Bisnis & Ekonomi

Di Tengah Gempuran Marketplace, Pemburu Barang Bekas di Menteng Tetap Bertahan

×

Di Tengah Gempuran Marketplace, Pemburu Barang Bekas di Menteng Tetap Bertahan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Di Balik Rumah Mewah Menteng, Pembeli Barang Bekas Bertahan di Tengah Gempuran Marketplace

jurnalistik.co.id – Di balik deretan rumah mewah di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, aktivitas pemburu barang bekas tetap berjalan setiap hari. Mereka tidak sekadar menyasar kardus atau botol plastik, tetapi juga menelusuri komoditas bernilai di balik rumah-rumah yang siap berganti isi.

Pada Jumat (3/7/2026), Santo mendorong gerobaknya sambil mengabarkan keberadaannya kepada warga. Setiap pagi, ia memulai pekerjaannya sekitar pukul 07.00 WIB dengan berteriak “beli barang bekas”.

Pekerjaan serupa dijalani Bakti (44) yang berasal dari Pemalang. Ia menekuni kegiatan membeli barang bekas selama sekitar satu dekade, setelah sebelumnya bekerja serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu.

Belajar Memahami Nilai Barang Bekas

Bakti mengungkapkan bahwa awalnya ia tidak memiliki pengetahuan memadai soal harga barang bekas. “Dulu saya kerja serabutan, penghasilannya enggak menentu. Akhirnya diajak belajar beli barang bekas. Lama-lama jadi paham harga barang, sekarang ya tetap di pekerjaan ini,” ujar Bakti saat ditemui Kompas.com.

Dalam rutinitasnya, ia berkeliling hampir setiap hari di Menteng. Ia mengaku sudah hafal jalur-jalur dan rumah-rumah yang rutin menjual barang bekas, sehingga proses pencarian lebih terarah dari pagi hingga sore.

Bakti dan pembeli barang bekas lainnya juga mengedepankan cara kerja yang bertahap. Barang yang didapat kemudian dipilah berdasarkan jenis serta nilai ekonominya sebelum dijual kembali kepada pengepul, sementara sebagian lainnya dipasarkan lagi sebagai barang bekas yang masih layak pakai.

Berbekal modal ratusan ribu rupiah, Bakti menyusuri kawasan elite untuk membeli barang yang tidak lagi digunakan pemilik rumah. Komoditas yang ia incar mencakup besi, aluminium, tembaga, kuningan, kabel bekas, hingga peralatan rumah tangga bernilai, seperti rak besi, lampu gantung, dan lukisan sisa renovasi.

Dari Logam hingga Lukisan Sisa Renovasi

Dalam pengamatannya, Bakti menyebut tembaga sebagai logam dengan nilai jual paling tinggi. Meski begitu, ia juga melihat peluang dari barang utuh berukuran besar karena bobotnya yang berat dapat memberi keuntungan lebih besar.

Ia pernah menemukan barang yang nilainya jauh di atas rongsokan biasa. “Saya pernah beli rak besi besar bekas gudang, pajangan dinding, sampai lukisan yang bingkainya kayu dan kaca. Waktu itu pemilik rumah lagi renovasi, jadi banyak barang lama yang dilepas,” kata Bakti.

Menurut Bakti, barang-barang seperti lukisan atau pajangan tidak selalu harus berakhir sebagai limbah. Jika kondisinya masih baik, barang tersebut bisa dijual kembali kepada pengepul atau pembeli yang memang mencari barang bekas layak pakai.

“Kalau bingkainya masih bagus biasanya ada yang cari. Kadang ada pengepul yang memang khusus ambil barang seperti itu,” ujarnya.

Persaingan Meningkat, Hasil Tidak Selalu Menentu

Bakti mengatakan ada perubahan yang terasa dibanding beberapa tahun lalu. “Yang keliling makin banyak, jadi saingan juga banyak. Kadang kita sudah biasa lewat satu rumah, ternyata barangnya sudah dibeli orang lain duluan,” ujarnya.

Ia memulai bekerja sekitar pukul 07.00 WIB dan berhenti sekitar pukul 17.00 WIB jika hasil yang diperoleh masih sedikit. Keuntungan yang didapat juga tidak menentu: pada beberapa hari, hasilnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Namun, pada hari yang lebih baik, Bakti dapat memperoleh keuntungan hingga Rp 200.000 hingga Rp 300.000. Ia menyebut pencarian tembaga atau besi dalam jumlah banyak menjadi faktor yang membuat hari-harinya lebih menghasilkan.

“Semoga barang masih ada dan pekerjaan ini tetap jalan. Soalnya dari sini saya menghidupi keluarga di kampung,” ucap Bakti.

Rutinitas Santo di Menteng

Santo (60) juga telah sekitar 15 tahun berkeliling di Menteng. Ia berasal dari Pemalang dan bekerja dengan pola yang rutin sejak pagi dengan mengabarkan tawarannya kepada warga menggunakan kalimat yang ia teriakkan.

Barang yang ia beli mencakup logam, tembaga, aluminium, besi, hingga kardus. Santo menyebut tembaga dan kuningan sebagai barang dengan nilai jual paling tinggi.

Di saat ditemui Kompas.com, Santo belum memperoleh satu barang pun sejak pagi, meski ia terus mendorong gerobaknya di kawasan Menteng. Ia tetap melanjutkan pencarian karena berharap ada barang yang bisa dibeli dan diproses lebih lanjut untuk dijual kembali.