jurnalistik.co.id – Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara ke Iran pada Sabtu (11/7/2026) waktu setempat. Langkah itu dilakukan sebagai balasan atas serangan terhadap sebuah kapal kontainer yang melintasi Selat Hormuz.
Centcom menyebut aksi tersebut menjadi peristiwa militer ketiga AS terhadap Iran dalam sepekan terakhir. Pemerintah AS menempatkan serangan ini sebagai respons langsung terhadap insiden di jalur pelayaran strategis.
Menurut Centcom, serangan udara itu diperintahkan Presiden Donald Trump setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyerang kapal dagang M/V GFS Galaxy yang berbendera Siprus. Serangan Iran dilaporkan memicu kebakaran di atas kapal dan menyebabkan kerusakan berat pada ruang mesin.
Akibat kerusakan tersebut, kapal tidak dapat melanjutkan pelayaran. Dalam laporan yang sama, disebut pula seorang awak sipil dilaporkan hilang.
Centcom juga menyatakan serangan ini ditujukan untuk membatasi kemampuan Iran menyerang pelaut sipil dan kapal komersial yang melewati Selat Hormuz. Pernyataan itu disampaikan melalui media sosial sebagai penjelasan resmi atas respons AS.
Konsekuensi yang disebut AS
“Dalam respons ini, Amerika Serikat membebankan konsekuensi besar dengan terus melemahkan kemampuan Iran untuk menyerang pelaut sipil dan kapal-kapal komersial yang melintas secara sah di Selat Hormuz,” tulis Centcom.
Menanggapi situasi yang berkelanjutan, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth turut menyampaikan pernyataan keras. “Iran membuat pilihan yang buruk. Sekarang mereka harus menanggung akibatnya,” kata Hegseth melalui akun X.
Rangkaian komunikasi tersebut menegaskan posisi AS bahwa serangan-serangan di wilayah Selat Hormuz menjadi alasan utama eskalasi militer. Bagi Washington, tindakan IRGC terhadap kapal komersial dipandang sebagai pemicu yang harus dibalas.
Iran menutup Selat Hormuz
Di sisi lain, Garda Revolusi Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz untuk seluruh lalu lintas kapal sampai waktu yang belum ditentukan. Pengumuman itu dikutip dari kantor berita pemerintah Iran, PressTV.
IRGC menyatakan tidak ada kapal yang diizinkan melintasi jalur pelayaran tersebut. “Tak ada kapal yang akan diizinkan melintas di selat itu,” demikian bunyi pernyataan Garda Revolusi yang dipublikasikan PressTV.
Berita Terkait
Pengumuman penutupan ini terjadi ketika ketegangan antara AS dan Iran terus meningkat, terutama setelah serangan udara terbaru yang disebut sebagai respons ketiga dalam sepekan.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia. Sebagian besar ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia melewati selat sempit tersebut, sehingga gangguan di sana dapat berdampak pada perdagangan energi global.
Karena itu, penutupan jalur atau perubahan pola pelayaran berpotensi menimbulkan konsekuensi lanjutan di luar konflik langsung. Situasi ini membuat kegiatan kapal-kapal komersial menjadi sorotan utama dalam sengketa yang berlangsung.
Serangan berulang di tengah sengketa rute
Serangan udara pada Sabtu disebut sebagai aksi ketiga AS dalam sepekan sebagai respons atas serangan Iran terhadap kapal-kapal dagang di Selat Hormuz. Centcom menilai Iran telah menyerang kapal yang menggunakan jalur pelayaran di sisi selatan, sepanjang pesisir Oman.
Centcom menyebut jalur di sisi selatan berada di bawah perlindungan militer AS. Sementara itu, Teheran dikabarkan menuntut agar kapal-kapal yang melintas menggunakan rute utara yang melewati perairan teritorial Iran.
Konflik jalur ini muncul setelah upaya pembukaan kembali Selat Hormuz. Pada 17 Juni, Washington dan Teheran disebut telah menandatangani nota kesepahaman untuk membuka kembali selat.
Dalam kesepakatan tersebut, Iran berjanji untuk mengupayakan keselamatan kapal yang melintasi Selat Hormuz serta tidak memungut biaya selama 60 hari. Namun, dokumen itu tidak mengatur secara rinci jalur pelayaran yang harus digunakan kapal.
Ketiadaan rincian rute ini kemudian membuka ruang perbedaan klaim antara kedua pihak. Centcom dan Teheran sama-sama memiliki versi sendiri mengenai pendekatan yang dianggap sesuai, termasuk jalur mana yang seharusnya dipakai.
Dengan latar tersebut, serangan terhadap kapal-kapal dagang menjadi titik balik yang memperuncing situasi. Insiden yang menimpa M/V GFS Galaxy menjadi contoh yang kemudian memicu respons militer AS pada Sabtu.
Memanasnya hubungan juga tercermin dari keputusan Iran untuk menutup Selat Hormuz bagi seluruh lalu lintas kapal. Penutupan itu, pada gilirannya, memberi sinyal bahwa pihak Iran memilih menahan pergerakan kapal sebagai langkah tekanan.
Ke depan, ketegangan yang berpusat pada Selat Hormuz berpotensi terus memengaruhi kegiatan pelayaran komersial. Ketika komunikasi dan klaim kedua pihak tetap berbeda, jalur strategis itu akan tetap menjadi medan paling sensitif dalam dinamika konflik AS-Iran.












