatkan adanya konsultasi “pop-up” layanan gigi di hotel yang dinilai tidak mengikuti aturan pendaftaran. Menurut British Dental Association (BDA), pemeriksaan pada mulut pasien dalam acara seperti itu dapat masuk kategori “practice of dentistry”, sehingga berpotensi menjadi “illegal practice” bila pihak penyelenggara maupun tempatnya tidak terdaftar pada regulator yang tepat.
Paul Brennan, ketua cabang Irlandia Utara dari BDA, menyatakan ia “deeply concerned” terhadap praktik konsultasi wisata gigi ilegal yang digelar di hotel-hotel. Ia mengatakan pasien kerap menjalani pemeriksaan di lokasi acara, padahal penyelenggara dan venue tidak didaftarkan dengan benar di bawah otoritas pengawas.
BDA menegaskan bahwa bila “dentistry occurs” sementara hotel dan dokter gigi yang terlibat tidak terdaftar pada regulator mereka, kondisi itu dapat berujung pada “illegal practice”. Di bawah ketentuan yang disebutkan BDA, siapa pun yang menjalankan praktik kedokteran gigi di Inggris harus terdaftar pada General Dental Council (GDC), dan setiap tempat di mana praktik tersebut terjadi wajib terdaftar pada Regulation and Quality Improvement Authority (RQIA).
Aturan pendaftaran dan respons regulator
RQIA menyatakan pihaknya menerima intelijen mengenai 21 “unregistered entities” yang mengorganisasi acara konsultasi sejak Oktober 2023. RQIA juga menyebutkan bahwa ketika timbul kekhawatiran terkait promosi atau penyediaan perawatan untuk “dental tourism” di Irlandia Utara, surat “cease and desist letters” dikirim kepada “the overseas dental practice involved”, bukan kepada hotel yang menjadi tuan rumah acara.
Dalam konteks itu, dua acara yang dijadwalkan berlangsung di Belfast disebut batal setelah penelusuran BBC News NI. Pembatalan tersebut terjadi baik dari pihak penyedia luar negeri maupun dari pihak hotel, setelah adanya pemeriksaan lebih lanjut terkait legalitas acara.
Paul Brennan menyebut jumlah acara pop-up yang tidak sesuai ketentuan cenderung “increasing”. Ia menambahkan bahwa pelanggaran tersebut terjadi terutama di Londonderry dan Belfast, serta menyoroti bahwa banyak pengelola hotel “not aware” bahwa apa yang terjadi di hotel mereka sebenarnya merupakan praktik kedokteran gigi dan karena itu dapat bersifat ilegal.
“We had a positive engagement with the Hotels Federation,” kata Brennan. Ia menambahkan bahwa Federasi Hotel tampak tertarik untuk melindungi anggotanya dan “They obviously don’t want illegal activity to be occurring in their members’ hotels.”
Leonardo Hotel di Belfast—yang membatalkan salah satu acara yang akan datang—menjelaskan bahwa pemesanan awalnya “initially met our requirements based on the information provided”. Namun, “Following further assessment and consideration, we have decided to cancel,” dan hotel menyampaikan bahwa tim mereka memastikan ruang pertemuan hanya digunakan sesuai tujuan yang semestinya.
Berita Terkait
Pihak penyedia lain, Smiles Turkey, mengatakan ia membatalkan acara terpisah di Belfast setelah “concerns were expressed about its legality”. Dalam pernyataannya, mereka menyebut adanya “misunderstanding” dan mengatakan niatnya adalah mengadakan “a non-clinical commercial and information event”.
Smiles Turkey juga menyatakan bahwa “Our sales representatives were not going to conduct physical or intra-oral examinations of patients’ mouths, teeth or gums.” Perusahaan menegaskan, “Cancellation should not be interpreted as an admission that the event was unlawful,” setelah acara dibatalkan.
Sementara itu, Ramada Hotel yang menjadi lokasi acara pop-up—yang rencananya akan berlangsung—tidak dapat merespons permintaan komentar. Namun, BDA menilai konsultasi pop-up kerap “go beyond merely the marketing of overseas dental services”, sehingga melampaui sekadar promosi layanan.
Brennan, yang juga berpraktik sebagai dokter gigi di Strabane, mengatakan ia pernah menghadiri satu acara seperti itu dan mendapatkan giginya diperiksa. Ia menjelaskan, “Once you examine a patient’s mouth, that’s dentistry,” seraya menambahkan, “You don’t have to do anything on them apart from an examination.” Menurutnya, ketika seseorang melihat kondisi mulut dan memberi arahan seperti “I think you need x, y and z, is dentistry.”
Ia juga menyoroti bahwa banyak dokter gigi yang melakukan pemeriksaan “coming from abroad” dan tidak terdaftar di Inggris. “They may be registered in their own countries, but they’re often not registered here, so they’re actually carrying out dentistry illegally,” kata Brennan.
Dampak pada pasien dan keterbatasan regulasi
BDA menambahkan bahwa lebih banyak pasien di Irlandia Utara kemudian datang dengan “serious dental complications” setelah menerima perawatan gigi di luar negeri. Kerap kali, kata BDA, kondisi itu “typically followed an initial dental consultation advertised and held in a Northern Ireland venue.”
Dalam pandangan BDA, rezim pengawasan di Irlandia Utara “falling short” karena “inability to regulate certain premises where the practice of dentistry is being carried out” oleh pihak-pihak yang tidak memenuhi pendaftaran. Dari sisi Departemen Kesehatan, disebutkan RQIA mungkin mengumpulkan intelijen terkait klinik konsultasi pop-up, tetapi tidak memiliki kewenangan legislatif untuk menuntut secara hukum.
Kewenangan penegakan hukum, menurut penjelasan tersebut, berada pada General Dental Council. Juru bicara RQIA mengatakan mereka dapat “write to the organiser to advise them that holding a dental consultation in Northern Ireland may be considered to be the provision of private dental care and treatment”. RQIA menambahkan bahwa penyelenggara “is advised that such services are required under the legislation to register with RQIA”, dan memberikan layanan “without being registered with RQIA, is an offence”.
GDC juga menyatakan telah “sent out cease and desist letters to a number of companies in Northern Ireland” serta menulis kepada “a number of hotels to make them aware of their responsibilities under the law”. GDC menegaskan ini “is a precautionary step, not enforcement action, and doesn’t suggest any wrongdoing on the part of the venues themselves”.












