Peristiwa

Haytor Vale: Desa kecil di Dartmoor tempat kisah duka Ann Widdecombe mengguncang warga

×

Haytor Vale: Desa kecil di Dartmoor tempat kisah duka Ann Widdecombe mengguncang warga

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Haytor Vale: The village at the heart of Ann Widdecombe tragedy

jurnalistik.co.id – Kematian Ann Widdecombe meninggalkan guncangan yang masih terasa di lingkungan kecil tempat ia tinggal. Warga setempat menggambarkan suasana yang berubah cepat, dari kehidupan yang biasanya tenang menjadi penuh penjagaan polisi.

Di Haytor Vale, sebuah desa di pinggir Dartmoor dengan jumlah penduduk kurang dari 200 orang, area sekitar rumahnya kini dipasangi pembatas kepolisian. Nama rumahnya, “Rest” yang selama ini ia pakai sebagai simbol masa pensiun, kini membawa makna yang jauh lebih kelam.

Pihak kepolisian masih mempertahankan kordun di sekitar lokasi. Mereka juga terus menjalankan penyelidikan setelah Widdecombe ditemukan meninggal pada Kamis pagi.

Seiring proses penyidikan dan pencarian pelaku berlanjut, muncul kekhawatiran lain di benak warga. Ada dugaan kuat bahwa tindakan kejahatan terjadi, dan polisi menilai pelaku bisa jadi belum ditemukan.

Sejumlah tetangga menyebut betapa sulitnya menerima kenyataan tersebut. “It shouldn’t have happened, it’s horrific,” ujar salah seorang tetangga, sambil menegaskan bahwa daerah itu selama ini terasa sangat aman: “It’s very, very safe around here.”

Seorang warga lainnya menambahkan kesan yang senada. “It’s unbelievable someone could do something like that.”

Biasanya, desa itu ramai oleh pejalan kaki, keluarga, dan penggemar alam, terutama pada musim panas. Namun dalam beberapa hari terakhir, kehadiran mereka berganti dengan polisi berseragam, petugas forensik, serta wartawan di lapangan.

Di sekitar rumah Widdecombe, suasana duka terlihat dari penempatan bunga. Ada pula bunga yang disandarkan pada papan bertuliskan “Please drive slowly”, seolah menjadi pengingat sederhana bahwa perhatian warga sekarang tertuju pada peristiwa besar yang menimpa mereka.

Warga lokal juga menggambarkan hilangnya sosok yang sebelumnya dikenal dekat dalam keseharian. Sejak Widdecombe pindah ke wilayah itu sekitar 18 tahun lalu, ia dikenal bukan sekadar nama publik, melainkan “just a person in the community”.

Seorang tetangga, Alison Gilbert, mengingat Widdecombe sebagai sosok “a really nice woman” dengan selera humor yang kuat. Simon Gilbert menyatakan, “She didn’t deserve to die like that,” dan bagi sebagian warga lain, ia dikenang sebagai pribadi yang mudah diterima: “well-liked and accepted”.

Di sisi lain, ketenangan yang selama ini melekat pada lingkungan mereka terasa runtuh oleh perkembangan kasus. Petugas polisi juga melakukan pengecekan dari rumah ke rumah, sambil mencari informasi yang mungkin membantu penyelidikan.

Aktivitas pintu ke pintu ini membuat warga harus menunggu tanpa kepastian yang jelas. Hingga saat ini, mereka hanya bisa duduk tenang, memperhatikan setiap perkembangan, sekaligus mencoba memaknai apa yang terjadi.

Bagi komunitas yang mengenal Widdecombe dari kegiatan ibadah, kabar ini turut mengguncang. Widdecombe digambarkan sebagai “a frequent worshipper” di Abbey Church di Buckfast Abbey, dan komunitas biara menyampaikan bahwa ia akan “missed and fondly remembered”.

Dari pihak monastik, condolences atau belasungkawa juga disampaikan kepada keluarga dan sahabat Widdecombe. Ungkapan itu memperlihatkan bahwa dampak kehilangan tidak berhenti pada lingkungan desa, melainkan menyentuh komunitas rohani tempat ia kerap hadir.

Di tempat yang berdekatan dengan rumahnya, Peter Horrall—sopir Widdecombe dalam waktu yang lama—juga menempatkan bunga. Ia menilai Widdecombe sebagai figur yang “great, very kind” dan menyebut pengalamannya mengantar sebagai “a privilege”.

Dalam pengingatannya, Horrall menyoroti cara Widdecombe merespons percakapan sehari-hari. Ia berkata, “I liked her because if you asked her a question, you’d get an answer – no mucking about.”

Di desa tetangga, Ilsington—yang bisa dicapai dalam perjalanan singkat melalui jalan berkelok di Devon—Widdecombe juga sering terlihat di toko lokal. Para warga di sana menyebut kebiasaan kecilnya yang hangat, seperti menyapa dengan “smile and a wave”.

Warga setempat menambahkan bahwa proses penyelidikan yang sedang berlangsung telah membuat mereka merasa “worried”. Jane Parsons, salah satunya, menyatakan kekhawatiran itu muncul karena polisi masih mencari keterangan dan memastikan keadaan sekitar aman.

Hingga penyidikan mencapai tahap berikutnya, Haytor Vale tetap berada dalam mode siaga. Kordun polisi dan kehadiran petugas di lapangan menjadi penanda bahwa pertanyaan besar belum sepenuhnya terjawab.

Bagi warga, yang paling berat adalah jarak antara kebiasaan hidup yang dulu terasa stabil dan kenyataan hari ini. Mereka berusaha tetap menjaga lingkungan, sambil menunggu informasi resmi dari kepolisian mengenai temuan dan langkah penyelidikan berikutnya.

Di tengah duka, desa kecil itu juga menunjukkan solidaritas dengan menaruh bunga dan menyampaikan ingatan tentang sosok yang dikenal baik. Sambil menunggu kabar lanjutan, warga berharap penyelidikan dapat memberi kejelasan—dan sekaligus memulihkan rasa aman yang sempat mereka miliki.