jurnalistik.co.id – Seorang penonton yang menyerang perempuan di acara teater “We Will Rock You” divonis penjara dua tahun. Putusan itu dijatuhkan setelah juri menyatakan Malcolm Potier bersalah melakukan pencekikan yang tidak berakibat fatal.
Peristiwa bermula saat Potier duduk dekat Kirsty O’Donnell di London Coliseum pada Juni 2023. O’Donnell kemudian diketahui bernyanyi bersama saat pertunjukan berlangsung, sebelum serangan terjadi beberapa saat setelahnya.
Di Southwark Crown Court, Potier mengatakan tidak memiliki ingatan tentang kehadirannya di acara tersebut maupun tentang serangan terhadap O’Donnell. Namun pengadilan tetap menjatuhkan hukuman penjara setelah hakim menilai tindakan itu memenuhi unsur tindak kekerasan yang terbukti di persidangan.
Serangan saat penonton ikut menyanyi
Jaksa penuntut, Sam Lubner, menyampaikan bahwa Potier hadir bersama rekan pasangan teater kritikusnya, Lizzie Loveridge. Menurut keterangan di ruang sidang, O’Donnell dan seorang teman mulai menyanyi, lalu Loveridge—dengan menggunakan kata umpatan—menyuruh mereka “shut up”.
O’Donnell menilai respons tersebut tidak sopan. Setelah itu, Potier merespons dengan mengatakan “I’ll show you what rude is” sebelum melakukan serangan kepada O’Donnell.
Pengadilan diberi tahu bahwa serangan berlangsung hanya beberapa detik. Meski begitu, dampaknya tetap dirasakan oleh O’Donnell setelah kejadian tersebut.
Alasan juri dan pertimbangan hakim
Malcolm Potier akhirnya dinyatakan bersalah atas non-fatal strangulation berdasarkan penilaian juri. Hakim Dafna Spiro menyebut perilaku terdakwa sebagai “extreme and horrific”.
Hakim juga menilai perkara ini “unusual offence”, seraya menyatakan, “It’s not a situation I have ever come across before.” Dalam pertimbangan, Spiro menyoroti adanya pola “thread” yang terdiri dari “dominance, control and lack of accountability”.
Berita Terkait
Putusan dua tahun penjara dijatuhkan pada hari Kamis, setelah proses persidangan diselesaikan. Dalam putusannya, hakim menegaskan bahwa serangan terhadap korban bukanlah insiden biasa, melainkan perbuatan yang menunjukkan dinamika dominasi dan kendali.
Pencarian pelaku hingga penangkapan
Potier dan Lizzie Loveridge kemudian dilacak melalui kartu nama yang diberikan Loveridge kepada O’Donnell. Berdasarkan keterangan di persidangan, pelacakan tersebut berujung pada penangkapan Potier pada November 2023.
O’Donnell tidak mengalami cedera fisik. Meski demikian, ia menyampaikan kepada hakim bahwa ia menjadi “more wary” terhadap lingkungan sekitarnya sejak serangan terjadi, serta “far more conscious” terhadap “physical safety”.
Dalam keterangannya, O’Donnell menyatakan keinginannya untuk memberi contoh: ia ingin menunjukkan bahwa perilaku semacam itu tidak dapat diterima, khususnya bagi “young women and girls” yang ada dalam hidupnya.
Korban juga menyebut ia mendengar Potier “laughing” di luar pengadilan selama persidangan berlangsung. Potier disebut berbicara tentang keyakinannya bahwa ia tidak akan mendapat hukuman penjara, sebagian karena usianya.
Riwayat hukuman Potier di Australia
Di persidangan, pengadilan diberi gambaran mengenai latar belakang hukuman Potier sebelumnya. Ia pernah menjalani hukuman penjara di Australia sekitar dua dekade lalu, setelah dua kali berupaya mengatur pembunuhan terhadap mantan pasangannya akibat sengketa mengenai anak mereka.
Hakim juga diberi tahu bahwa Potier memperoleh vonis enam tahun pada 2002 karena inciting the murder mantan pasangannya. Ia kemudian menerima hukuman tambahan 12 tahun pada 2006 karena mencoba mengatur pembunuhan kembali terhadap perempuan tersebut.
Dari sisi identitas, Potier disebut sebagai pebisnis dan surveyor yang tinggal di Sarratt dekat Watford. Ia juga merupakan mantan “laird”, istilah Skotlandia untuk pemilik wilayah estate yang besar dan sudah lama berdiri, di pulau Hebridean bernama Gigha.
Dengan latar belakang tersebut, hakim memandang tindakan yang terjadi di ruang teater sebagai bagian dari karakter dan pola perilaku yang sama-sama berbahaya. Putusan dua tahun penjara menutup proses perkara yang berawal dari momen ketika penonton ikut bernyanyi, sebelum situasi berubah menjadi serangan cepat dan menakutkan.












