Internasional

EES: Kepala bandara Eropa minta berhenti “stop pretending… that EES is working just fine. It is not.” karena khawatir menghadapi musim panas

×

EES: Kepala bandara Eropa minta berhenti “stop pretending… that EES is working just fine. It is not.” karena khawatir menghadapi musim panas

Sebarkan artikel ini
Stop pretending EU's new border system is working, says airports chief
Ilustrasi: EES: Stop pretending EU's new border system is working, says airports chief

jurnalistik.co.id – Ketua lobi bandara Eropa, Stefan Schulte, mengatakan sistem kendali perbatasan digital Uni Eropa bernama Entry-Exit System (EES) belum siap menghadapi lonjakan perjalanan pada musim panas. Ia menyebut masalah antrian dan keterlambatan sudah terjadi, dan kekhawatiran itu membuat dirinya serta sejumlah pimpinan industri sulit tidur.

Dalam sebuah pernyataan kepada para pemangku kepentingan industri, Schulte meminta “stop pretending… that EES is working just fine. It is not.” Penilaian itu muncul di tengah evaluasi atas pelaksanaan EES yang oleh Uni Eropa rampung dilakukan pada awal tahun ini.

Schulte, yang juga menjabat presiden ACI Europe dan sekaligus memimpin perusahaan pemilik Bandara Frankfurt, menyoroti dampak EES di momen puncak arus penumpang. Ia mengatakan para penumpang mengantre berjam-jam pada waktu-waktu tersibuk dan menyatakan ketidaktahuannya bagaimana bandara akan mengelola peningkatan lalu lintas dalam beberapa pekan ke depan.

Menurut penjelasan yang mendasari kekhawatiran tersebut, EES mewajibkan pelancong dari luar Uni Eropa untuk mendaftarkan data biometrik saat masuk ke sebagian besar negara Eropa. Data itu kemudian diperiksa kembali ketika pelancong tersebut keluar.

Meski sistem tersebut disebut sudah berjalan baik di beberapa negara, EES juga dikaitkan dengan penundaan yang signifikan di sejumlah bandara. Dalam situasi tertentu, penumpang bahkan bisa sampai ketinggalan penerbangan.

Schulte mengaitkan persoalan ini dengan kondisi antrean pada puncak trafik, sekaligus menegaskan perlunya fleksibilitas dalam pengelolaan kontrol perbatasan. Ia menyampaikan bahwa sistem seharusnya tidak diperlakukan seolah tanpa masalah, karena kenyataan operasional di lapangan tidak demikian.

Sejumlah insiden menjadi latar dari peringatan tersebut. Misalnya, puluhan penumpang Ryanair dilaporkan terdampar di Athena setelah pesawat menuju London Luton berangkat tanpa mereka.

Ryanair menautkan masalah itu pada penundaan akibat prosedur perbatasan, sementara pihak bandara menyebut adanya kemacetan yang terkait dengan “additional processing requirements”. Meski demikian, baik Ryanair maupun bandara tidak menyatakan secara langsung bahwa EES menjadi penyebab tunggal kejadian.

Insiden serupa juga disebut terjadi pada April ketika penumpang dari Milan Bergamo dan Milan Linate menuju Manchester dilaporkan melewatkan penerbangan. Masalah pada pemeriksaan paspor disebut menjadi faktor yang mengganggu rencana perjalanan mereka.

Dalam mekanisme EES, sistem ini mewajibkan sebagian besar pelancong dari luar Area Ekonomi Eropa untuk mendaftarkan data biometrik, termasuk pemindaian wajah dan sidik jari. Data tersebut lantas dapat diperiksa setiap kali pelancong melintasi perbatasan zona perjalanan Schengen yang bebas.

Wizz Air sebelumnya juga memberi peringatan kepada wisatawan Inggris untuk tiba tiga jam sebelum keberangkatan penerbangan pulang. Maskapai itu merujuk pada antrean panjang yang dipicu pemeriksaan perbatasan baru tersebut.

Kebutuhan fleksibilitas dan perubahan proses

Schulte menyampaikan perlunya langkah yang lebih lentur dalam tata kelola EES. Ia mengatakan, “We urgently need full flexibility for border control authorities to suspend the EES whenever needed to avoid further chaos – along with a rethink of those processes.”

Ia menambahkan bahwa hal ini menyangkut penghormatan dan sikap yang layak bagi mereka yang memilih bepergian ke Uni Eropa. Menurutnya, langkah itu juga penting untuk menjaga reputasi destinasi sebagai tempat yang ramah dan efisien.

Kalimat tersebut ia sampaikan sebagai, “This is about showing respect and decency for those who chose to travel to the EU, and safeguarding our reputation as a welcoming and efficient destination.”

Uni Eropa melalui Komisi Eropa juga disebut memberi ruang penangguhan EES pada sejumlah kondisi hingga September. Namun Schulte menekankan bahwa keputusan penangguhan berada di tangan pemerintah masing-masing negara, bukan kewenangan bandara.

Ia menyatakan bahwa antrean justru bisa memanjang ketika keputusan penangguhan masih diproses. Dalam konteks itu, bandara tidak bisa bertindak sendirian untuk menyelesaikan lonjakan, karena mekanisme penundaan mengikuti keputusan kebijakan nasional.

Schulte juga memberi peringatan tentang durasi puncak musim. Ia menuturkan bahwa periode puncak musim panas berlangsung lebih lama dibanding perkiraan hingga awal September, sehingga setelah itu sistem berpotensi mengalami keruntuhan penuh.

Ia mengingatkan kemungkinan itu dengan menyebut “complete collapse of the system” setelah fase awal September. Peringatan tersebut menegaskan bahwa risiko bukan hanya pada jam-jam awal pengawasan, melainkan pada kesinambungan beban selama masa ramai.

Sejumlah kebijakan yang berkaitan dengan prosedur biometrik di destinasi liburan juga menjadi sorotan. Pada awal tahun ini, Menteri Pariwisata Yunani menyatakan ia tidak ingin pengunjung terbebani prosedur birokratis saat masuk maupun keluar negara.

Olga Kefalogianni menjanjikan bahwa penumpang dari Inggris tidak akan menghadapi pemeriksaan biometrik ketika bepergian ke Yunani pada musim panas. Namun, situasi disebut masih belum jelas karena Kementerian Luar Negeri Yunani kemudian mempersoalkan apakah ada pengecualian yang benar-benar berlaku.

Selain Yunani, muncul pula laporan bahwa Portugal dan Italia mempertimbangkan pengecualian bagi warga Inggris dari pemeriksaan EES di bandara mereka. Namun Komisi Eropa mengklaim tidak ada rencana semacam itu.

Pada tahap ini, BBC menyebut telah menghubungi Komisi Eropa yang mengawasi EES untuk meminta komentar. Respons yang belum dipaparkan dalam teks sumber membuat sejumlah pertanyaan kebijakan tetap terbuka, khususnya terkait kesiapan menghadapi musim panas dan bentuk fleksibilitas yang dibutuhkan.

Dengan latar antrian panjang, kemacetan pemeriksaan paspor, dan kasus penumpang yang tertinggal penerbangan, kekhawatiran Schulte bermuara pada satu pesan utama: sistem EES tidak cukup dianggap berjalan baik hanya berdasarkan sebagian skenario, karena tantangan operasional dapat muncul berulang pada titik-titik puncak mobilitas.