jurnalistik.co.id – Dua puluh lima tahun setelah serangan 11 September, rasa kehilangan yang dialami keluarga korban tetap bertahan—bahkan ketika prosedur hukum yang dijanjikan tak kunjung mengarah pada persidangan yang sesungguhnya. Pemerintah AS menyebut peristiwa itu sebagai “the most egregious criminal act on American soil in modern history”, namun bagi para penyintas dan keluarga, keadilan masih berada di luar jangkauan. John Resta dan istrinya Sylvia kehilangan putra mereka saat pesawat pembajak menabrak World Trade Center dan Pentagon pada 11 September 2001. Pasangan itu saat itu bekerja di lantai 92 menara utara, sementara satu pesawat lain jatuh di sebuah ladang di Pennsylvania setelah penumpang melawan. Dalam hari-hari menjelang serangan, mereka menyiapkan kamar bayi untuk anak yang belum lahir, mengecatnya dengan karakter dari acara televisi anak-anak Blue’s Clues. Resta menceritakan bahwa setelah bertahun-tahun berlalu, ingatan itu masih terasa menghantam. “After all this time, it still chokes me up,” ujar Resta kepada BBC melalui air mata, dan ia menambahkan bahwa 9/11 “almost constantly” berada di benaknya. Sementara waktu terus bergerak, proses hukum terhadap tokoh yang diduga sebagai dalang tetap tertunda. Resta beberapa kali harus pergi ke pangkalan Angkatan Laut AS di Guantanamo Bay untuk menyaksikan tahapan persidangan pendahuluan bagi Khalid Sheikh Mohammed dan para terdakwa lain. Ia menggambarkan proses itu “laborious and tedious”, dengan perdebatan yang panjang dan melelahkan. Di Guantanamo Bay, sebuah penjara militer dibangun selama “war on terror” yang menyusul serangan 11 September. Mohammed—yang sering disebut KSM—telah ditahan di sana selama 20 tahun, namun belum pernah divonis. Keluarga korban yang ingin hadir mengikuti mekanisme undian untuk masuk ke ruang sidang berkeamanan tinggi, di mana kaca tebal memisahkan mereka dan media dari para terdakwa. Resta mengatakan proses pra-persidangan telah berlangsung begitu lama hingga kini dipimpin oleh lima hakim militer yang berbeda. Menjelang peringatan ke-25 tahun, sempat ada gelombang perubahan; Rabu terakhir menetapkan tanggal sidang Mohammed untuk Juni 2028. Namun Resta menyatakan dirinya justru bersiap menghadapi penundaan lain, karena rentang waktu yang sudah sedemikian panjang membuat sebagian keluarga takut tak sempat melihat persidangan itu. “My father will be 98 in November, and I don't think he's expecting to see it. I have a lot of family members – aunts, uncles – that would all like to see it happen. But my parents in particular, I don't think they expect to live long enough,” kata Resta. Ia menambahkan, “Hopefully all the defendants will still be alive by the time we get to trial. That's a big worry.” Kekhawatiran serupa juga disampaikan keluarga korban lain. Stephan Gerhardt, yang melakukan perjalanan Guantanamo untuk keenam kalinya, mengatakan melihat vonis atas kematian adik laki-lakinya, Ralph, adalah hal yang penting baginya. Meski demikian, ia menyatakan ada bagian yang ia harap tak lagi perlu dipikirkan: “I want to concentrate on the memories,” ujarnya. Ia masih menyimpan mobil milik Ralph dan berupaya memulihkannya agar kembali seperti semula, sambil menuturkan bahwa ketika mereka baru-baru ini berkunjung ke orang tuanya, mereka menemukan barang-barang peninggalan Ralph yang disimpan keluarga. Gerhardt menilai “biggest concern”-nya adalah keinginan agar Mohammed dan para dugaan konspirator lain mendapatkan vonis sebelum mereka meninggal. “They're getting elderly… I don't want them to pass away without being convicted, because that would be an injustice to all the family members – that we captured these people, but we never got to try them and convict them for the mass murder that they did of our loved ones.” Baginya, penundaan sampai tahap vonis dirasa melukai makna “peradilan” itu sendiri. Mohammed menghadapi dakwaan yang mencakup konspirasi dan pembunuhan, dengan lembar dakwaan mencantumkan 2,976 korban. Ia diduga merancang gagasan untuk melatih pilot menerbangkan pesawat komersial ke dalam bangunan, serta menyerahkan rencana itu kepada Osama bin Laden, pemimpin kelompok militan Islam al-Qaeda. Mohammed sebelumnya juga menyatakan ia berencana melakukan “9/11 operation from A to Z”. Meski tanggal sidang ditetapkan untuk 2028, keputusan hakim militer pada bulan lalu mengubah arah perkara. Setelah Mohammed dipindahkan dari penjara rahasia CIA yang dikenal sebagai “black sites” dan kemudian dibawa ke Guantanamo, pengadilan membatalkan pengakuan yang ia buat kepada agen FBI. Dalam putusannya, hakim menyebut perlakuan CIA terhadap Mohammed sebagai “extraordinary physical and mental abuse”, serta memutuskan bahwa pengakuan itu tidak bersifat sukarela sehingga tak dapat digunakan dalam persidangan. Sejumlah ahli menyebut penyiksaan yang dialami Mohammed dan para terdakwa lain sebagai penyebab utama lamanya keterlambatan. Kasey McCall-Smith, profesor hukum internasional dari Universitas Edinburgh, menilai bahwa “Every single issue has been litigated through the issue of torture.” Ia menyatakan para terdakwa mengalami “years of abuse”, termasuk waterboarding dan posisi penuh tekanan (stress positions). John Ryan, penulis buku America’s Trial: Torture and the 9/11 Case on Guantanamo Bay, mengatakan putusan bulan lalu membuat jaksa kehilangan sesuatu yang digambarkan sebagai bukti terbaik terhadap Mohammed. Namun, Ryan menekankan bahwa dampaknya terhadap jalannya perkara belum jelas. Menurutnya, pihak penuntut masih memiliki bukti lain, termasuk panggilan telepon yang dicegat dan rekaman rahasia, tetapi apakah bukti-bukti itu akan tampil di persidangan tidak dijamin. Dalam konteks itu, Ryan juga menyebut bahwa tim pembela akan mengajukan permohonan untuk menolak kategori bukti tertentu: “Mohammad's team and the other defence teams will file motions to suppress some of these categories of evidence, as well.” Artinya, bahkan setelah tanggal sidang ditetapkan, debat mengenai bukti masih berpotensi berlangsung dan memengaruhi jadwal. Pada masa pemerintahan George W Bush, pemerintah AS mengakui penggunaan “enhanced interrogation techniques” untuk memperoleh informasi dari para tersangka, sekaligus menyatakan bahwa metode itu menyelamatkan nyawa dan tidak pernah termasuk penyiksaan. Kebijakan itu kemudian dicabut oleh Presiden Barack Obama pada hari kedua masa jabatannya, yang melarang teknik tersebut. Namun, bagi keluarga korban, persoalan penyiksaan yang menyertai proses penahanan tetap menjadi penghalang terhadap hak mereka untuk mendapatkan keadilan. Gerhardt menegaskan bahwa jika perlakuan itu tidak dilakukan, implikasi hukumnya mungkin bisa jauh lebih sederhana: “If we would've not tortured them, the legal implications here would've been much, much simpler. They probably would've been sentenced to death a long time ago.” Ia juga berkata, “I can't control what the government did, and we've got to live with the impacts.” Gerhardt dan Resta sama-sama melakukan perjalanan ke Guantanamo pada awal 2025, ketika Mohammed dan dua terdakwa lain sempat diperkirakan akan mengaku bersalah dalam kesepakatan yang dipandang kontroversial. Kesepakatan itu dibuat dengan jaksa penuntut AS, di mana para terdakwa tidak akan menghadapi sidang yang berujung pada hukuman mati. Namun, menurut cerita yang menyertai proses itu, kesepakatan pengakuan bersalah sempat tertunda di menit terakhir setelah pemerintah AS berargumen bahwa menolak persidangan publik untuk membuktikan kesalahan para responden serta kemungkinan hukuman kapital akan menimbulkan “irreparable” harm. Pertarungan legal terkait validitas kesepakatan tersebut masih terus berlangsung. Di satu sisi, sebagian keluarga korban memandang skema itu sebagai satu-satunya jalan untuk bergerak maju, sedangkan pihak lain mengkritiknya karena terlalu ringan dan minim transparansi. Resta menyatakan ia mendukung kesepakatan itu demi memastikan adanya putusan: “My philosophy is these guys are not the kind of people that should be out walking the streets, but as far as I'm concerned, they can just stay right where they are. I just want them convicted,” ujarnya. Brett Eagleson, yang ayahnya Bruce tewas dalam serangan 11 September, memilih arah yang berbeda. Ia ingin proses penuh lewat persidangan, bukan kesepakatan pengakuan bersalah. “It's not so much that I'm taking an opinion on life or death for these prisoners, but I believe in the judicial system and I believe that the process works and I believe that a trial and discovery and sort of a public airing is the way to flush the truth out,” kata Eagleson. Ia menggambarkan situasi di Guantanamo sebagai “a mess”. Eagleson juga menyebut dirinya memutuskan untuk tidak menghadiri tahapan pendahuluan di lokasi tersebut, dengan alasan frustrasi yang menumpuk: “My overall feeling is a sense of betrayal from the US government and a sense of extreme frustration,” katanya. Ia menambahkan, “They've botched every single part of this trial.” Eagleson menilai bahwa walau 9/11 terus hadir dalam hidupnya, bagi publik luas peristiwa itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang makin jauh dari pengalaman langsung: “I think people just assume that we got Bin Laden, we're out of Iraq, the war in Afghanistan's over, and they just assume that chapter has ended.” Namun, bagi keluarga korban, bab tersebut justru belum benar-benar ditutup karena vonis belum dijatuhkan. Ketika persidangan itu akhirnya dimulai di pengadilan militer di Guantanamo, estimasinya berlangsung sekitar satu tahun. Kasey McCall-Smith menjelaskan bahwa tujuan dari tahapan pra-persidangan adalah menentukan bukti apa yang masuk dan apa yang tidak: “If that is agreed in advance, the trial can be more expeditious,” ujarnya. Sementara menyiapkan peringatan berikutnya, Gerhardt menatap hasil akhir dengan harapan sederhana: waktu ketika sidang selesai dan ia tidak lagi harus bepergian ke Guantanamo. “It's a place I don't want to come back to. I want to live my life, enjoy my passions and my memories of Ralph,” katanya, menegaskan bahwa setelah sekian lama, yang paling mereka tunggu bukan sekadar tanggal, melainkan keputusan yang mengunci pertanggungjawaban di pengadilan.
Beranda
Hukum & Kriminal
"Constantly on my mind" — derita 9/11 bagi keluarga korban bertahan 25 tahun, sementara sidang tersangka dalang masih belum dimulai
“Constantly on my mind” — derita 9/11 bagi keluarga korban bertahan 25 tahun, sementara sidang tersangka dalang masih belum dimulai
Redaksi8 min baca












