jurnalistik.co.id – Budapest akan menggelar kompetisi atletik kelas dunia selama tiga hari, mulai Jumat (11 September) hingga Minggu (13 September). Ini menjadi penyelenggaraan perdana yang didesain untuk menghadirkan puncak baru di luar dua ajang besar tahunan yang selama ini mendominasi perhatian publik.
World Athletics memperkenalkan The World Athletics Ultimate Championship sebagai ajang yang mempertemukan para atlet terbaik untuk memperebutkan gelar serta hadiah yang sangat besar. Selama tiga malam kompetisi, pertarungan akan berlangsung dalam format yang lebih ringkas dibanding kejuaraan-kejuaraan tradisional.
Mengapa Ultimate Championship hadir?
Masalah yang lama dihadapi atletik adalah menjaga momentum dan kegembiraan yang biasanya muncul pada Olimpiade sepanjang siklus empat tahunan. Setelah gangguan pandemi dan penundaan Olimpiade Tokyo 2020, beberapa tahun terakhir menghadirkan peristiwa puncak yang mengumpulkan bintang-bintang utama, tetapi polanya tidak selalu memberi “titik akhir” yang sama seperti sebelumnya.
Presiden World Athletics, Sebastian Coe, menyatakan ajang ini dirancang sebagai ruang eksperimen. Ia mengungkapkan, “It is an attempt to just start experimenting a bit and innovating, with an event that will determine who really is the best of the best,” dan menambahkan bahwa tidak ada jaminan semuanya langsung berjalan sempurna. Coe juga menuturkan, “I also want to be able to put some of the things we’re doing into the World Championship format. We have a responsibility to try and engage new young audiences.”
Format kompetisi dan nomor yang dipertandingkan
Ultimate Championship dijadwalkan berlangsung sebagai serangkaian sesi tiga jam selama tiga malam. Gelar kompetisi ini diperebutkan oleh para juara Olimpiade, juara dunia, dan juara Diamond League yang sedang berlaku, serta atlet yang lolos melalui peringkat dunia.
Meski begitu, sejumlah undangan khusus juga diberikan kepada atlet yang tidak memenuhi kualifikasi biasa. Di nomor putra 1500 meter, undangan itu mencakup Josh Kerr (Inggris) dan rivalnya dari Norwegia, Jakob Ingebrigtsen.
Secara keseluruhan ada 28 final. Untuk nomor lompat, lempar, serta 1500 meter dan 5.000 meter, dipilih format final langsung. Sementara itu, nomor 800 meter dan jarak yang lebih pendek akan memakai babak semifinal.
World Athletics tidak memasukkan semua disiplin. Keputusan tersebut disebut diambil berdasarkan popularitas tiap nomor dan data perilaku penonton, termasuk respons keringat dan detak nadi. Akibatnya, nomor seperti 3.000m steeplechase dan 10.000m, serta nomor lempar seperti shot put dan discus tidak ikut dipertandingkan.
Hadiah total $10 juta
World Athletics menyiapkan “the richest prize pot in the history of the sport” dengan total dana sebesar $10 juta (£7.4 juta). Untuk setiap nomor, juara memperoleh $150.000 (£110.000), runner-up mendapat $75.000 (£55.000), dan peraih peringkat ketiga menerima $40.000 (£29.500).
Inovasi yang dibawa untuk penonton dan atlet
Untuk edisi perdana, penyelenggara memperkenalkan sejumlah pembaruan. Sehari sebelum hari pertandingan, akan ada red carpet untuk atlet, sekaligus media day yang memuat konferensi pers dan sesi foto.
Pada nomor 200 meter, ada mekanisme lane draft. Atlet yang berlaga akan memilih heat semifinal dan lajur pilihan mereka mengikuti urutan peringkat dunia.
Berita Terkait
Berbeda dari kebanyakan kejuaraan atletik, ajang ini tidak memakai sistem medali. Hanya juara Ultimate yang akan menerima trofi, yang disiapkan di atas plinth untuk dikoleksi setelah pertandingan selesai.
Penyelenggara juga menyiapkan pengalaman siaran yang lebih interaktif melalui augmented reality, headshot atlet, win probabilities, serta proyeksi posisi finis. Dari sisi hiburan, Armand Duplantis akan membawakan lagu resmi kejuaraan, sedangkan Noah Lyles—yang disebut “ruled out by injury”—akan bertindak sebagai host. Setelah tiap sesi, akan ada wawancara bergaya “centre-court”.
Di venue, area infield berwarna hitam disebut didesain untuk mengarahkan fokus penonton pada aksi yang sedang berlangsung, dengan kompetisi utama disorot melalui kontras visual.
Siapa saja yang tampil?
Inggris mengonfirmasi skuad 22 atlet untuk kejuaraan ini, termasuk Keely Hodgkinson yang merupakan juara Olimpiade nomor 800 meter. Hodgkinson akan bertemu lagi dengan Audrey Werro dan Femke Broeders-Bom di nomor 800 meter putri, setelah pada Agustus ia merebut perak Eropa di belakang Werro.
Georgia Hunter Bell, partner latihan Hodgkinson, tampil di 1500 meter untuk mengejar gelar mayor keempatnya pada 2026 setelah pengalaman sukses di Eropa, Commonwealth Games, dan kejuaraan dunia indoor.
Amy Hunt, yang setelah meraih empat gelar Eropa, akan berkompetisi menghadapi para juara dunia seperti Julien Alfred, Melissa Jefferson-Wooden, dan Gabby Thomas pada nomor 100 meter dan 200 meter. Jadwal juga memasukkan nomor estafet campuran 4×100 meter.
Di nomor putra, Romell Glave dan Jeremiah Azu tampil di 100 meter bersama juara dunia Oblique Seville, sementara Matthew Hudson-Smith akan berlaga di 400 meter setelah kemenangan di Birmingham. Untuk duel 1500 meter putra, Josh Kerr—pemegang rekor dunia mile sekaligus juara dunia pada 2023—akan berpasangan dengan Jake Wightman yang menjadi juara dunia 2022. Laga itu dikemas sebagai “stacked” dengan kehadiran Ingebrigtsen, juara Olimpiade Cole Hocker, dan juara dunia Isaac Nader.
Ingebrigtsen juga tercatat di 5.000 meter. Ia disebut kembali dari cedera jangka panjang untuk meraih emas Eropa pada nomor tersebut bulan lalu.
Respon atlet: antusias sekaligus kritik
Sejumlah nama besar menyatakan dukungan terhadap kehadiran event global baru ini. Duplantis, yang ditunjuk sebagai “Ultimate Star” edisi perdana pada musim panas lalu, berkolaborasi menyusun anthem resmi kejuaraan, berjudul “Gold” yang ia tulis dan nyanyikan.
Duplantis mengatakan, “It’s super exciting. I think it was time to try something new and innovate within athletics,” lalu menambahkan, “It’s tough for athletes when we have years without a championship. I think this fills the gap perfectly, you want to have some sort of climax to build towards.”
Menjelang start pertamanya melawan rivalnya Ingebrigtsen setelah dua tahun, Kerr menilai kenaikan besar prize money menunjukkan keseriusan World Athletics. Ia menuturkan, “If that’s what they’re willing to put forward in prize money, it means that they’re willing to put that effort into marketing and media,” dan juga menyebut respons dari luar mungkin beragam: “probably going to be some confusion from the outside world about what this is”. Kerr mengakhiri penilaiannya dengan, “We’re seeing progress. Obviously, $150,000 is a lot of money. It’s not as much as other big sports, but they’ve earned that through years of pushing their marketing.”
Namun, tidak semua pihak yakin. Karsten Warholm, bintang nomor gawang, mengkhawatirkan dampak terhadap kalender. Ia menggambarkan jadwal akhir musim sebagai “chaos” dan menilai Diamond League perlu dibina lebih lama: “I think the Diamond League is a fantastic concept that should be cultivated. It will take a long time before people understand what an Ultimate Champion is.” Warholm juga menyoroti aspek penceritaan: “It’s pretty much the same athletes who participate but there could be two different winners at the Diamond League final and the Ultimate Championship. In terms of storytelling, it’s going to be difficult. I don’t think even athletics people are keeping up.”
Ketidaksukaan juga muncul dari keputusan mengecualikan beberapa atlet dan nomor. Pedro Pichardo merespons di media sosial dengan mengatakan, “I really don’t understand what your problem is, and even less so making this decision without any explanation. This isn’t track and field and it’s not good for our sport.” Sementara itu, juara dunia shot put, Chase Jackson, berkomentar kepada Citius Mag, “My body is saying ‘yes’ but my pockets are saying ‘why the hell am I not at the Ultimate?’” Ia kemudian menambahkan, “How [do] you have track and field and just skip events? How does that make any sense?”
Pada akhirnya, edisi perdana Ultimate Championship akan menjadi uji coba besar bagi format baru atletik—apakah mampu menjadi “climax” yang lebih jelas bagi penggemar dan pemain, sambil tetap mempertimbangkan bagaimana kalender olahraga, pilihan nomor, dan penerimaan publik akan membentuk masa depannya.












