Internasional

Gordie Howe International Bridge: simbol ketegangan hubungan AS-Kanada

×

Gordie Howe International Bridge: simbol ketegangan hubungan AS-Kanada

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: How the Gordie Howe bridge became symbol of a strained US-Canada relationship

jurnalistik.co.id – Jembatan internasional baru yang menghubungkan Detroit, Michigan, dan Windsor, Ontario, selama bertahun-tahun akhirnya menuju tahap pembukaan. Rencana peresmian semula dimaksudkan menjadi momen perayaan bersama, namun suasana berubah setelah ancaman tarif terbaru Donald Trump terhadap Kanada.

Para pejabat dari kedua negara sebelumnya dijadwalkan hadir untuk upacara inaugurasi Gordie Howe International Bridge, yang dibangun selama delapan tahun dan mengalami beberapa kali penundaan. Tetapi pada hari Jumat, Kanada akan menggelar acara sendiri, karena mereka “membatalkan” kehadiran rekan-rekan Amerika di tengah ketegangan yang berkelindan dengan ancaman tarif tersebut.

Gordie Howe International Bridge, yang menyandang nama legenda hoki es Kanada, kini tampil bukan sebagai simbol persatuan, melainkan cerminan hubungan AS-Kanada yang sedang menegang. Nama jembatan itu merujuk pada Gordie Howe, pemain yang menghabiskan sebagian besar kariernya bersama Detroit Red Wings.

Tekanan politik juga menambah beban bagi Perdana Menteri Mark Carney. Di saat proyek yang seharusnya menjadi penghubung dagang kedua negara memasuki fase krusial, Carney harus mengelola situasi yang makin “bergelombang” akibat respons Washington.

Proyek ini berangkat dari kebutuhan infrastruktur untuk mengatasi hambatan perdagangan di kawasan lintas perbatasan. Jembatan tersebut bernilai C$6,4 miliar (setara $4,5 miliar; £3,4 miliar), dan diarahkan untuk mendukung lebih dari C$1 miliar (sekitar $710 juta; £530 juta) barang yang melewati penyeberangan Windsor–Detroit setiap hari.

Beberapa keputusan penting dalam sejarah proyek sempat menunjukkan keinginan untuk meredakan resistensi politik. Sekitar 15 tahun lalu, Kanada menyepakati untuk menanggung seluruh biaya pembangunan agar proyek tersebut bisa tetap berjalan meski mendapat penolakan dari pihak AS.

Kesepakatan berikutnya mengatur soal kepemilikan dan hasil tol. Jembatan ini akan menjadi milik bersama Ottawa dan negara bagian Michigan, sementara pembagian pendapatan tol ke negara bagian AS baru dilakukan setelah biaya ditutup terlebih dulu.

Namun, pada awal tahun ini, tepat menjelang rencana pemotongan pita, Trump menyatakan akan menghalangi pembukaan sampai Kanada bersedia “share authority” dan kepemilikan. Pernyataan Trump pada waktu itu mencakup gagasan, “We should own, perhaps, at least one half of this asset.”

Di luar isu tarif dan negosiasi, jembatan ini juga lama mendapat dorongan penolakan dari keluarga Moroun di Michigan. Keluarga tersebut memiliki Ambassador Bridge, yang digambarkan sebagai penyeberangan komersial paling sibuk di Amerika Utara dan termasuk salah satu yang dimiliki pihak swasta, dengan Matthew Maroun—seorang miliarder yang juga disebut sebagai penyumbang bagi Trump—bertemu dengan Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick beberapa jam sebelum komentar presiden itu, menurut laporan The New York Times.

Selanjutnya, pada Juni, Carney mengumumkan bahwa Kanada menyetujui permintaan AS untuk menunda pembukaan jembatan guna memberi ruang bagi perundingan lanjutan. Untuk mengejar agar jalur dagang tetap segera beroperasi, Ottawa menerima skema di mana mereka akan membagi separuh pendapatan jembatan selama 15 tahun ke depan dengan sebuah dana pengembangan ekonomi yang “solely controlled” oleh pemerintah AS.

Trump kemudian mempromosikan dalam unggahan media sosial bahwa kesepakatan baru itu “MUCH BETTER” bagi Amerika. Dengan demikian, rangkaian keputusan tentang pendapatan tol dan waktu pembukaan menjadi bagian dari pola tarik-ulur yang makin memperlihatkan ketidakharmonisan pendekatan kedua pihak.

Konflik dagang menjadi latar yang lebih luas dari pergeseran rencana peresmian ini. Saat Carney mencalonkan diri menjadi perdana menteri, ia berjanji menyelesaikan sengketa tersebut dengan pendekatan “elbows up,” ungkapan yang dihubungkan dengan gaya bermain agresif yang dipopulerkan oleh Gordie Howe sendiri.

Kini, Carney menghadapi kritik setelah memberi konsesi kepada pemerintahan yang, menurut sejumlah penilaian di Kanada, dipandang memperlakukan negara itu secara tidak adil. Colin Robertson—mantan diplomat Kanada dan fellow di Canadian Global Affairs Institute—menggambarkan situasinya dengan nada tajam, menyebut, “We’re dealing with an administration like we’ve never seen before.” Ia menambahkan, “They renege on deals. They don’t follow agreements. It’s like dealing with pirates.”

Di tengah sorotan, Kanada juga disebut telah membuat sejumlah konsesi yang dikritik oleh para pengusung pandangan berbeda sebagai langkah yang berlebihan terhadap Gedung Putih. Di antaranya, pembatalan pajak layanan digital yang ditentang perusahaan teknologi AS, serta pencabutan sebagian tarif balasan.

Shuvaloy Majumdar, anggota parlemen dari kubu konservatif, menyatakan bahwa seluruh situasi menunjukkan Kanada bernegosiasi “with weakness” saat berusaha mengamankan kesepakatan dagang yang lebih luas dengan pemerintahan Trump. Ia mengatakan dalam konferensi pers, “Canadians are sick and tired of being made into a punching bag by President Trump and have the self-respect to fight for their existence and their country,” serta menambahkan, “They deserve a government that is willing to do the same thing.”

Carney sendiri juga mendapat pengawasan terkait kejelasan skema kesepakatan jembatan dan bagaimana pendapatan akan dibagi dengan AS. Pada hari Kamis, ia menyampaikan bahwa kesepakatan dasar untuk pemulihan pendapatan tol antara Kanada dan negara bagian Michigan tetap berjalan. Menurutnya, kesepakatan pembagian pendapatan baru yang disepakati bersama pemerintahan AS “in parallel” dengan kesepakatan dasar tersebut.

Perdana Menteri Ontario Doug Ford memuji Carney atas langkah penyelesaian kesepakatan. Ia menyatakan Carney telah menjalankan tugas dengan baik dalam proses negosiasi hingga tercapai kesepakatan itu.

Robertson mengakui bahwa apa yang disetujui Carney memang sebuah konsesi, tetapi menurutnya itu diperlukan mengingat pentingnya jembatan bagi arus dagang lintas perbatasan. Ia menilai jembatan berteknologi modern ini dibangun dengan biaya besar, dan Kanada “memang membayarnya,” namun jembatan tersebut tetap diperlukan agar rantai pasok tetap berjalan.

Robertson juga menekankan bahwa pelaku usaha dan komunitas di kedua sisi perbatasan telah mendorong agar jembatan segera dibuka. Ia menggunakan analogi hoki: meski Gordie Howe memainkan “elbows up,” tujuan akhirnya adalah “get the puck in the net.”

Namun, Robertson menilai Kanada telah memberikan cukup banyak. Ia memperingatkan, “Any further concessions would be problematic and probably not in our interest, given the behaviour of the Trump administration up to now.”

Di tingkat provinsi, respons terhadap strategi negosiasi tidak seragam. Ford menyebut Trump sebagai “bully” dan mengatakan Kanada seharusnya mempertimbangkan penggunaan energi serta ekspor mineral penting sebagai posisi tawar dalam pembicaraan dagang. Sementara itu, Danielle Smith di Alberta dan Scott Moe di Saskatchewan justru menganjurkan sikap yang lebih hati-hati, yang menunjukkan adanya retakan dalam upaya Kanada menjaga kesatuan sikap.

Pada akhirnya, cara Carney merespons gelombang kritik dan tuntutan politik masih menjadi pertanyaan. Tetapi satu hal yang jelas, jembatan yang semula diproyeksikan sebagai penghubung persatuan kini semakin menonjol sebagai tempat bertemunya biaya pembangunan besar, keputusan tarif, serta ketegangan hubungan dua tetangga di Amerika Utara.