jurnalistik.co.id – Pengacara Lindsay Clancy menyatakan berharap ada ruang kesepakatan dengan pihak penuntut setelah persidangan berakhir dengan vonis batal (mistrial) pada Jumat lalu.
Kevin Reddington, pengacara perempuan asal Massachusetts yang didakwa membunuh tiga anaknya, mengatakan ia ingin perkara ini tidak berhenti begitu saja, melainkan berlanjut ke tahap yang bisa diterima kedua pihak.
Dalam wawancara di acara Good Morning America, Reddington menyampaikan rasa kecewanya karena, menurut penilaiannya, seorang anggota juri tidak memilih untuk membebaskan Clancy.
Ia menegaskan bahwa untuk menyatakan Clancy bersalah, para juri harus sepakat secara bulat bahwa dakwaan pemicu bersalah terbukti meyakinkan, khususnya terkait keyakinan bahwa Clancy secara sengaja mengakhiri nyawa ketiga anaknya.
Reddington menjelaskan, penilaian juri juga mensyaratkan pembuktian bahwa tindakan tersebut dilakukan dengan sengaja, bukan karena Clancy tengah mengalami jeda psikotik saat peristiwa terjadi.
Nama ketiga anak yang disebut dalam perkara adalah Cora, Dawson, dan Callan.
Ia juga menyampaikan permohonan kepada Presiden Donald Trump agar mempertimbangkan pengampunan untuk Clancy.
Reddington mengatakan ia berharap Trump menilai kondisi Clancy sebagai sosok muda, termasuk apa yang telah ia jalani, serta mempertimbangkan kemungkinan pemberian grasi.
Dalam konteks hukum, Reddington menekankan bahwa karena yang dihadapi Clancy adalah dakwaan tingkat negara bagian, maka kewenangan grasi pada akhirnya berada di tangan gubernur Massachusetts.
Selain soal grasi, pengacara tersebut juga berharap jaksa penuntut perkara—yang menangani proses tersebut atas nama negara—dapat membuka kemungkinan penyelesaian yang disepakati.
Ia menyatakan harapannya agar jaksa wilayah yang memimpin penuntutan “bisa bekerja sesuatu” yang pantas dan bisa diterima oleh kedua belah pihak.
Reddington menyebut ia bersedia untuk mendengar jaksa penuntut, Tim Cruz, dan menggambarkan Cruz sebagai penuntut yang “berjalan dengan energi tinggi” atau berkarakter tegas.
Berita Terkait
- Polisi Jerman Menangkap Tersangka di Balik Aksi Sabotase Jaringan Listrik
- Alan MacPherson (83) divonis 4 tahun penjara setelah lebih dari 2 juta gambar pelecehan seksual anak di Skotlandia disebut “exceptional”
- Argentina Akan Mengajukan Proses Pidana terhadap Perusahaan Minyak yang Beroperasi di Falklands
Saat juri mulai mempertimbangkan putusan, panel yang berjumlah 12 orang terdiri dari sembilan perempuan dan tiga laki-laki.
Dalam deliberasi, juri mempertimbangkan berbagai opsi, mulai dari putusan tidak bersalah karena alasan gangguan jiwa, hingga kemungkinan vonis atas pembunuhan tingkat yang lebih rendah seperti pembunuhan sukarela (manslaughter) dan tuduhan pembunuhan tingkat pertama.
Menurut Reddington, kelompok juri sempat terlihat hampir mencapai kesepakatan menyeluruh.
Namun, menurut dia, terdapat satu orang yang menyendiri (holdout) yang tidak mengikuti instruksi hukum terkait standar “keraguan yang masuk akal” (reasonable doubt) saat menilai apakah dakwaan terbukti.
Reddington menyatakan bahwa ia menilai penahanan dari juri itu tidak sesuai dengan arahan yang diberikan hakim kepada panel.
Ia menambahkan bahwa itulah sebabnya ia merasa kesal dan kecewa selama proses menuju keputusan.
Sepanjang persidangan, pihak penuntut menghadirkan puluhan saksi, termasuk beberapa dokter, dengan tujuan menunjukkan bahwa Clancy membuat keputusan yang terencana untuk membunuh anak-anaknya di ruang bawah tanah rumah mereka di Massachusetts.
Peristiwa yang menjadi dasar dakwaan terjadi pada Januari 2023.
Clancy sendiri, menurut keterangan yang dibawa dalam proses ini, tidak menyangkal bahwa ia melakukan tindakan yang menyebabkan kematian ketiga anak tersebut.
Tetapi, pihak pembela menegaskan bahwa Clancy menyatakan tidak ada unsur perencanaan sebelumnya, serta pada saat kejadian ia sedang mengalami kondisi psikotik.
Jika juri ingin menjatuhkan dakwaan pembunuhan tingkat pertama, panel harus meyakini bahwa Clancy memang merencanakan atau memiliki rencana atas pembunuhan tersebut.
Dengan berakhirnya sidang tanpa putusan definitif karena mistrial, langkah berikutnya bergantung pada bagaimana penuntut dan pertahanan menata kemungkinan tindak lanjut, termasuk apakah akan ada bentuk kesepakatan yang memungkinkan perkara memasuki arah baru.
Reddington menyebut harapannya bukan sekadar menunggu, tetapi agar pihak berwenang mampu menemukan jalan yang dapat diterima kedua pihak setelah proses pengambilan keputusan juri terhenti.












