Bisnis & Ekonomi

FORE Mengisyaratkan Dividen, Realisasi Tunggu Saldo Laba Ditahan Positif

×

FORE Mengisyaratkan Dividen, Realisasi Tunggu Saldo Laba Ditahan Positif

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Bos Fore Coffee (FORE) Beri Sinyal Tebar Dividen ke Investor

jurnalistik.co.id – PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE) memberi sinyal akan membagikan dividen kepada pemegang saham. Namun, realisasi kebijakan tersebut masih bergantung pada kondisi saldo laba ditahan perusahaan yang harus kembali mencatatkan nilai positif.

Direktur of Strategy and Corporate Development Fore Kopi Indonesia, M. Fahmi Rachmatullah, menyampaikan bahwa pembahasan pembagian dividen akan dilakukan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Pelaksanaan rencana itu menunggu terpenuhinya persyaratan terkait saldo laba ditahan.

Fahmi menjelaskan, saat ini perseroan belum membagikan dividen karena secara akuntansi masih memiliki saldo laba ditahan yang negatif. Kondisi tersebut, menurutnya, membuat perseroan belum bisa mengeksekusi rencana distribusi keuntungan kepada pemegang saham.

“Karena hari ini retained earning kami masih negatif, kami belum bisa melakukan pembagian dividen sampai retained earning positif dulu,” ujar Fahmi saat ditemui di Jakarta Selatan, Rabu (5/8/2026).

Saldo laba ditahan atau retained earnings pada dasarnya merupakan akumulasi keuntungan yang tidak dibagikan dan dipertahankan untuk memperkuat modal maupun membiayai ekspansi. Ketika angka retained earnings masih berada di wilayah negatif, perusahaan perlu menutup akumulasi rugi terlebih dahulu sebelum kebijakan dividen dapat dijalankan.

Dividen menunggu saldo laba ditahan berbalik positif

Dengan pertimbangan tersebut, perseroan menempatkan RUPS sebagai forum penentuan kebijakan lanjutan setelah prasyarat terpenuhi. Fahmi menegaskan bahwa komunikasi terkait sinyal dividen sudah disampaikan, tetapi timing pembagian dividen tetap mengikuti pemulihan nilai saldo laba ditahan.

Meski dividen belum dapat direalisasikan, perusahaan menyatakan kinerja operasionalnya terus bertumbuh. Dalam laporan kinerja semester I 2026, perseroan mencatat adanya peningkatan penjualan, laba, dan penguatan arah ekspansi gerai.

FORE mencatat penjualan bersih lebih dari Rp 1 triliun pada semester I 2026. Angka tersebut naik 51,72% secara tahunan dibanding periode yang sama tahun lalu, yakni dari Rp 662,3 miliar.

Fahmi menilai capaian di paruh pertama tahun ini masih sesuai dengan target yang ditetapkan manajemen. “Itu kita kemarin revenue-nya itu udah lebih dari Rp 1 triliun untuk di H1 (semester I-2026) ini. Artinya ke target yang kita share, kita udah pernah share targetnya, itu kita on track,” paparnya.

Ekspansi gerai dan komposisi penjualan

Searah dengan pertumbuhan pendapatan, FORE juga mempertahankan rencana ekspansi fisik melalui jaringan gerai. Perseroan membidik lebih dari 400 gerai Fore Coffee beroperasi di seluruh Indonesia hingga akhir 2026.

Untuk komposisi penjualan, segmen minuman disebut menjadi kontributor terbesar hingga 30 Juni 2026. Penjualan minuman mencapai Rp 884,19 miliar atau 87,98% dari total penjualan konsolidasi pada periode tersebut.

Adapun segmen makanan menyumbang penjualan sebesar Rp 119,69 miliar atau 11,91% dari total penjualan konsolidasi. Segmen lainnya tercatat mencapai Rp 6,08 miliar, kemudian dikurangi eliminasi antarsegmen sebesar Rp 5,02 miliar.

Rincian pembagian kontribusi tersebut menunjukkan bahwa komposisi pendapatan masih didominasi lini produk minuman. Meski demikian, perusahaan tetap mencatat adanya kontribusi dari segmen makanan sebagai bagian dari portofolio penawaran yang berjalan.

Peningkatan biaya seiring naiknya penjualan

Sejalan dengan pertumbuhan penjualan, beban pokok penjualan juga ikut meningkat. Pada semester I 2026, beban pokok penjualan tercatat naik 51,28% menjadi Rp 382 miliar dibanding periode sebelumnya.

Beban operasional FORE pun bertambah 48,46% menjadi Rp 539,81 miliar. Pergerakan biaya ini menggambarkan bahwa pertumbuhan volume dan aktivitas bisnis perusahaan berjalan paralel dengan kenaikan pengeluaran operasional.

Meski demikian, perusahaan tetap mencatat kinerja laba yang positif. FORE membukukan laba bersih sebesar Rp 56,49 miliar pada semester I 2026, tumbuh 60,5% secara tahunan.

Laba per saham yang disetahunkan mencapai Rp 12,66. Dengan angka tersebut, perusahaan menunjukkan bahwa peningkatan pendapatan masih mampu menghasilkan profit, walaupun kebijakan dividen tetap belum bisa dieksekusi karena status retained earnings.

Implikasi terhadap keputusan dividen

Di titik ini, sinyal dividen yang disampaikan perusahaan dapat dipahami sebagai sinyal kesiapan manajemen, tetapi dengan batasan yang jelas dari sisi persyaratan akuntansi. Pembagian dividen menunggu perubahan saldo laba ditahan agar kembali bernilai positif, sesuai arahan yang disebut Fahmi dalam pernyataannya.

FORE menempatkan pertumbuhan usaha sebagai dasar kesinambungan keuangan, sementara keputusan dividen diarahkan pada proses setelah kondisi retained earnings membaik. Dengan penjualan yang telah menembus level lebih dari Rp 1 triliun pada semester I 2026 dan laba bersih yang juga mengalami pertumbuhan, perusahaan menyampaikan bahwa arah kinerja masih berada pada jalur target.

Meski demikian, sampai saldo laba ditahan kembali positif, pembahasan dividen di tingkat RUPS akan tetap menjadi langkah lanjutan yang bersyarat. Perusahaan saat ini masih berada pada fase menunggu prasyarat tersebut terpenuhi, sebelum distribusi dividen kepada pemegang saham dapat dilakukan.