jurnalistik.co.id – Jannik Sinner memutus langkah Novak Djokovic di Wimbledon 2026 dengan kemenangan telak tiga set langsung, 6-4, 6-4, 6-4, untuk mengunci tiket ke final.
Di laga yang sama-sama sarat gengsi itu, petenis nomor satu dunia menutup perlawanan Djokovic sekaligus memastikan final melawan Alexander Zverev pada Minggu.
Sinner datang sebagai juara bertahan, dan tampil dengan kombinasi tenaga serta ketepatan yang membuat Djokovic kesulitan membangun momentum sejak awal pertandingan.
Hasil ini juga membawa Sinner melewati babak yang tahun lalu mengantarkannya mencapai tahap serupa, namun kali ini dengan bentuk dominasi yang lebih tegas.
Sinner menuntaskan duel tanpa memberi ruang
Dalam pertarungan ini, Sinner nyaris menjaga laga tetap terkunci. Ia tidak memberikan satu pun peluang break point hingga pertengahan set ketiga.
Situasi tersebut kemudian diakhiri dengan momen kunci di set ketiga, ketika satu-satunya kesempatan Djokovic benar-benar dipadamkan melalui servis ace sebelum Sinner melangkah lebih jauh.
Setelah itu, Sinner menutup kemenangan dengan cara yang rapi, melayani untuk kemenangan “love” sebelum keduanya saling bersalaman di net.
Keberhasilan ini menjadi kemenangan pertandingan Grand Slam ke-99 bagi Sinner, yang merupakan pemenang gelar mayor sebanyak empat kali.
Dengan catatan tersebut, Sinner juga menambahkan fakta penting bagi sejarah Wimbledon, karena ia menjadi petenis Italia pertama yang mencapai lebih dari satu final Wimbledon nomor tunggal putra.
Djokovic, yang didukung dengan sorakan keras saat ia keluar lapangan, harus menerima bahwa upayanya meraih gelar Grand Slam ke-25 masih tertunda.
Penantian untuk melewati Margaret Court dan menjadi pemegang rekor tunggal gelar Grand Slam putra masih belum selesai.
Sang 24 kali juara Grand Slam kemudian memberi salam dari Centre Court dalam suasana yang penuh apresiasi, sebelum melanjutkan perjalanan turnamennya.
Angka dan statistik: servis menjadi kunci
Dominasi Sinner tampak bukan hanya dari skor akhir, tetapi juga dari bagaimana ia mengendalikan ritme permainan.
Ia terus mempertahankan servis dengan sangat tajam, termasuk tambahan 16 ace pada Jumat dalam rangkaian pertandingan di All England Club.
Di sisi lain, Djokovic tidak menemukan cara untuk mengangkat levelnya ke performa puncak yang sempat membawanya meraih kemenangan atas Felix Auger-Aliassime di lima set.
Pada hari Rabu, Djokovic menjalani laga panjang selama lebih dari lima jam, hanya beberapa menit sebelum batas waktu 11 malam, yang membuat beban fisiknya terasa lebih berat saat menghadapi Sinner.
Meski demikian, Djokovic tetap berusaha melawan, namun Sinner mempertahankan keunggulan serangan maupun pertahanan.
Secara statistik, Sinner mencatat 40 winners berbanding 15 unforced errors, angka yang menunjukkan bagaimana ia menekan dengan kualitas pukulan, bukan sekadar memanfaatkan kesalahan lawan.
Di periode penting, Sinner juga sempat menghadirkan momen yang membuat stadion terbelalak.
Pada game kesembilan, ia memaksa dua peluang break point, lalu sempat terpaut setelah bola net pada overhead yang tergolong rutin.
Namun, ia segera “membalas” dengan pukulan backhand down the line yang mengejutkan, sehingga tekanan tetap menjadi miliknya.
Berita Terkait
- Sophie Ecclestone Torehkan Sejarah di Lord’s, Inggris vs India Sambil Menghormati Pelopor
- Kedekatan Bellingham dan Haaland yang Diburu Internet: dari Borussia Dortmund hingga World Cup
- Sophie Ecclestone jadi sorotan saat Inggris bangkit di hari pertama Test Wanita bersejarah di Lord’s melawan India
Centre Court sempat bergemuruh mendukung Djokovic, termasuk dengan nyanyian nama sang petenis, berharap mendorongnya menemukan kebangkitan.
Upaya itu belum cukup karena celah untuk bergerak dalam pertandingan tetap sulit didapat oleh Djokovic.
Rangkaian set demi set yang terus memudarkan harapan Djokovic
Djokovic sempat bertahan saat mendapat tekanan di servisnya, bahkan sampai memegang keunggulan 3-2 pada set kedua.
Tetapi dua game berselang, Sinner tetap menemukan jalan dengan mengambil break keempatnya pada set itu lewat drop shot yang indah.
Dengan keunggulan dua set, Sinner tidak melonggarkan ritme. Ia langsung menciptakan dua peluang break point pada game pembuka set ketiga.
Djokovic sempat membalas, menyelamatkan peluang-peluang tersebut sekaligus peluang ketiga ketika Sinner terus menguji pertahanan.
Namun pada akhirnya, Djokovic menyerah pada peluang break keempat, sebuah momen yang praktis menutup jalannya pertandingan.
Sinner kemudian mengunci keunggulan setelah bertahan hingga menjadi 3-1, sebelum akhirnya memenangkan delapan poin tanpa balasan pada dua game servis terakhirnya.
Secara durasi, pertandingan berlangsung 2 jam 20 menit, hanya enam menit lebih lama dibanding kemenangan tercepat Sinner di turnamen tahun ini.
Kata Sinner setelah memastikan tempat di final
Usai memastikan kemenangan dan tiket final, Sinner menyampaikan apresiasinya terhadap Wimbledon.
“It’s the most special tournament we have. It means a lot to me to play another final here,” kata Sinner.
Ia juga menyoroti arti bermain melawan Djokovic bagi generasi yang lebih muda.
“Of course, playing against Novak, he is a huge inspiration – not only for you guys but for the new generation – what he is still doing is amazing, incredible.”
Sinner menutup penilaiannya dengan menegaskan bahwa laga-laga di Wimbledon selalu menuntut ketahanan mental.
“We always have very, very tough matches. I’m very happy with this performance.”
Dengan kemenangan ini, Sinner berada satu langkah lagi untuk menjadi petenis ke-10 dalam era Open yang mampu mempertahankan gelar Wimbledon nomor tunggal putra.
Di final, ia juga berangkat dengan modal keyakinan karena belum pernah kalah dari Zverev sejak 2023.
Sinner sendiri belum menjatuhkan satu set pun sejak pertandingan pertamanya yang berjalan hingga tuntas.
Berdasarkan rangkaian itu, ia akan melangkah sebagai favorit setelah “pernyataan” kuatnya atas Djokovic.
Namun, Sinner juga memahami bahwa Zverev datang dengan cerita yang berbeda, setelah mengakhiri penantian gelar mayor pertamanya di Roland Garros.
Head-to-head keduanya memperlihatkan Zverev pernah lebih sering memberi perlawanan di momen-momen tertentu, karena Sinner unggul 10 kemenangan dari 14 pertemuan sebelumnya.
Kombinasi pengalaman Sinner dan performa Zverev akan menjadi penentu dalam final Wimbledon 2026 yang mempertemukan dua pemain dengan gaya permainan yang sama-sama menuntut kesabaran, ketepatan, dan keberanian mengambil risiko.












