jurnalistik.co.id – Gedung Putih dilaporkan telah menarik gim berformat mirip Tetris yang sebelumnya tersedia di situsnya dengan nama “Build The Wall”. Keputusan ini muncul beberapa hari setelah The Tetris Company menyampaikan keberatannya terkait penggunaan kemiripan gim tersebut.
Dalam permainan itu, pemain menumpuk balok untuk membangun sebuah tembok yang digambarkan sebagai upaya “protect the border” atau melindungi perbatasan. Gim tersebut merupakan salah satu dari lima gim arcade yang sebelumnya tampil di bagian gim mini di situs Gedung Putih.
Pada 4 September, akun resmi The Tetris di platform X menyatakan bahwa perusahaan tersebut tidak terlibat dalam pembuatan gim tersebut. Dalam unggahan yang sama, The Tetris Company juga menegaskan bahwa pihaknya “copyright infringement very seriously” atau menganggap pelanggaran hak cipta dengan sangat serius.
Hingga berita ini dimuat, Gedung Putih belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar dari BBC, maupun tidak menyertakan alasan resmi mengenai penghapusan gim tersebut. Konfirmasi resmi dari pihak Gedung Putih juga tidak muncul dalam informasi yang dihimpun.
The Tetris Company menjelaskan sikapnya melalui pernyataan awal terkait gim yang ditarik. “At Tetris we believe in the power of connection and building people together, not dividing them,” bunyi pernyataannya, disertai pesan kepada penggemar: “To our fans everywhere: we love you, we see you, and we’re grateful to have you in our community.”
Perusahaan itu juga memiliki catatan penanganan pelanggaran hak cipta yang pernah berujung pada gugatan terhadap pihak lain. Salah satu yang disebut dalam laporan adalah penyelesaian sengketa dengan pengembang gim iPhone “Mino” pada 2012, yang menurut The Tetris Company meniru “look and feel” atau tampilan serta nuansa permainan pembangun balok.
Meski “Build The Wall” tidak lagi tersedia, empat gim arcade lain masih tetap berada di bagian gim mini di situs Gedung Putih. Gim “Flappy Bill” disebut sebagai tiruan dari “Flappy Bird” versi 2013, di mana pemain terbang menggunakan seekor elang botak dan menghindari monumen-monumen di area National Mall.
Berita Terkait
- Ibu Tasia Fortune menuntut kejelasan, berminggu-minggu setelah jenazah perempuan kulit hitam ditemukan tergantung di pohon Mississippi
- Ibu masih menuntut jawaban, berminggu-minggu setelah perempuan kulit hitam ditemukan tergantung di pohon Mississippi
- “Constantly on my mind” — 25 tahun setelah 9/11, duka keluarga korban belum berakhir
Sementara itu, gim “Rio Run” meminta pemain “patrol the line along the river”, dengan alur permainan yang disebut mengingatkan pada gim ponsel klasik “Snake”. Dalam laporan, ketika pemain menyentuh tepi peta, permainan menampilkan angka “Deported” untuk menunjukkan berapa orang yang berhasil ditangkap pemain.
Respons politik dan keterkaitan budaya gim dengan pesan kampanye
Gim-gim tersebut juga menarik perhatian dan kritik dari sejumlah politisi. Salah satu contoh yang disebut adalah cuitan Matt Lesser, senator negara bagian Connecticut dari Partai Demokrat, yang menyinggung kondisi harga energi sembari mengaitkan kritik pada keberadaan gim bertema isu perbatasan.
Dalam laporan juga disebut bahwa bagian arcade Gedung Putih hanyalah satu contoh bagaimana pemerintahan Trump makin sering memasukkan budaya gim ke dalam pesan politik di media sosial. Pada Oktober 2025, akun resmi Gedung Putih sempat mendapat kecaman karena memposting gambar Presiden Trump yang disebut dibuat dengan bantuan AI, dengan kostum yang dikaitkan pada permainan video “Halo”.
Kemudian pada 6 Maret, akun tersebut juga memposting video yang menggabungkan cuplikan serangan militer AS di Iran dengan potongan film dan televisi, serta menampilkan klip dari karakter utama “Halo” bernama Master Chief yang mengucapkan “finishing this fight”.
Unggahan tersebut dikutuk oleh Steve Downes, pengisi suara Master Chief, dalam cuitan yang kemudian dihapus. Ia menyerukan agar “the producers of this disgusting and juvenile war porn” atau produsen “konten perang” yang ia nilai memuakkan dan kekanak-kanakan menghapus suaranya dari video.
Selain itu, Pokémon Company International juga disebut sempat mengkritik penggunaan materi visual mereka. Kritik datang pada Maret, ketika Gedung Putih memuat versi kecil karakter Pikachu dalam sebuah meme yang memuat frasa “Make America Great Again”.











