Olahraga

Franco Baresi Tutup Usia, Romario Ingat Duel Paling Berat Sepanjang Karier

×

Franco Baresi Tutup Usia, Romario Ingat Duel Paling Berat Sepanjang Karier

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Kenang Mendiang Franco Baresi, Romario: Dia Lawan Terberat Sepanjang Karier Saya

jurnalistik.co.id – Dunia sepak bola berduka setelah wafatnya Franco Baresi pada usia 66 tahun. Kabar tersebut disampaikan sebagai duka akibat penyakit kanker yang dideritanya.

Kepergian Baresi langsung memunculkan gelombang belasungkawa dari berbagai penjuru sepak bola, termasuk dari Romario. Sang legenda Brasil mengekspresikan penghormatan yang sangat emosional lewat kenangan-kenangan pertemuan mereka di lapangan hijau.

Bagi Romario, sosok Baresi bukan sekadar lawan, melainkan ujian paling berat sepanjang perjalanan kariernya sebagai pesepak bola profesional. Romario mengakui bahwa kemampuan bek tangguh tersebut meninggalkan kesan mendalam saat mereka saling berhadapan.

Dalam pengakuannya, Romario menuturkan bahwa saat ia berseragam PSV Eindhoven, ia dan Baresi sudah bertemu sebanyak dua kali saat melawan AC Milan. Pertemuan itu terjadi pada periode Desember 1992 dan April 1993.

Romario menyebut bahwa pada momen-momen tersebut ia sudah bisa merasakan kualitas luar biasa yang dimiliki Baresi. Menurutnya, Baresi tampil dalam standar yang sulit ditandingi, baik dalam membaca situasi maupun menahan laju penyerang.

Perasaan tersebut kemudian menemukan titik klimaks ketika keduanya kembali bersua pada panggung paling besar di Piala Dunia 1994. Romario menegaskan bahwa laga final tersebut menjadi salah satu pertandingan terpenting dalam hidup mereka.

Romario mengingat bagaimana Franco Baresi datang ke partai puncak setelah menjalani proses pemulihan. Bek asal Italia itu dikabarkan baru melewati masa pemulihan kilat selama tiga minggu pascatindakan medis akibat cedera meniskus, sebelum akhirnya melakukan comeback.

Final Piala Dunia 1994: duel yang ditentukan detail

Final Piala Dunia 1994 sendiri berlangsung di Pasadena, Amerika Serikat. Dalam duel puncak itu, pengawalan ketat Baresi berhasil meredam ketajaman lini serang Selecao secara penuh.

Upaya Brasil untuk menembus pertahanan akhirnya tidak cukup untuk memaksa kemenangan dalam waktu normal. Pertandingan pun harus dituntaskan lewat drama adu penalti yang akhirnya dimenangkan oleh Brasil.

Romario kemudian menambahkan penuturannya tentang momen besar tersebut, seolah menegaskan bahwa pertemuan mereka bukan hanya soal kualitas, tetapi juga tentang keberanian dan ketahanan yang diuji di level paling tinggi. Ia menggambarkan final 1994 sebagai pertemuan yang membawa beban emosional tersendiri.

Dalam kutipan yang disampaikan Romario, ia menyampaikan ucapan duka dan penghormatan kepada Baresi. “Teman-teman, hari ini dunia sepak bola terbangun dalam kesedihan yang mendalam atas meninggalnya Franco Baresi,” kata Romario dikutip dari Football Italia, Sabtu (1/8/2026).

Romario melanjutkan, “Saat saya bermain untuk PSV Eindhoven, saya dua kali berhadapan dengan Milan, dan saya sudah bisa merasakan bahwa Baresi luar biasa.” “Kemudian kami bertemu lagi di Final Piala Dunia 1994, salah satu pertandingan terpenting dalam hidup kami.”

Kenangan tersebut melengkapi narasi persaingan mereka yang sudah terbentuk di tingkat klub sebelum akhirnya berlanjut ke level internasional. Romario tidak hanya menyimpan satu cerita, melainkan rangkaian pertemuan yang terus berulang dengan intensitas berbeda.

Sebelum final Piala Dunia 1994, Romario juga pernah terlibat dalam partai besar saat bermain untuk Barcelona. Ia disebut turut ambil bagian pada final Piala Eropa 1994 di Athena, di mana Barcelona harus takluk 0-3 dari AC Milan.

Menariknya, dalam pertandingan tersebut Franco Baresi disebut harus absen karena sanksi larangan bertanding. Kendati demikian, Romario tetap menyebut keterhubungan momen-momen mereka sebagai bagian dari perjalanan karier yang saling bersilangan.

Kompetisi yang dijalani Romario memperlihatkan bahwa ia berulang kali harus berhadapan dengan kualitas pertahanan khas Baresi, baik secara langsung maupun melalui duel-duel yang berada di orbit level elite Eropa.

Seiring pengungkapan duka tersebut, Romario turut menyinggung pandangannya sendiri tentang posisi bermainnya sebagai penyerang. Kini, Romario menyebut dirinya sebagai penyerang tengah yang lebih baik daripada Lionel Messi, sebagai bagian dari cara ia memaknai warisan peran menyerang dalam kariernya.

Dengan wafatnya Franco Baresi, kisah rivalitas yang pernah menuntut banyak penyesuaian dari Romario kini menjadi bagian dari memori sepak bola modern. Baresi dikenang bukan hanya lewat trofi dan peran di klub, tetapi juga lewat keteguhan disiplin yang terbukti mampu menekan lawan-lawan terbaik, bahkan di laga paling menentukan.