jurnalistik.co.id – Seorang anggota Polda Sumatera Selatan yang bertugas di Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) menjadi korban pembegalan di Palembang saat bekerja sambilan sebagai pengemudi ojek pangkalan. Peristiwa terjadi pada Kamis (7/8/2026) dini hari, dan pelaku membawa kabur sepeda motor milik korban setelah menikam perutnya tiga kali.
Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol Nandang Mukmin Wijaya menyebut korban awalnya sedang mencari penumpang di kawasan Polrestabes Palembang. Dari lokasi tersebut, kejadian berawal ketika korban mendekati dua orang yang saat itu terlihat terlibat keributan.
Awal kejadian di kawasan Polrestabes Palembang
Nandang menjelaskan korban terlebih dahulu melihat seorang perempuan berinisial FR dan seorang pria berinisial PI sedang bertengkar. Korban kemudian menghampiri keduanya dan menanyakan apa yang sebenarnya mereka perdebatkan.
“Korban mendatangi mereka dan bertanya kenapa ribut. Pelaku FR mengaku kehilangan sepeda motor, lalu meminta korban mengantarkan mereka ke daerah simpang empat,” ujar Nandang.
Permintaan tersebut membuat korban melayani keduanya sebagai penumpang. Setelah itu, korban mengantarkan FR dan PI menuju lokasi yang diminta.
Modus berlanjut saat korban menagih ongkos
Nandang menilai, setibanya di tempat tujuan, kepolisian menduga keributan kembali dipancing sebagai bagian dari modus untuk melancarkan aksi kejahatan. Korban kemudian berinteraksi dengan para pelaku terkait ongkos perjalanan.
Ketika korban menagih pembayaran, muncul pelaku lain yang berinisial FS. Dalam keterangannya, FS diketahui merupakan ayah dari PI, dan pada saat itu ia mendatangi korban dengan membawa sebatang kayu.
Kepala dipukul, lalu perut ditusuk tiga kali
Berita Terkait
Menurut Nandang, pelaku FS memukul kepala korban menggunakan kayu tersebut. Korban sempat berusaha menangkis pukulan, namun ia tetap mengalami luka pada bagian tangan.
Serangan tidak berhenti pada pemukulan. Nandang menyebut PI kemudian mengeluarkan pisau dan menusuk perut korban sebanyak tiga kali.
Dalam penjelasannya, Nandang menambahkan bahwa pengungkapan identitas korban baru dilakukan setelah serangan terjadi. “Saat diserang itulah korban baru menyampaikan kepada para pelaku bahwa dirinya adalah seorang anggota polisi,” beber Nandang.
Dari rangkaian kejadian yang dipaparkan, tindakan pelaku berlangsung berurutan mulai dari pendekatan yang tampak seperti persoalan keributan di jalan, pengantaran ke lokasi tertentu, hingga pemaksaan melalui kekerasan fisik.
Setelah melakukan penusukan, para pelaku kemudian mengambil dan membawa kabur sepeda motor milik korban. Motor tersebut tidak lagi berada di tangan korban setelah aksi pembegalan selesai dilakukan.
Kesaksian kronologi dari keterangan Kabid Humas
Uraian kronologi yang disampaikan Kabid Humas Polda Sumsel menekankan bahwa korban pada mulanya menjalankan aktivitas sebagai ojek pangkalan seperti biasa. Korban tidak langsung menyangka adanya skenario yang mengarah pada perampasan dan kekerasan.
Rangkaian kejadian juga menunjukkan peran masing-masing pelaku dalam tahapan berbeda. FR berperan dalam awal komunikasi yang berujung pada permintaan pengantaran, PI terlibat dalam aksi penyerangan lanjutan, sedangkan FS diduga menjadi pihak yang menggunakan kayu saat korban menagih ongkos.
Peristiwa ini menjadi perhatian karena korban mengalami luka serius pada bagian perut akibat tusukan sebanyak tiga kali. Dalam konteks tersebut, kepolisian juga memandang adanya indikasi keributan yang sengaja diciptakan sebagai penutup untuk melakukan aksi kejahatan.
Hingga kini, yang dipastikan dari keterangan yang disampaikan Nandang adalah waktu terjadinya peristiwa pada Kamis (7/8/2026) dini hari, lokasi awal di kawasan Polrestabes Palembang, serta dua poin utama akibat aksi pelaku: korban ditusuk tiga kali dan sepeda motornya dibawa kabur.












