Olahraga

Setia di Lapangan: Bagaimana Pangeran Wales Menjadi Superfan Sepak Bola bagi Raja Masa Depan

×

Setia di Lapangan: Bagaimana Pangeran Wales Menjadi Superfan Sepak Bola bagi Raja Masa Depan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Loyal and royal: How the future King became a football superfan

jurnalistik.co.id – Kecintaan sepak bola bisa menjadi cara paling “dekat” bagi seorang Pangeran Wales memahami denyut publik yang akan ia pimpin kelak. William, yang kini dikenal sebagai Patron Asosiasi Sepak Bola Inggris, kerap memperlihatkan bahwa dukungannya bukan sekadar simbol.

Pada Senin pagi dini hari, ia tetap terjaga di Windsor untuk menyaksikan kemenangan penting Inggris atas Meksiko. Di Forest Lodge, rumah keluarga di area Windsor, ia menghadapi jeda yang membuat laga berjalan lebih lambat, suasana intens di Stadion Azteca, hingga momen menegangkan di akhir babak kedua ketika Inggris harus bertahan dengan 10 pemain.

Bukan pertandingan kebetulan baginya. William juga telah menonton laga-laga Inggris lainnya, seperti yang lazim dilakukan seorang Patron FA. Ia disebut memahami skema dan dinamika tim dengan baik, bahkan berkomunikasi langsung dengan pemain dan staf selama turnamen—termasuk kabar bahwa beberapa pemain Inggris menyimpan nomor telepon pribadinya.

Jika Inggris melaju hingga final Piala Dunia di New Jersey pada 19 Juli, William rencananya akan hadir sebagai wakil resmi FA serta menjalankan peran sebagai salah satu pendukung sepak bola paling fanatik di lingkungan keluarga kerajaan. Tidak ada figur senior yang menunjukkan kegairahan sepak bola dengan pola semacam ini, setidaknya sejauh yang terlihat selama ini.

Jejak dukungannya bahkan muncul di kanal media sosial resmi. Pada 20 Mei, akun-akun resminya “melonggarkan” format yang biasanya cenderung formal, dengan unggahan yang disertai seruan “UTV! VTID” serta ikon hati merah dan lengan berotot. Unggahan itu diterjemahkan sebagai “Up the Villa” dan “Villa Till I Die”.

Yang menarik, unggahan tersebut dipublikasikan dengan penanda huruf “W” yang mengisyaratkan keterlibatan langsung dari William. Post itu terbit hanya beberapa menit setelah Aston Villa menjuarai final Liga Europa dengan kemenangan meyakinkan 3-0 atas Freiburg dari Jerman. Bagi Villa, itu adalah gelar Eropa pertama dalam 44 tahun—momen yang kembali mengingatkan pada tahun 1982, ketika Pangeran William lahir.

William juga hadir di final tahun ini di Istanbul. Ia menonton bersama sekelompok teman dekat yang banyak berasal dari masa kecil, dengan kesamaan kecintaan pada Aston Villa. Di antara mereka disebut hadir Ben Dawes, Thomas van Straubenzee, dan Edward van Cutsem—nama yang dikenal sebagai pengunjung rutin pertandingan Villa dari waktu ke waktu.

Ia bukan datang begitu saja sebagai penggemar. Seorang teman keluarga disebut yang membujuknya untuk mendukung Aston Villa ketika masih remaja. Dari sinilah pola dukungan itu bertahan, bahkan ketika hidupnya masuk dalam agenda kerajaan yang padat.

Dalam rekaman liputan pertandingan, reaksinya saat setiap gol tercipta digambarkan berisi kegembiraan yang meledak-ledak. Para penggemar biasanya menyebutnya dengan istilah “limbs”: sorakan spontan, lompatan, dan pelukan tanpa banyak menahan emosi. Seusai laga, kapten klub John McGinn juga menyoroti sosok sang pendukung kerajaan itu.

McGinn menggambarkan William sebagai sosok yang “kelas” dan menyatakan bahwa ia sempat ada di ruang ganti sebelum pertandingan. Menurut McGinn, William adalah penggemar Villa yang besar, sehingga mustahil ia melewatkan momen tersebut—serta sangat menyenangkan bahwa dukungannya bisa hadir langsung.

Di sisi lain, pertemuannya dengan komunitas penggemar juga memperkuat kredibilitasnya. Pada malam yang sama, Mat Kendrick dan Dan Rolinson—dua pembawa podcast “Claret and Blue” yang berfokus pada kecintaan Aston Villa—berada di beberapa baris kursi dari William. Ternyata, ia menjadi pendengar rutin podcast mereka.

William disebut menyukai “good nonsense” ala podcast tersebut dan menyampaikan keinginan untuk tampil di masa depan. Kendrick kemudian menekankan bahwa ini memberi kebanggaan tersendiri bagi fans: bukan sekadar perhatian yang bersifat token, melainkan hadirnya “raja masa depan” yang benar-benar memahami budaya dukungan.

Dalam percakapan yang sama, Kendrick juga menyebut situasi unik yang membuat posisi William terasa berbeda: sebagai figur masa depan yang akan memimpin Inggris, sekaligus ada nama besar lain seperti aktor Tom Hanks yang ikut menyertai konteks dukungan publik. Intinya, bagi fans, ini adalah bagian dari cerita yang mereka banggakan—karena tidak terasa dibuat-buat.

Sepanjang waktu, keluarga kerajaan dikenal menyukai olahraga. Namun, sepak bola belum pernah menjadi “main thing” di kalangan anggota senior. Belakangan, William justru tampil dalam podcast Amerika “New Heights”, yang dipandu pemain NFL Travis Kelce—yang juga merupakan suami Taylor Swift—beserta saudara Jason (pemain yang telah pensiun). Dalam acara itu, ketika ditanya apakah ayahnya mendorongnya mendukung Aston Villa, William menjawab tegas: “Absolutely not. My father hates football.”

Pernyataan tersebut seolah menegaskan bahwa dukungan Villa lahir dari pilihan pribadi, bukan warisan kebiasaan di rumah. Berbeda dengan tradisi olahraga kerajaan yang selama ini lebih dekat pada cabang lain, terutama bagi generasi terdahulu.

Untuk Ratu Elizabeth II, olahraga yang paling melekat adalah pacuan kuda. Ia dikenal sebagai pemilik serta pembiak kuda pacu dan merupakan penggemar balap. Dalam banyak kesempatan, ia menampilkan sisi yang lebih pribadi saat menonton perlombaan, termasuk pada 2013 ketika ia menjadi penguasa pertama dalam 207 tahun yang memiliki pemenang Gold Cup di Royal Ascot. Kegembiraannya yang terlihat jelas saat kemenangan menjadi momen langka dari emosinya yang biasanya terjaga.

Sementara itu, bagi Putri Wales, olahraga yang menjadi identitas kuat adalah tenis. Ia menjabat sebagai Patron All England Lawn Tennis Club dan dikenal sebagai wajah yang rutin hadir di Wimbledon, bahkan akan menyerahkan piala kepada para pemenang pada akhir pekan ini.

Adapun polo, yang sering disebut lebih elitis, juga pernah menjadi bagian dari cerita masa muda Raja ketika masih lebih muda. Cabang ini turut digemari oleh putra-putranya—William dan Harry—yang diketahui memainkan polo secara teratur.

Namun, di tengah semua cabang tersebut, sepak bola muncul sebagai kejutan yang berbeda. Pada hari Jumat, William disebut akan kembali ke arena polo amal. Pertandingan itu telah menjadi salah satu fundraiser penting untuk berbagai amal yang ia dukung selama bertahun-tahun. Tetap, di antara senior keluarga kerajaan, belum pernah ada figur yang memperlihatkan status “superfan” sepak bola dengan gaya konsisten seperti yang kini ditampilkan William.

Dalam sebuah negara yang memiliki salah satu liga profesional terbaik di dunia, momen Piala Dunia saja dapat membuat jutaan penonton terjaga sepanjang malam demi menyaksikan Inggris. Di konteks inilah kecintaan William pada sepak bola memberi hubungan yang cepat dan langsung dengan publik—tanpa harus menunggu jarak sosial yang kerap mengiringi persepsi terhadap kerajaan.

Keputusannya mendukung Aston Villa saat remaja turut berperan membuat dirinya lebih mudah “dirasakan”. Menurut Gregg Evans—penulis The Athletic dan co-author buku Waking the Giant, Inside the Rebirth of Aston Villa—menghindari klub-klub dengan merek global besar seperti Manchester United, Liverpool, Arsenal, maupun Chelsea membuat William terlihat lebih relatable.

Kisah ini juga bersinggungan dengan kebutuhan berbagi emosi yang sama. Saat publik menilai ulang citra kerajaan beberapa bulan belakangan, kecintaan pada sepak bola menawarkan cara yang berbeda untuk menyamakan pengalaman—ikut merasakan penderitaan dan kegembiraan yang dialami fans pada pertandingan yang sama.

Mat Kendrick dari podcast Claret and Blue juga menyoroti bahwa dukungan Villa bukan sesuatu yang sejak awal dirancang untuk “pencitraan”. Ia menyebut bahwa pada usia 13 atau 14 tahun, William tidak mungkin memikirkan bahwa kelak ia akan membuktikan dirinya sebagai “orang-orang” dengan cara mendukung Aston Villa ketika menjadi raja 30 atau 40 tahun mendatang.

Bagi Kendrick, pertanyaan berikutnya adalah apakah ketokohan itu akan mengubah ekspresi dukungan. Ia berharap tidak. Baginya, ketika William kelak menjabat, ia tetap dapat menunjukkan warna “claret and blue” dengan cara yang sama, responsif terhadap orang-orang seperti sekarang. “Bragging rights”-nya pun akan menjadi salah satu yang paling besar: saat Inggris meraih Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam 60 tahun—sebagai raja masa depan, Patron FA, dan penggemar sepak bola yang berdedikasi.