Internasional

Kapal Tanker Minyak Terus Melaju di Selat Hormuz saat Ketegangan AS–Iran Menghangat

×

Kapal Tanker Minyak Terus Melaju di Selat Hormuz saat Ketegangan AS–Iran Menghangat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Kapal Tanker Tetap Lintasi Selat Hormuz meski Konflik AS-Iran Memanas

jurnalistik.co.id – Di tengah meningkatnya ketegangan Amerika Serikat (AS) dan Iran, arus pelayaran kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz tetap berlangsung. Sejumlah kapal memilih melintasi jalur di sisi perairan Oman yang disebut berada di bawah perlindungan AS.

Laporan Bloomberg yang dimuat pada Sabtu (11/7/2026) menyebut sedikitnya dua kapal tanker minyak berukuran sangat besar, atau very large crude carrier (VLCC), terpantau masih menempuh rute tersebut. Kapal-kapal itu dioperasikan perusahaan pelayaran Yunani, Kyklades Maritime Corp.

Berdasarkan data pelacakan, salah satu kapal dengan nama Nissos Kea kembali muncul di Teluk Persia beberapa jam setelah sinyal Automatic Identification System (AIS)-nya berhenti sesaat saat mendekati Selat Hormuz. AIS sendiri merupakan sistem pelacakan otomatis yang memancarkan posisi kapal ke pihak yang dapat mengakses data siaran tersebut.

Sementara itu, kapal Nissos Heraclea terpantau melakukan perjalanan ke arah berlawanan melalui jalur yang sama. Pergerakan kedua kapal ini terjadi pada saat lalu lintas tanker masih dapat dipantau di kawasan Selat Hormuz.

Kyklades Maritime Corp yang berbasis di Piraeus, Yunani, belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait pergerakan kedua kapal tersebut. Ketiadaan respons ini disebut menyertai laporan mengenai pola pelayaran yang tetap berjalan meski situasi kawasan memburuk.

Di sisi lain, lalu lintas tanker yang masih terpantau menunjukkan perlambatan dalam 24 jam terakhir. Kondisi ini muncul setelah AS dan Iran kembali saling melancarkan serangan rudal serta pesawat nirawak (drone), sementara kesepakatan damai sementara di kawasan berada di ambang kegagalan.

Dalam periode eskalasi tersebut, sebagian kapal dikabarkan meningkatkan upaya untuk mengurangi jejak yang dapat dipantau publik. Lebih banyak tanker melintasi Selat Hormuz dalam kondisi “gelap”, yakni dengan mematikan sinyal AIS sehingga pergerakannya tidak dapat dilacak secara terbuka.

Hingga saat laporan ini ditulis, belum diketahui secara pasti seberapa besar dampak eskalasi terbaru terhadap aktivitas pelayaran di jalur tersebut. Meski demikian, data yang dihimpun pelacakan tetap menunjukkan pola rute tertentu bagi kapal yang sinyalnya masih terbaca.

Data pelacakan menunjukkan kedua kapal tanker itu diduga mengangkut minyak mentah dari Qatar. Salah satu kapal disebut memuat minyak di Lapangan Al Shaheen, sementara kapal lainnya bergerak menuju Pulau Halul yang menjadi salah satu pusat ekspor minyak Qatar.

Meski tidak menyiarkan tujuan pelayaran ketika berada di Teluk Persia, kedua kapal tetap mengaktifkan transponder AIS selama sebagian besar perjalanan mereka. Informasi ini memberi gambaran bahwa tidak semua aspek pelayaran sepenuhnya disamarkan, setidaknya untuk periode ketika transponder masih aktif.

Di bagian rute, data posisi sebagian kapal yang memasuki Selat Hormuz menunjukkan kemungkinan penggunaan jalur di sisi selatan yang berada dekat garis pantai Oman. Pola serupa juga terlihat dari kapal yang keluar dari Teluk Persia, yang terpantau berada relatif dekat dengan perairan Oman sebelum memasuki Selat Hormuz.

Dengan demikian, pelayaran tetap terjadi meski ketegangan meningkat, termasuk ketika beberapa kapal memilih pendekatan rute yang lebih dekat ke kawasan Oman. Pada saat yang sama, muncul pula tanda-tanda perubahan cara sebagian kapal beroperasi di sekitar selat tersebut, terutama melalui praktik pemadaman AIS pada sejumlah pelayaran.

Laporan ini juga menegaskan bahwa pemantauan publik atas pergerakan tanker menjadi lebih terbatas ketika kapal memilih mode “gelap”. Namun, untuk kapal yang tetap terpantau, rute di sisi Oman dan indikator pergerakan berbasis data AIS masih dapat digunakan untuk membaca dinamika arus tanker di Selat Hormuz.

Di tengah situasi AS–Iran yang kembali menghangat, pola pelayaran VLCC yang berlanjut menjadi bagian dari gambaran bahwa aktivitas pengangkutan minyak di kawasan strategis tersebut tidak sepenuhnya berhenti. Pergerakan yang masih terpantau memperlihatkan bahwa sebagian operator tetap menjalankan rute, sementara gangguan terhadap pelacakan publik tampak meningkat seiring ketegangan.

Meski begitu, karena sejumlah kapal beralih mematikan AIS, tidak semua aktivitas dapat diukur dengan tingkat kepastian yang sama. Dampak perubahan perilaku ini terhadap keseluruhan lalu lintas tanker di Selat Hormuz masih belum bisa dipastikan sepenuhnya, sebagaimana dinyatakan dalam laporan.

Secara keseluruhan, pada Sabtu (11/7/2026), sinyal dari data pelacakan menggambarkan dua lapis kondisi: kapal yang tetap melintasi selat, sekaligus perubahan pada cara pelacakan yang dilakukan sebagian pengiriman. Keadaan tersebut berlangsung bersamaan dengan serangan rudal dan drone yang disebut terjadi belakangan ini, serta situasi negosiasi damai sementara yang berada pada titik rawan.