jurnalistik.co.id – Pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi mendorong kenaikan biaya layanan kesehatan di Indonesia. Tekanan itu terutama terkait obat-obatan, alat kesehatan, serta perlengkapan medis impor yang masih banyak dipakai rumah sakit dan penyedia layanan kesehatan.
Fullerton Health menilai, tantangan tersebut tidak dapat dijawab hanya dengan memangkas biaya operasional atau menurunkan kualitas layanan. Menurut perusahaan, fokus perlu diarahkan pada efisiensi agar inflasi medis bisa ditekan tanpa mengurangi mutu perawatan.
Chief Executive Officer (CEO) Fullerton Health, Jeff Hsu, menyampaikan bahwa pelemahan rupiah tidak memberikan dampak langsung yang signifikan terhadap bisnis AdMedika maupun operasional Fullerton di Indonesia. Ia menilai karena pendapatan dan pengeluaran perusahaan sama-sama menggunakan rupiah.
“AdMedika pada dasarnya adalah bisnis lokal. Pendapatannya dalam rupiah dan pengeluarannya juga dalam rupiah, sehingga pelemahan mata uang tidak berdampak langsung terhadap bisnis kami di Indonesia,” ujar Jeff kepada Kompas.com dalam wawancara usai akuisisi AdMedika, dikutip Minggu (14/6/2026).
Meski demikian, Jeff mengakui pelemahan rupiah dapat memicu kenaikan biaya kesehatan secara tidak langsung. Risiko itu muncul karena banyak layanan kesehatan di Indonesia masih bergantung pada pasokan impor.
“Kondisi tersebut tentu dapat menyebabkan biaya menjadi lebih tinggi. Itu sesuatu yang harus terus kami amati,” katanya.
Jeff menekankan bahwa fluktuasi nilai tukar merupakan faktor eksternal yang tidak dapat dikendalikan perusahaan. Karena itu, arah fokus Fullerton adalah pengurangan pemborosan dalam sistem layanan kesehatan agar kenaikan biaya medis bisa ditekan.
“Kami tidak bisa mengendalikan pergerakan mata uang. Yang bisa kami lakukan adalah membantu mengurangi inflasi medis dengan mengurangi pemborosan dalam sistem dan meningkatkan koordinasi pelayanan,” ujarnya.
Dalam penjelasannya, Jeff menyebut banyak biaya kesehatan sebenarnya dapat dihindari jika pasien memperoleh penanganan yang tepat sejak awal. Ia menilai koordinasi layanan yang lebih baik berpotensi mencegah pasien menjalani konsultasi, pemeriksaan, atau tindakan medis yang berulang.
Dengan layanan yang terkoordinasi, proses perawatan dapat dibuat lebih efektif sehingga tidak semua kebutuhan pasien harus berujung pada rangkaian layanan yang panjang. Perusahaan melihat pengurangan pengulangan ini sebagai salah satu cara untuk menahan laju biaya tanpa menurunkan standar layanan.
Selain mengurangi tindakan yang repetitif, Jeff juga menyinggung kemungkinan pemberian layanan di fasilitas kesehatan yang lebih sesuai. Dengan demikian, kebutuhan pasien tidak selalu harus langsung diarahkan pada skenario yang lebih mahal.
Menurut Jeff, sebagian layanan dapat diberikan di fasilitas kesehatan yang lebih relevan, tanpa harus berakhir pada rawat inap di rumah sakit. Ia menilai pendekatan tersebut dapat menekan biaya kesehatan secara keseluruhan tanpa mengurangi kualitas pelayanan.
Efisiensi sebagai jalan menahan inflasi medis
Jeff menggambarkan logikanya dengan menekankan pentingnya lokasi dan tingkat layanan yang tepat. Jika perawatan dapat dilakukan di luar rumah sakit, maka pasien tidak perlu masuk rumah sakit dengan biaya yang jauh lebih tinggi.
“Jika perawatan bisa dilakukan di luar rumah sakit, pasien tidak perlu masuk rumah sakit yang biayanya jauh lebih tinggi. Ada banyak cara untuk membantu mengendalikan inflasi medis melalui efisiensi,” katanya.
Dengan cara pandang tersebut, efisiensi tidak ditempatkan sebagai upaya menurunkan kualitas, melainkan sebagai mekanisme untuk membuat jalur layanan lebih rasional. Fullerton memandang koordinasi yang lebih baik antar layanan dapat membantu memastikan pasien mendapatkan penanganan yang tepat, pada waktu yang tepat, dan melalui fasilitas yang tepat.
Pendekatan efisiensi juga diposisikan sebagai respons terhadap tantangan eksternal berupa fluktuasi nilai tukar. Karena perusahaan tidak bisa mengendalikan pergerakan mata uang, maka kendali dialihkan pada aspek-aspek yang masih dapat diperbaiki melalui perbaikan sistem.
Dalam wawancara tersebut, Jeff menegaskan bahwa risiko kenaikan biaya harus terus diamati, terutama ketika biaya kesehatan terkait impor mengalami tekanan. Pada saat yang sama, perusahaan mendorong strategi pengendalian yang berfokus pada pengurangan pemborosan dan peningkatan koordinasi pelayanan.
Dengan demikian, inflasi medis dipandang bisa ditekan melalui perbaikan alur layanan kesehatan yang lebih efisien. Perusahaan menilai, perawatan yang lebih terarah sejak awal dan pengurangan tindakan yang tidak perlu dapat membantu menekan biaya secara menyeluruh.







