Olahraga

Fabregas Tepis Isu Hengkang dari Como, Bicara Soal Masa Depan

1
×

Fabregas Tepis Isu Hengkang dari Como, Bicara Soal Masa Depan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Tepis Isu Hengkang dari Como, Fabregas Bicara Masa Depan

jurnalistik.co.id – Cesc Fabregas menepis isu yang menyebut dirinya bakal hengkang dari Como. Setelah membawa klub asal Italia itu finis di posisi keempat klasemen akhir Liga Italia musim 2025-2026 dan memastikan tiket ke Liga Champions, mantan gelandang Barcelona, Chelsea, dan Arsenal itu menegaskan masih ingin bertahan dan melanjutkan proyek bersama tim.

Como 1907 sendiri merayakan pencapaian bersejarah itu dengan parade bus. Kemenangan telak 4-1 atas Cremonese pada pekan ke-38 Liga Italia, yang digelar di Stadion Giovani Zini, Kremona, pada Senin (25/5/2026) dini hari WIB, memastikan langkah I Lariani ke Liga Champions musim 2026-2027.

Hasil tersebut juga tidak lepas dari kegagalan dua pesaing Como dalam perebutan zona Liga Champions. AC Milan dan Juventus sama-sama tidak mampu meraih hasil yang dibutuhkan, sehingga Como berhak menutup musim di posisi keempat.

Dalam perayaan kelolosan itu, Fabregas mengaku sudah berbicara langsung dengan petinggi klub soal arah tim ke depan. Ia menegaskan pertemuan tersebut berjalan panjang dan membahas masa depannya di Como.

“Masa depan? Kami mengadakan pertemuan panjang pukul 2 siang dengan presiden dan direktur,” kata Fabregas.

Fabregas menambahkan bahwa pembicaraan itu menghasilkan kesepahaman soal visi klub untuk musim berikutnya. Ia juga menyebut dirinya merasa nyaman bekerja di Como dan masih terus belajar untuk berkembang sebagai pelatih.

“Kami telah memantapkan idenya; visinya sudah tertuju pada musim depan. Saya sangat senang di sini,” ujarnya.

“Seperti yang Anda tahu, saya masih perlu sedikit lagi untuk berkembang, dan saya banyak belajar. Kami sedang membangun mentalitas,” imbuh eks pemain Barcelona, Chelsea, dan Arsenal tersebut.

Fabregas juga menyoroti betapa cepatnya perkembangan Como dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, laju kemajuan klub itu memang mengejutkan sebagian pihak, tetapi semua itu lahir dari pekerjaan yang dilakukan secara bertahap dan konsisten.

Como 1907 memulai perjalanan mereka kembali berkompetisi di Serie D Liga Italia pada musim 2017-2018. Dua tahun kemudian, pada 2019, klub itu diakuisisi oleh Keluarga Hartono dan kemudian promosi ke Serie C. Setelah itu, Como kembali naik kelas ke Serie B pada 2021.

Tiga tahun berselang, pada 2024, Como akhirnya menembus Serie A. Pada musim pertama mereka di kasta tertinggi, yakni 2024-2025, Como langsung menutup kompetisi di posisi kesepuluh klasemen akhir. Karena itu, capaian menembus Liga Champions musim ini dinilai sebagai lompatan besar yang memperlihatkan progres cepat klub sekaligus peran penting Fabregas di ruang teknis.

“Pertumbuhan klub ini terlalu cepat; sejak kami memulainya, sudah dua setengah tahun kami terus meningkatkan ekspektasi,” kata Fabregas.

“Kami menyadari siapa kami; kami memiliki visi yang jelas. Sebuah mahakarya, tetapi mulai hari ini kami mulai mempersiapkan diri untuk musim yang sulit dan berbeda,” lanjutnya.

Dengan situasi tersebut, Fabregas tampak ingin menjaga momentum Como tanpa tergoda isu perpindahan ke klub lain. Baginya, musim depan justru menjadi tantangan baru yang menuntut kesiapan lebih besar, baik dari pemain maupun dari klub secara keseluruhan.

Di tengah sorotan atas capaian besar itu, Fabregas juga tampak menempatkan stabilitas sebagai prioritas utama. Ia ingin menjaga fondasi yang sudah dibangun agar tidak hilang begitu saja setelah musim bersejarah ini. Menurutnya, keberhasilan Como bukan sekadar hasil satu pertandingan, melainkan buah dari proses panjang yang harus terus dijaga dengan konsistensi, kerja sama, dan mental yang semakin matang.

Karena itu, pesan yang muncul dari Fabregas terbilang jelas: ia tidak ingin Como hanya menjadi cerita kejutan sesaat. Klub ini, dalam pandangannya, masih punya ruang untuk tumbuh dan menegaskan identitasnya di level yang lebih tinggi. Dengan semangat tersebut, musim baru akan menjadi ujian untuk membuktikan bahwa pencapaian ke Liga Champions bukan titik akhir, melainkan awal dari perjalanan yang lebih berat.