Olahraga

Piala Dunia Kurang Bergema di New York, Warga Bahkan Tak Tahu Liga Champions

0
×

Piala Dunia Kurang Bergema di New York, Warga Bahkan Tak Tahu Liga Champions

Sebarkan artikel ini
Piala Dunia Redup di New York, Warga Bahkan Tak Tahu Liga Champions Global 13 Juni 2026
Ilustrasi: Piala Dunia Redup di New York, Warga Bahkan Tak Tahu Liga Champions

jurnalistik.co.id – Euforia olahraga yang menyelimuti New York ternyata lebih kuat daripada perhatian publik terhadap Piala Dunia 2026 yang sedang berlangsung di Amerika Serikat. Di tengah momentum akhir pekan ini, warga setempat justru lebih terfokus pada NBA, khususnya Final NBA yang memasuki laga kelima.

Final NBA mempertemukan New York Knicks melawan San Antonio Spurs, dan pertandingan kelima dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 13/6/2026. Bagi banyak orang di “The Big Apple”, laga ini membawa harapan besar karena Knicks menantikan gelar juara pertama setelah penantian 53 tahun.

Dominasi basket itu terlihat dari cara suasana kota dibaca dan direspons. Bahkan saat Piala Dunia 2026 berjalan, fokus percakapan dan antusiasme publik tidak bergeser dari Knicks, yang saat ini memimpin seri Final NBA dengan keunggulan 3-1 atas Spurs.

Jika Knicks berhasil memenangkan gim kelima yang digelar di Texas, mereka dipastikan mengunci gelar juara. Atmosfer kemenangan itu juga terasa menguat di sudut-sudut kota, seakan warna kebesaran Knicks lebih menonjol dibandingkan pernak-pernik sepak bola yang terkait Piala Dunia.

Ratusan ribu penggemar diperkirakan akan membanjiri pusat kota demi mengawal momen bersejarah tersebut. Robert Chen, aktor berusia 32 tahun, mengatakan kepada AFP saat ditemui di dekat zona suporter (fan zone) FIFA di Jembatan Brooklyn bahwa ia tetap memprioritaskan Knicks.

“(Piala Dunia) akan menyenangkan… Tetapi saat ini, saya warga New York, jadi kami mendukung Knicks, bola basket! Mari raih kemenangan ini. Dan setelah itu, kita bisa memikirkan Piala Dunia,” ujar Robert Chen.

Senada dengan Chen, Angel Diaz (42) juga menggambarkan antusiasme warga yang sedang memuncak. Diaz, yang berprofesi sebagai pedagang kaki lima sekaligus pendukung berat Knicks asal Queens, menilai kegembiraan itu seperti menyebar dengan cepat.

“Semua orang sangat menginginkan kemenangan ini, dan kegembiraan terasa di udara… Itu menular,” kata Diaz. “Kita harus fokus pada satu hal dalam satu waktu, dan kita akan fokus pada Knicks dulu, lalu kita kembali ke Piala Dunia,” tambahnya.

Dominasi bola basket atas sepak bola di kota ini juga diakui Lucas Matuszewski (24), manajer Socceroof, arena sepak bola futsal di kawasan industri Brooklyn. Menurutnya, Knicks terlalu “bersinar” dibanding Piala Dunia, sehingga sulit bagi antusiasme sepak bola menyamai arus yang sudah mengakar.

“Jelas Knicks, sebagaimana mestinya, terlalu bersinar di atas Piala Dunia. Sulit untuk bersaing dengan organisasi yang begitu mengakar seperti Knicks. Bola basket sangat dicintai di New York City,” ungkap Matuszewski, di tengah keriuhan anak-anak yang sedang bermain sepak bola di lapangan rumput sintetis tempatnya bekerja.

Kontrasnya, atmosfer Piala Dunia di New York justru dinilai masih dingin. Laga Brasil vs Maroko disebut tenggelam di bawah bayang-bayang dominasi Knicks, sehingga perhatian publik tidak mengalir sebagaimana yang umumnya diharapkan dari sebuah turnamen sebesar Piala Dunia.

Di ruang publik lain, tanda-tanda pergeseran minat itu juga tampak. Di bursa saham Wall Street, alih-alih pernak-pernik sepak bola, para pedagang justru ramai menjajakan kaos juara Knicks, mengikuti gelombang yang lebih dekat dengan identitas kota.

Meski begitu, klaim soal kurang bergemarnya Piala Dunia di New York tetap mengemuka dalam pemberitaan ini, termasuk bahwa warga bahkan tak tahu Liga Champions. Gambaran tersebut memperlihatkan benturan perhatian antara dua jenis ekosistem olahraga yang sama-sama hidup di Amerika Serikat, namun tidak selalu mendapat ruang yang setara di kota yang sama.