Hukum & Kriminal

Ayah dihukum 6 bulan penjara di Prancis setelah mengancam membunuh guru SD putranya di dekat Toulouse

×

Ayah dihukum 6 bulan penjara di Prancis setelah mengancam membunuh guru SD putranya di dekat Toulouse

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Man jailed after threatening to kill son's teacher in French village

jurnalistik.co.id – Di Le Fauga, sebuah desa kecil sekitar 2.600 penduduk di pinggiran barat daya Toulouse, seorang pria dijatuhi hukuman penjara enam bulan setelah membuat ancaman serius terhadap seorang guru sekolah dasar perempuan. Peristiwa ini bermula dari insiden di sekolah pada Jumat pekan lalu, sebelum akhirnya berujung pada proses hukum cepat di Toulouse.

Menurut laporan BBC, ayah tersebut mengancam akan membunuh guru yang telah menegur dan mendisiplinkan putranya. Sidang dipercepat digelar pada Kamis, enam hari setelah kejadian yang dilaporkan terjadi di Le Fauga.

Guru yang menjadi target ancaman memperoleh perlindungan resmi dan kemudian mengambil cuti sakit. Di tengah situasi ini, rekan-rekan guru di sekolah tempat kejadian berlangsung dikabarkan tidak masuk kerja pada Senin sebagai respons terhadap apa yang terjadi pada Jumat sebelumnya.

Pihak Kementerian Pendidikan Prancis menyatakan bahwa ancaman terhadap guru harus dipandang sebagai serangan terhadap sistem pendidikan secara keseluruhan. Menteri Pendidikan Prancis Edouard Geffray menegaskan, “No teacher should be afraid to do their job. Attacking one of them is attacking the entire institution.” Ia juga menyebut peristiwa ini sebagai pemicu salah satu penerapan awal dari ketentuan hukum yang dirancang untuk menekan risiko terhadap keselamatan dan kesehatan staf pendidikan.

Ancaman muncul setelah penanganan kedisiplinan di sekolah

Karim Benmiloud, Kepala Dinas Pendidikan Toulouse, menjelaskan bahwa ancaman tersebut muncul setelah pria itu dipanggil untuk berbicara dengan pihak sekolah. Dalam percakapan tersebut, ayah dinilai bereaksi setelah putranya mendapatkan teguran disiplin di lingkungan pendidikan.

Sementara itu, Wali Kota Le Fauga Jean-Marie Puig menyampaikan bahwa putra pelaku sebelumnya diketahui mengganggu kelas. Menurut keterangan wali kota, guru kemudian memindahkan anak tersebut ke kelas lain agar ia dapat tenang, tetapi perilakunya tetap tidak membaik.

Puig menambahkan, guru di kelas yang menerima anak itu diduga mengatakan kepada anak tersebut, “stop acting like a little bully”. Tidak lama setelah itu, ayah didakwa membuat ancaman terhadap guru perempuan yang menangani anaknya.

Wali kota menyebut pelaku diduga menunggu guru tersebut di luar sekolah. Ia “apparently threatened to cut off her head if she’d been a man,” sesuai pernyataan yang dikutip dari pemberitaan BFMTV—sebuah ancaman yang memperlihatkan betapa seriusnya niat kekerasan yang disampaikan pelaku.

Permintaan maaf, laporan hukum, dan proses di kejaksaan

Setelah membuat ancaman, pelaku kemudian menyampaikan permintaan maaf. Namun, walaupun ada permohonan maaf tersebut, laporan/pengaduan resmi tetap diajukan, dan pelaku akhirnya menjalani proses dengan jaksa penuntut.

Ayah itu menghadap jaksa di Toulouse pada Kamis sore. Langkah ini menunjukkan bahwa meskipun terjadi permintaan maaf, tindakan ancaman terhadap tenaga pendidik tetap diproses melalui jalur hukum.

Geffray mengaitkan kasus ini dengan diberlakukannya aturan perlindungan bagi staf pendidikan yang menghadapi risiko yang “significant” dari anggota keluarga siswa. Ia mengatakan undang-undang yang disahkan pada musim panas ditujukan untuk memastikan staf sekolah tidak merasa takut saat menjalankan tugas, terutama ketika keselamatan dan kesehatan mereka terancam.

Menurut pemberitaan, ketentuan yang disahkan pada bulan Juli memungkinkan siswa dipindahkan ke sekolah lain apabila terdapat risiko signifikan terhadap staf, serta setelah otoritas pendidikan melakukan intervensi. Dalam kasus ini, pihak berwenang mempertimbangkan langkah lanjutan terhadap putra pelaku dan adik perempuannya, yang diduga dapat dipindahkan ke sekolah lain di luar Le Fauga.

Ingatan kelam yang kembali mengemuka

Kasus di Le Fauga turut memunculkan kembali ingatan pahit di Prancis terkait peristiwa pemenggalan yang menimpa seorang guru di wilayah Paris enam tahun lalu. Samuel Paty disebut dibunuh di luar sekolahnya oleh seorang pria berusia 18 tahun yang tercatat sebagai pengungsi Chechen.

Dengan latar itu, suasana di komunitas pendidikan menjadi sensitif, terutama karena ancaman terhadap guru bukan hanya dinilai sebagai pelanggaran hukum, tetapi juga sebagai sinyal gangguan terhadap ruang kerja institusi pendidikan. Pernyataan Geffray semakin mempertegas posisi pemerintah bahwa serangan terhadap guru berarti serangan terhadap lembaga yang lebih luas.

Hukuman penjara enam bulan yang dijatuhkan kepada ayah tersebut menjadi bagian dari respons terhadap kekerasan verbal yang berpotensi berkembang menjadi ancaman fisik. Proses sidang cepat, perlindungan resmi bagi guru, serta rencana kemungkinan pemindahan siswa menunjukkan bahwa otoritas berupaya memutus rantai risiko bagi lingkungan sekolah sejak tahap awal.