jurnalistik.co.id – Wimbledon 2026 memasuki babak yang kian dekat dengan pertarungan para kandidat gelar, setelah dua petenis kualifikasi meraih hasil mengejutkan pada ronde awal. Roman Safiullin dan Shintaro Mochizuki sama-sama mematahkan rintangan besar dan kini mengincar langkah berikutnya melawan nama-nama unggulan.
Dengan hasil tersebut, Safiullin dan Mochizuki membuka peluang untuk menggeser peta persaingan di turnamen. Keduanya akan bersiap menghadapi Novak Djokovic dan Jannik Sinner, dua bintang yang berdiri di depan mereka untuk melaju lebih jauh.
Roman Safiullin melumpuhkan Joao Fonseca
Roman Safiullin tampil lepas kendali saat menumbangkan Joao Fonseca dengan skor 6-3 6-3 6-3. Kemenangan itu datang setelah ia sempat bergelut dengan cedera yang, menurut pengakuannya, sempat membuat ia meragukan peluang kembali ke level tertinggi.
Safiullin, petenis 28 tahun asal Rusia, merasakan rollercoaster perjalanan musimnya. Ia merupakan mantan perempatfinalis Wimbledon, tetapi berada di peringkat 132 dunia dan belum mencatat kemenangan di level ATP Tour pada tahun ini sebelum memulai fase kualifikasi.
Ia mengakhiri musim 2025 setelah US Open pada bulan Agustus dan baru kembali beraktivitas pada Februari. Di Wimbledon, Safiullin juga menjalani ritme pemulihan yang panjang, bahkan mengingat masa saat ia tidak yakin bisa pulih sepenuhnya.
Kemenangan atas Fonseca disertai momen yang sangat emosional. Safiullin menang di Court Two setelah mendapat dukungan penuh penonton, hingga ia sampai “in tears” dan menerima applause berdiri.
“After the US Open, I had to stop to treat my injury. That time was super tough. Even half a year ago, I didn’t know whether I would be able to [come] back,” kata Safiullin. Ia lalu menambahkan penjelasan yang lebih personal mengenai perasaannya setelah pertandingan.
“It [the emotion] came from the hard times, I would say. It was not an easy period.” Ucapan itu memperjelas bahwa hasil besar yang ia raih bukan sekadar kemenangan tenis, melainkan juga penanda keberhasilan melewati periode sulit.
Setelah mengatasi Fonseca—yang berstatus unggulan 24—Safiullin kini akan memasuki babak keempat. Ia menatap pertemuan dengan Djokovic, yang merupakan juara tujuh kali, pada hari Minggu.
Safiullin juga menilai peta laga melawan Djokovic berdasarkan pengalaman yang pernah ia rasakan. “I played against him three times and only one time I was really close to getting a set against him. The other two times he destroyed me. Hopefully this time I will give him problems and make him suffer on the court.”
Catatan menariknya, Safiullin juga datang ke Wimbledon dengan momentum. Ia sedang menjalani kemenangan beruntun enam pertandingan di SW19, termasuk tiga kemenangan dari pertandingan kualifikasi.
Berita Terkait
Mochizuki bangkit, menyingkirkan Rafael Jodar
Di sisi lain, Shintaro Mochizuki mencetak kejutan berbeda lewat kebangkitan dramatis melawan Rafael Jodar. Naomi Osaka hadir untuk menyaksikan secara langsung laga itu, sementara Mochizuki akhirnya membalik keadaan.
Mochizuki, yang berstatus peringkat dunia nomor 151, hanya mampu memenangkan satu dari delapan gim pertama saat menghadapi Jodar. Namun pada akhirnya ia meraih kemenangan dengan skor 1-6 7-6 (7-5) 6-4 6-4.
Jodar memasuki pertandingan sebagai unggulan 23, tetapi Mochizuki membuktikan ketahanannya setelah sempat tertinggal. Dengan kemenangan ini, ia melaju ke babak keempat dan akan menghadapi Sinner, petenis yang berstatus juara bertahan.
Seperti Safiullin, Mochizuki juga menghadapi catatan yang tidak mudah sebelum turnamen. Ia gagal meraih satu pun kemenangan di level tur musim ini—kehilangan semua enam pertandingan—namun kali ini ia berhasil mengubah tren tersebut dengan menembus babak lanjutan di Grand Slam untuk pertama kalinya.
“It’s a strange feeling to play Jannik at Wimbledon, especially now this year. I think he’s just a celebrity for me,” kata Mochizuki. Ia juga mengungkap rasa campur aduk menjelang laga, seiring kenyataan bahwa ia akan melawan pemain yang sedang membawa momentum besar.
“I was not winning much before coming here, and I don’t know how I have been winning matches here.” Bagi Mochizuki, hasil-hasil yang datang di Wimbledon terasa seperti kejutan yang ia sendiri masih coba pahami.
“I’m excited but, at the same time, I feel a little bit strange to be here. I just want to keep enjoying it.” Pernyataan itu menegaskan bahwa ia ingin tetap menjaga fokus pada proses, tanpa menambah beban pikiran.
Menariknya, kedekatan Mochizuki dan Osaka turut memberi dimensi emosional pada hari pertandingan. Setelah memenangkan pertandingan ronde ketiga lebih dulu pada Jumat, Osaka terlihat mendukung Mochizuki di Court 18.
Keduanya menjadi teman saat bermain bersama di United Cup pada awal tahun ini. “I knew she had already won her match, so I was very happy she was there. She’s been playing the best tennis on this surface this year, I think it’s a great year for us,” ujar Mochizuki.
Ia menambahkan penghargaan terhadap Osaka sebagai sosok yang suportif. “She’s been really nice to me. She messages me when I win, and I follow her matches too.”
Di penutup, Mochizuki menyampaikan rasa senangnya karena keduanya sama-sama melaju. “I’m very happy we’re both here. She’s one of the nicest personalities.”












