Bisnis & Ekonomi

Harapan Diplomasi AS-Iran Tekan Harga Emas

0
×

Harapan Diplomasi AS-Iran Tekan Harga Emas

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Harapan Diplomasi AS-Iran Tekan Harga Emas - Market

jurnalistik.co.id – Harga emas masih berada di bawah tekanan pada perdagangan Asia, Rabu, setelah bentrokan baru di Teluk Persia meredupkan harapan atas kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi itu juga memperkuat kekhawatiran bahwa inflasi bisa membuat suku bunga bertahan tinggi lebih lama, sehingga menekan daya tarik logam mulia.

Bullion diperdagangkan di bawah US$4.500 per ons setelah pada sesi Selasa turun 1,4%. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya kehati-hatian pasar terhadap perkembangan konflik di kawasan yang masih berlangsung, khususnya di sekitar Selat Hormuz, jalur penting bagi arus energi global.

Permusuhan antara pasukan AS dan Iran di dekat Selat Hormuz tetap berlanjut, meski kedua pihak sebelumnya menyampaikan adanya kemajuan menuju kesepakatan damai sementara. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan bahwa perjanjian apa pun kemungkinan masih memerlukan beberapa hari lagi untuk diselesaikan. Sinyal ini menunjukkan bahwa proses diplomasi belum selesai, walaupun arah pembicaraan disebut bergerak ke depan.

Di sisi lain, pasar membaca bahwa kebuntuan yang sudah berlangsung selama tiga bulan itu masih berpeluang tetap terkendali. Para trader menangkap sinyal adanya kemajuan diplomatik, bahkan ketika serangan masih terus terjadi. Kombinasi antara optimisme hati-hati dan kekhawatiran yang belum hilang membuat harga emas bergerak rapuh.

Kekhawatiran inflasi masih membayangi emas

Meski harapan terhadap kesepakatan AS-Iran sempat memberi sedikit dukungan, situasi di lapangan tetap dinilai rapuh dan berkepanjangan. Dalam catatannya, analis TD Securities Ryan McKay mengatakan, “Meski harapan terhadap kesepakatan AS-Iran telah memberi sedikit dukungan, situasinya tetap rapuh dan berkepanjangan, sementara kekhawatiran inflasi masih membayangi logam mulia.”

Menurut McKay, tekanan terhadap emas bukan hanya datang dari perkembangan geopolitik, tetapi juga dari kekhawatiran bahwa inflasi bisa bertahan lebih tinggi dari perkiraan. Jika kondisi seperti itu terjadi, ekspektasi suku bunga tinggi yang lebih lama akan terus menahan minat terhadap aset yang tidak memberikan imbal hasil, seperti emas.

Sentimen risk-on yang muncul di pasar juga ikut memengaruhi pergerakan logam mulia. Saat investor lebih berani mengambil risiko, saham justru terdorong ke level tertinggi baru. Dalam kondisi seperti ini, emas kerap kehilangan sebagian daya tariknya karena modal cenderung mengalir ke aset berisiko yang dianggap lebih menguntungkan dalam jangka pendek.

Meski begitu, pasar masih memantau rapat setiap perkembangan dari diplomasi AS-Iran. Selama bentrokan di kawasan belum benar-benar mereda dan kepastian kesepakatan damai belum tercapai, emas berpotensi tetap bergerak dalam tekanan. Di saat yang sama, arah inflasi dan kebijakan suku bunga akan terus menjadi faktor utama yang menentukan apakah pelemahan ini berlanjut atau justru mulai menemukan penopang baru.

Dalam kondisi seperti ini, emas tampak kehilangan tenaga untuk membangun arah yang lebih kuat. Satu sisi, kabar adanya kemajuan diplomatik memberi harapan bahwa ketegangan dapat mereda. Namun di sisi lain, fakta bahwa serangan masih berlangsung membuat pasar belum yakin situasi benar-benar aman. Akibatnya, pergerakan emas cenderung tersendat karena investor masih menimbang antara risiko geopolitik dan tekanan dari ekspektasi suku bunga yang tinggi.

Selama belum ada kepastian yang lebih jelas dari pembicaraan AS-Iran, pelaku pasar kemungkinan akan terus bersikap selektif. Emas bisa saja kembali mendapat dorongan bila ketegangan meningkat, tetapi untuk saat ini tekanan dari inflasi dan sentimen risk-on tampak masih lebih dominan. Itu membuat logam mulia bergerak hati-hati, tanpa katalis yang cukup kuat untuk memulihkan kenaikan secara meyakinkan.