jurnalistik.co.id – Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Depok melaporkan 154 kejadian kebakaran selama Januari sampai Juli 2026. Data tersebut disampaikan Kabid Pengendalian Operasional DPKP Depok, Tessy Haryati.
Dalam pemaparannya, Tessy menilai peningkatan kebakaran tidak dipicu secara utama oleh musim kemarau. Ia menyebut faktor yang paling menonjol berkaitan dengan kelalaian manusia.
“Kemarau bukan utama, yang paling banyak karena kelalaian manusia, membakar sampah dan buang puntung rokok sembarangan,” ujar Tessy kepada Kompas.com pada Selasa (11/8/2026) malam.
Walau demikian, ketika penyebab kejadian diklasifikasikan, kegagalan fungsi instalasi listrik tercatat sebagai pemicu terbanyak. Tessy menyebut ada 86 kejadian atau sekitar 56 persen dari total kebakaran yang ditangani Damkar Depok sepanjang periode Januari–Juli 2026.
Di luar aspek instalasi listrik, pernyataan Tessy juga menempatkan perilaku sehari-hari sebagai elemen yang sering disebut dalam rangkaian kasus. Ia mengaitkan kelalaian itu dengan kebiasaan membakar sampah dan pembuangan puntung rokok sembarangan.
Rekap Juli: 55 kejadian
Tessy menyampaikan bahwa Juli menjadi bulan dengan jumlah penanganan kebakaran tertinggi pada tahun ini. Damkar Depok mencatat 55 kejadian kebakaran sepanjang bulan tersebut.
Rinciannya, 30 kejadian merupakan kebakaran lahan dan sampah. Sebanyak 22 kejadian terjadi pada kebakaran rumah atau ruko, sementara dua kasus melibatkan kebakaran kendaraan.
Selain kategori-kategori tersebut, DPKP Depok juga mencatat satu kebakaran tiang listrik pada Juli 2026. Dengan komposisi itu, kelompok kebakaran lahan dan sampah menjadi bagian yang paling sering ditangani.
Awal Agustus: 18 kejadian, komposisi jelas
Berita Terkait
Selain rekap Januari–Juli, Tessy memaparkan angka awal Agustus 2026. Pada bulan berjalan, pihaknya mencatat 18 kejadian kebakaran.
Damkar Depok merinci, 6 kejadian merupakan kebakaran rumah, 4 kebakaran lahan, dan 6 kebakaran sampah. Sementara itu, terdapat 2 kejadian yang terkait listrik pada awal Agustus.
Tessy menambahkan bahwa data Agustus masih bergerak karena penanganan lapangan masih berjalan. “Agustus data masih bergerak ya, di atas data sementara, saat ini masih ada penanganan kebakaran, masih proses,” jelasnya.
DPKP juga menangani 133 penyelamatan di Juli
DPKP Depok melaporkan, selain memadamkan kebakaran, Damkar juga menjalankan layanan penyelamatan sepanjang Juli. Total ada 133 kejadian penyelamatan yang ditangani pada periode tersebut.
Dari jumlah itu, penyelamatan hewan menjadi yang paling banyak, dengan 93 kejadian. Sisanya, terdapat 39 kejadian penyelamatan manusia dan satu kejadian pohon tumbang.
Pencatatan penyelamatan yang mencakup hewan, manusia, dan pohon tumbang menunjukkan cakupan tugas Damkar Depok di lapangan. Berbagai respons tersebut berjalan berdampingan dengan penanganan kebakaran.
Jika menilik komposisi insiden kebakaran, pola jenis kejadian yang paling sering muncul juga terlihat pada Juli dan awal Agustus. Pada Juli, kebakaran lahan dan sampah mencapai 30 kejadian, sedangkan pada awal Agustus tercatat 4 kebakaran lahan dan 6 kebakaran sampah.
Untuk kategori yang berkaitan dengan hunian, Juli mencatat 22 kebakaran rumah atau ruko, sementara awal Agustus menyebut 6 kebakaran rumah. Sementara itu, kebakaran kendaraan muncul pada Juli dengan dua kejadian, dan kebakaran tiang listrik disebut satu kejadian pada bulan itu.
Angka awal Agustus juga menggambarkan adanya dua kejadian terkait listrik. Dengan demikian, baik pada Juli maupun awal Agustus, bagian yang berkaitan dengan listrik muncul dalam daftar kejadian yang ditangani, meski jumlahnya tidak sebesar kategori lahan dan sampah.
Secara keseluruhan, rekap Januari hingga Juli 2026 menunjukkan 154 kebakaran yang ditangani Damkar Depok. Di dalam rekap tersebut, 86 kejadian dikaitkan dengan kegagalan fungsi instalasi listrik, sementara kelalaian manusia termasuk membakar sampah dan membuang puntung rokok disebut Tessy sebagai faktor yang paling banyak disebut.












