jurnalistik.co.id – Leopold Aschenbrenner, mantan peneliti OpenAI yang dikenal lewat manifesto bertema AI berjudul Situational Awareness, mengalami kemerosotan tajam pada hedge fund yang ia kelola. Dana tersebut tergerus ketika pasar saham teknologi bergerak berlawanan dengan posisi investasinya.
Menurut laporan CNBC yang disebut dalam pemberitaan, dana investasi Situational Awareness sempat mengelola aset hingga sekitar 45 miliar dollar AS atau setara Rp 813,6 triliun. Namun, setelah terjadi aksi jual besar-besaran, nilai asetnya anjlok menjadi kira-kira 10 miliar dollar AS, setara Rp 180,8 triliun.
Dengan demikian, sekitar 35 miliar dollar AS atau kira-kira Rp 632,8 triliun nilai aset lenyap dalam waktu singkat. Penurunan drastis ini terjadi di tengah gejolak pasar yang meningkatkan kebutuhan likuiditas untuk menutup kewajiban investasi.
Likuidasi paksa dan margin call
Penurunan tersebut dikaitkan dengan keputusan dana untuk melepas seluruh posisi saham berbasis pinjaman (leveraged positions). Langkah itu dilakukan untuk memenuhi tuntutan margin call, setelah pasar bergerak tidak sesuai skenario awal dana.
Pemberitaan menyebut bahwa pelepasan tersebut mencakup kepemilikan pada saham-saham terkait AI, termasuk SK Hynix dan CoreWeave. Posisi yang dijual tersebut dilepas kepada Citadel milik Ken Griffin dengan harga diskon, sebagai bagian dari upaya memenuhi kebutuhan margin.
Di luar angka kerugian, kasus ini dipandang mencerminkan tingginya volatilitas investasi bertema AI yang sebelumnya sempat mengalami lonjakan valuasi. Ketika arah pasar berbalik, strategi yang bertumpu pada leverage membuat dana lebih rentan terhadap tekanan jangka pendek.
Jerry Diao, pendiri perusahaan pelatihan Wall Street, menilai ada perbedaan penting antara pandangan jangka panjang dan kemampuan bertahan di pasar publik. Ia menyatakan, “Mungkin pandangannya mengenai AI benar untuk jangka panjang, tetapi di pasar publik Anda harus mampu bertahan menghadapi kondisi jangka pendek.”
Berita Terkait
Riwayat cepat: dari manifesto hingga peluncuran dana
Aschenbrenner mulai dikenal luas setelah menerbitkan manifesto setebal 165 halaman berjudul Situational Awareness pada 2024. Dalam tulisannya, ia memprediksi artificial general intelligence (AGI) akan hadir lebih cepat daripada perkiraan banyak pihak dan mengubah berbagai aspek kehidupan manusia.
Sebelum mendirikan dana, ia bekerja di tim Superalignment OpenAI di bawah ilmuwan AI Ilya Sutskever. Ia kemudian keluar dari OpenAI pada 2024, dan setelah itu mendirikan hedge fund bernama Situational Awareness.
Dana tersebut diluncurkan pada Juli 2024, saat usia Aschenbrenner baru 24 tahun. Dalam periode awal, Situational Awareness mencatatkan imbal hasil lebih dari 1.000 persen sejak diluncurkan, sebagaimana dilaporkan The Wall Street Journal.
Modal awal dan jaringan investor
Situational Awareness juga sempat menarik perhatian karena berhasil menghimpun modal awal sekitar 225 juta dollar AS atau sekitar Rp 4,07 triliun. Penggalangan modal itu melibatkan sejumlah tokoh teknologi, termasuk pendiri Stripe Patrick dan John Collison, mantan CEO GitHub Nat Friedman, serta investor Daniel Gross.
Meskipun mengalami koreksi tajam, sebagian aset dana disebut masih berada pada investasi di perusahaan AI swasta. CNBC menyebut adanya kepemilikan bernilai miliaran dollar AS di Anthropic, di samping posisi lain yang relevan dengan tema AI.
Dengan rentang nilai yang berubah drastis dari sekitar 45 miliar dollar AS menjadi 10 miliar dollar AS, kasus Leopold Aschenbrenner memperlihatkan bagaimana strategi yang sangat bergantung pada leverage dapat menghadapi risiko besar saat pasar tidak mendukung. Meski narasi tentang masa depan AI tetap menjadi bagian dari gagasan awalnya, tekanan margin call dan pelepasan paksa posisi menjadi pemicu utama amblasnya nilai aset dalam fase krisis.












