jurnalistik.co.id – Rasa manis pada buah tidak muncul begitu saja saat buah matang. Perubahan di tingkat kandungan karbohidrat selama proses pematangan berperan besar terhadap bagaimana buah terasa di lidah.
Menurut Prof. Antonius Suwanto, Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, buah yang masih mengkal cenderung memiliki karbohidrat dalam bentuk pati resisten. Ketika buah mulai matang, komposisinya bergeser menuju bentuk gula yang lebih sederhana.
Dalam penjelasan yang disampaikan Prof. Antonius melalui program Perspektif di YouTube IPB TV, pati kompleks di dalam buah mengalami perubahan selama pematangan. âSelama proses pematangan, pati kompleks di dalam buah akan berubah menjadi gula sederhana, seperti glukosa, fruktosa, dan sukrosa. Makanya, makin matang buahnya, makin tinggi juga kandungan gulanya dan rasanya jadi semakin manis,â ujar Prof. Antonius.
Proses ini menjelaskan mengapa tingkat kematangan berkaitan erat dengan persepsi rasa manis. Pati kompleks yang sebelumnya lebih dominan secara perlahan dipecah menjadi gula sederhana seperti glukosa, fruktosa, dan sukrosa.
Ketika tahapan pematangan berlanjut, kadar gula yang terbentuk umumnya meningkat. Akibatnya, rasa buah cenderung menjadi lebih manis dibandingkan saat buah masih mengkal.
Namun, kematangan buah bukan satu-satunya pertimbangan ketika memilih menu harian. Prof. Antonius menekankan bahwa buah matang tetap membawa manfaat bagi tubuh karena mengandung vitamin dan antioksidan.
Artinya, pilihan antara buah mengkal dan matang dapat disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi serta kondisi kesehatan masing-masing. Dengan pendekatan ini, tujuan mengatur asupan tetap bisa berjalan tanpa mengabaikan manfaat yang relevan dari buah itu sendiri.
Pada beberapa jenis buah, masyarakat juga mengenali preferensi terhadap tingkat kematangan tertentu. Prof. Antonius memberi contoh durian yang masih memiliki kulit keras, tetapi daging buahnya sudah lembut.
Pada kondisi seperti itu, kandungan gula durian relatif lebih rendah dibandingkan saat buah sudah benar-benar matang. Contoh ini menunjukkan bahwa âmatangâ dapat memiliki rentang karakteristik, dan efek rasa tidak selalu sama pada setiap tahap.
Bagi orang yang perlu membatasi asupan gula, buah mengkal sering dipilih sebagai opsi. Prof. Antonius menyebutkan bahwa buah mengkal memiliki kandungan fruktosa yang lebih rendah.
Berita Terkait
Meski demikian, memilih buah mengkal bukan berarti bebas dari pertimbangan jumlah konsumsi. Prof. Antonius menegaskan bahwa porsi tetap penting ketika mengonsumsi buah.
âKalau makan buah yang masak tetapi jumlahnya tidak terlalu banyak, mungkin masih oke dibandingkan makan buah yang setengah matang, tetapi jumlahnya banyak,â jelasnya. Dari pernyataan itu, terlihat bahwa tingkat kematangan bekerja bersama dengan ukuran porsi dalam menentukan dampak pada asupan gula.
Dengan kata lain, hubungan antara buah dan rasa manis tidak dapat dipahami hanya dari kematangan. Jumlah yang dikonsumsi tetap menjadi variabel yang menentukan agar asupan gula sesuai dengan kebutuhan tubuh.
Meski membahas rasa dan kandungan karbohidrat, Prof. Antonius juga mengingatkan tentang bentuk konsumsi yang lebih baik. Ia menyarankan buah dikonsumsi dalam bentuk utuh, baik saat buah masih mengkal maupun saat sudah matang.
Pertimbangan utamanya adalah serat alami yang tetap tersedia ketika buah dimakan utuh. Serat alami berperan sebagai makanan bagi bakteri baik yang berada di usus besar.
Bakteri baik tersebut membantu menjaga sistem imun. Selain itu, bakteri juga menghasilkan berbagai senyawa, termasuk vitamin dan hormon, yang berpengaruh terhadap kesehatan tubuh secara menyeluruh.
Dalam penjelasan Prof. Antonius, manfaat yang dibahas tidak berhenti pada aspek fisik. âKalau konsumsi buah, sebaiknya buah yang utuh karena buah utuh mengandung serat. Dua-duanya, baik buah mengkal maupun matang, tetap jauh lebih baik daripada ngemil junk food,â pungkasnya.
Dengan demikian, fokusnya bukan hanya pada berapa manis buah tersebut. Yang juga penting adalah bagaimana serat yang menyertai buah utuh turut mendukung kesehatan pencernaan dan sistem imun.
Jika Anda menimbang pilihan berdasarkan kebutuhan asupan, buah mengkal bisa menjadi alternatif karena fruktosa lebih rendah. Akan tetapi, tetap perhatikan porsi agar konsumsi gula tidak melampaui kebutuhan tubuh.
Sementara itu, buah yang lebih matang cenderung lebih manis karena pati kompleks berubah menjadi gula sederhana seperti glukosa, fruktosa, dan sukrosa. Meski begitu, manfaat gizi seperti vitamin dan antioksidan tetap dapat diperoleh selama konsumsi dilakukan secara wajar.
Pada akhirnya, cara paling seimbang adalah menyesuaikan jenis dan tingkat kematangan buah dengan kondisi pribadi. Lalu, konsumsi buah dalam bentuk utuh agar seratnya tetap hadir, sehingga manfaatnya lebih menyeluruh dibanding sekadar mengejar rasa.












