jurnalistik.co.id – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 mencapai 5,29% secara tahunan (yoy). Capaian ini lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 5,12% dan berada di atas kisaran konsensus pasar sekitar 5,1%.
Namun, angka tersebut menunjukkan perlambatan dibanding kuartal I 2026 yang tumbuh 5,61% (yoy). Ekonom mencatat laju ekonomi melambat setelah dorongan musiman Ramadan dan Idul Fitri yang sebelumnya menopang aktivitas konsumsi mereda.
Di tengah perkembangan yang terlihat positif, transaksi ritel online justru menguat. Arfian Prasetya Aji dari KIM Indonesia menyebut transaksi online retail dan marketplace tumbuh 35,13% yoy, sementara konsumsi per kapita pada kelompok restoran dan hotel meningkat 11,97% yoy.
Peran konsumsi, tapi tidak merata
Dari sisi komponen pengeluaran, perhatian terbesar tertuju pada konsumsi rumah tangga. Kontribusi kelompok ini terhadap PDB disebut mencapai 53,3%, tetapi laju pertumbuhannya hanya 5,06% yoy.
Arfian menilai angka tersebut berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal yang sama. Ia juga menegaskan konsumsi rumah tangga mengalami perlambatan dari kuartal I 2026 yang tumbuh 5,52%, meski masih sedikit lebih baik dibanding kuartal II 2025 sebesar 4,97%.
Di level yang lebih luas, pergeseran kinerja konsumsi menjadi sinyal bahwa mesin pertumbuhan belum sepenuhnya stabil. Ketika konsumsi rumah tangga tumbuh lebih lambat, ruang bagi sektor lain untuk menahan laju agregat juga ikut menyempit.
Industri pengolahan ikut melambat
Selain konsumsi, perlambatan juga terlihat pada sektor yang menjadi penyumbang utama. Industri pengolahan—dengan kontribusi 18,5% terhadap PDB—tumbuh 4,52% yoy, lebih rendah dari angka pertumbuhan ekonomi nasional 5,29%.
Berita Terkait
Arfian menyebut sektor tersebut melambat dibandingkan kuartal sebelumnya, yakni pada kuartal II 2025 tumbuh 5,68% dan kuartal I 2026 mencapai 5,04%. Dengan pola seperti itu, kontribusi industri pengolahan terhadap laju agregat ikut menurun.
Sementara itu, sektor pertanian yang memiliki kontribusi terbesar kedua sebesar 13,57% terhadap PDB hanya tumbuh 3,80% yoy. Arfian menilai temuan tersebut terkait dengan dinamika perilaku konsumen yang juga ikut bergerak.
Optimisme konsumen turun
Menurut Arfian, tren penurunan optimisme konsumen tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Juni 2026. IKK tersebut turun menjadi 117,8, sekaligus menjadi level terendah sejak September 2025.
Penurunan terjadi pada sebagian besar komponen penyusunnya, baik pada penilaian terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun ekspektasi ke depan. Ia mengatakan situasi tersebut membuat konsumen cenderung menahan diri untuk berbelanja dan lebih memilih menyimpan uang sebagai bentuk antisipasi.
Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi yang masih bertahan di angka 5,29% belum sepenuhnya ditopang fondasi yang kuat. Kelompok konsumsi rumah tangga dan sektor-sektor utama belum menunjukkan pertumbuhan yang optimal, sementara optimisme konsumen terus melemah.
Indikator agregat, kualitas yang perlu diuji
Ekonom sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Budi Frensidy, menilai angka pertumbuhan sebagai indikator agregat. Ia menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal II tidak selalu dirasakan merata oleh seluruh lapisan masyarakat.
Menurut Budi, pertumbuhan kuartal II masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan industri pengolahan. Sebaliknya, sektor pertambangan mengalami kontraksi, sehingga gambaran di balik pertumbuhan perlu dilihat dari komposisinya.
Karena itu, Budi menyatakan yang perlu diperhatikan bukan hanya besarnya pertumbuhan, tetapi juga kualitasnya. Kombinasi konsumsi yang melambat, industri pengolahan yang tidak lagi tumbuh setinggi sebelumnya, serta penurunan optimisme konsumen menunjukkan adanya tantangan dalam menjaga momentum ekonomi ke depan.












