jurnalistik.co.id – CEO BAE Systems, Dr Charles Woodburn, mengatakan Inggris terlalu lengah menghadapi risiko serangan dari pihak asing. Dalam wawancara eksklusif dengan BBC, ia menilai tingkat ancaman saat ini adalah yang tertinggi yang pernah ia lihat selama hidupnya.
Woodburn menyambut adanya kenaikan belanja pertahanan yang baru-baru ini diumumkan. Namun, ia menegaskan, langkah tersebut belum cukup untuk memenuhi komitmen pemerintah mengalokasikan 3,5% produk domestik bruto (PDB) untuk pertahanan pada 2035.
Menurut Woodburn, perubahan dalam perang modern tidak lagi bisa direspons dengan pendekatan lama. Ia menyebut kenyataan di medan perang telah âchanged quite profoundlyâ, sehingga belanja pertahanan dan kemampuan yang dibangun harus ikut beradaptasi.
Ia juga memperingatkan bahwa penggunaan senjata mematikan otonom bisa segera terjadi, khususnya oleh negara yang tidak mengikuti kebijakan Inggris untuk mempertahankan kontrol manusia. Woodburn menilai, jarak menuju skenario itu ânot farâ dan Inggris perlu bergerak lebih cepat.
Dalam konteks itu, Woodburn menyoroti efektivitas penggunaan otonomi dalam operasi militer. Ia menyatakan Rusia dan Ukraina menjadi âincredibly adeptâ memanfaatkan otonomi dalam bentuk drone serta serangan balik lewat sistem kontra-drone.
Woodburn mengatakan kemampuan menghadapi dinamika tersebut harus dipahami secara serius. âItâs something that we now have to really understand and make sure that weâre able to provide the capabilities that can counter that and deter aggression,â ujarnya.
Ia menekankan bahwa strategi pencegahan menuntut perangkat yang sanggup mengimbangi kemampuan lawan. Dengan kata lain, kemampuan untuk menahan agresi menjadi bagian dari kebutuhan yang tak bisa ditunda.
Pernyataan Woodburn muncul di tengah pembahasan pengembangan alutsista yang digelar BAE. Pada ajang Farnborough International Airshow, perusahaan menampilkan model berskala penuh Brontanax, sebuah pesawat tempur nirawak, Collaborative Combat Aircraft.
Woodburn menyebut bahwa empat unit pesawat semacam itu akan mendampingi pesawat tempur berawak untuk meningkatkan daya tembak secara signifikan. Menurutnya, tingkat biaya untuk konsep itu hanya sekitar 20% dari pesawat tempur berawak.
Meski demikian, ia tidak menempatkan teknologi nirawak sebagai satu-satunya jawaban. Woodburn mengatakan masih ada peran besar bagi kapal tempur tradisional dan kapal selam yang selama ini diproduksi BAE.
Ia menyoroti bahwa lawan juga membangun platform berukuran besar, mulai dari pesawat, kapal, hingga kapal selam. Platform tersebut, menurut Woodburn, dilengkapi dengan kemampuan nirawak yang memperkuat efektivitas operasi.
âIt is the combination of the two that has the “winning” formula,â kata Woodburn. Ia melihat kemenangan strategis datang dari perpaduan platform tradisional dengan kemampuan nirawak yang mendukung.
Bagi Woodburn, masalah utama Inggris bukan semata soal desain kemampuan, melainkan sikap terhadap ancaman itu sendiri. Ia menilai Inggris sudah lama bersikap complacent terhadap tingkat risiko, terutama dari Rusia.
Ia mengatakan, âThis is by far the most threatening time I’ve seen.â Woodburn juga mengingat masa ketika ia bergabung dengan perusahaan pada 2016, saat ia melihat aktivitas kapal selam Rusia serta serangan siber, yang ia sebut berkembang jauh dalam beberapa tahun terakhir.
Woodburn mengaitkan peningkatan kewaspadaan Eropa dengan konflik Ukraina. Ia menyatakan bahwa sebagai dampak dari perang tersebut, publik kini lebih sadar akan kedekatan kemungkinan âhot war in Europeâ.
Di luar penilaian industri, kesiapan militer juga menjadi bahan perbincangan pejabat senior. Woodburn menyinggung bahwa kesiapan pasukan Inggris sempat dipertanyakan oleh figur-figur tinggi di layanan bersenjata, bahkan mendapat sindiran dari sejumlah pejabat pertahanan asing.
Berita Terkait
Ia menyebut laksamana pertama Inggris, Sir Gwyn Jenkins, yang pernah menyampaikan bahwa angkatan laut tidak siap untuk perang. Woodburn juga menuturkan bahwa Pete Hegseth, Menteri Pertahanan AS, merujuk pada âbig bad Royal Navyâ dengan nada sinis, sementara Presiden Donald Trump menggambarkan kapal induk Inggris sebagai âtoysâ.
Woodburn mengatakan citra tersebut makin sulit terbantahkan ketika mobilisasi kapal perusak HMS Dragonâyang dibangun BAEâdinilai terlambat. Ia menyebut kapal itu seharusnya menyediakan perlindungan udara untuk Siprus menghadapi ancaman dari Iran dan Hizbollah.
Meski begitu, Woodburn membantah tuduhan bahwa perusahaan lamban merespons. Ia menegaskan BAE akan menyiapkan langkahnya segera setelah Kementerian Pertahanan meminta bantuan.
Woodburn menyatakan bahwa âBAE gets “things in place as quickly as we’re ableâ,â tetapi pada akhirnya diperlukan âa signal to moveâ. Ia menempatkan faktor keputusan resmi sebagai penentu kecepatan eksekusi.
Isu belanja pertahanan juga terkait dengan dinamika jabatan pemerintahan. Woodburn menyinggung promosi John Healeyâmantan Menteri Pertahananâyang kemudian menjadi Kanselir. Ia mengingat Healey mundur dari jabatan sebelumnya dengan alasan bahwa dana tambahan yang diberikan untuk pertahanan âfalls well short of what is needed to protect the countryâ.
Woodburn menyebut bahwa setelah pengunduran diri tersebut, tambahan dana naik dari ÂŁ13.5 miliar menjadi ÂŁ15 miliar. Namun ia menilai langkah itu hanya membawa belanja pertahanan ke 2,68% PDB pada 2030, jauh di bawah target 3% yang disebut Healey sebagai kebutuhan.
Ia menambahkan, kenaikan besar masih dibutuhkan untuk mengejar target 3,5% pada 2035. Pada saat yang sama, ia mengakui bahwa keputusan dan prioritas anggaran akan menghadapi persaingan antarunit kebijakan di pemerintah.
Woodburn menyatakan, âWe have tremendous respect for John.â Ia menilai Healey memahami kebutuhan pertahanan, sehingga perubahan posisinya ke peran di Keuangan memberi sinyal positif.
Ia juga mengakui adanya kompleksitas keuangan nasional yang harus ditangani. âBut the fact that he understands the requirements of defence we see as a very positive thing,â tambahnya.
Ia menilai perubahan skala kesiapan militer Inggris terasa setelah berakhirnya era Perang Dingin. Woodburn menyebut bahwa pada 1990 jumlah tentara reguler Inggris mencapai 153.000, sementara saat ini menjadi 74.000.
Menurut Woodburn, pertanyaan tentang kebutuhan prajurit manusia pada era modern menjadi semakin rumit. Ia juga menegaskan bahwa transisi menuju âautonomous lethal weaponryâ berada dekat.
âWe’re not far from that,â ujarnya. Ia menambahkan bahwa selama Inggris mengikuti aturan âman in the loopâ, lawan tidak selalu melakukannya dengan cara yang sama.
Pada Farnborough, Perdana Menteri baru Andy Burnham juga menyampaikan pesan melalui video. Ia menekankan bahwa pertahanan bisa berperan besar dalam rencana memutar ulang industri dan membuka ribuan pekerjaan terampil.
Dalam pidato utamanya, Menteri Pertahanan Wes Streeting mengatakan bahwa pertahanan tidak hanya menjadi penerima manfaat pertumbuhan ekonomi. Streeting juga menyebut pertahanan sebagai âa central contributor to building that growth, a driver of prosperity in parts of the country that are crying out for the backing they need to make their contribution to the challenge of our time.â
Woodburn menyatakan ia ingin membantu menyampaikan manfaat lanjutan dari belanja pertahanan. Ia menilai penting agar informasi mengenai efek industri dan penciptaan kerja âwell toldâ agar publik memahami bahwa uang tersebut digunakan secara tepat.
Menutup wawancara, Woodburn menjawab pertanyaan tentang peran produk perusahaan yang pada akhirnya ditujukan untuk melukai manusia dalam konteks perang. Ia mengatakan bahwa yang paling ia pikirkan adalah pencegahan.
Ia menyatakan, âThe thing I always think about is that the best thing we can do is to deter.â Menurutnya, pencegahan perang memastikan para prajurit memiliki perlengkapan terbaik, dan misi bisnisnya adalah âto protect those who protect usâ. Ia menegaskan hal itu diambil dengan sangat serius.












