jurnalistik.co.id – Ruangan di sebuah sekolah swasta di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, kini dipasangi garis polisi dan tidak bisa dimasuki setelah ditemukan ratusan hingga mendekati seribu senjata di dalamnya. Berdasarkan pemeriksaan yang terlihat di lokasi, terdapat dua ruangan yang hingga Jumat (7/8/2026) masih disegel.
Kompas.com sebelumnya melaporkan penemuan itu terjadi pada Jumat (10/7/2026). Pada Jumat (7/8/2026) sore, Kompas.com mendapat kesempatan masuk dan melihat langsung kondisi dua ruangan yang menjadi tempat penyimpanan senjata tersebut.
Di area sekolah, petugas memasang garis polisi pada pintu kedua ruangan dan menutup akses masuk. Pengamanan tersebut membuat ruang-ruang yang diduga menyimpan barang terlarang tidak dapat diperiksa pihak luar selain petugas yang berwenang, termasuk ketika kunjungan media dilakukan pada hari yang sama.
Ruangan pertama berada di bagian paling depan lingkungan sekolah. Tempat itu merupakan bekas ruang kepala yayasan berinisial IWD. Dari pantauan di lokasi, di dalam ruangan terdapat sejumlah barang, termasuk senjata, CD porno, narkoba, serta sebuah bunker di bawah tanah.
Pintu ruangan tersebut berwarna cokelat dan tampak sudah diberi garis polisi, disertai gembok sehingga tidak ada yang diperbolehkan masuk. Staf yayasan, Untung Sangaji, menjelaskan bahwa bunker berada di bawah tanah dan akses masuknya menggunakan pintu yang tertutup rak besi. “Jadi kotak begitu dia kelihatannya, terus dibuka masuk ke dalam tanah, ke bawah. Dia ditutup pakai rak, rak besi,” kata Untung kepada wartawan di lokasi, Jumat.
Selain penjelasan soal bunker, pengamanan yang terpasang turut menandai bahwa ruangan ini masih menjadi fokus penyelidikan. Kondisi pintu yang ditutup rapat membuat detail isi dan konfigurasi ruang bawah tanah tidak terlihat dari luar, meski bentuk penguncian dan garis polisi memperlihatkan statusnya sebagai lokasi yang dibatasi.
Berita Terkait
- Pria ASS (31) Warga Pedurungan Tewas di Hotel Semarang Tengah; Polisi Temukan Obat Stamina Merek Cobra
- Demo Ribuan Penambang di Belitung Timur Berakhir Ricuh, Dua Kantor PT Timah Dibakar, Situasi Dinilai Kondusif
- Polda Metro Jaya Memanggil Bigmo alias Muhammad Jannah Klarifikasi Dugaan Eksploitasi Anak Terkait Promosi Vape Senin Depan
Ruangan kedua disebut sebagai tempat ditemukannya ratusan senjata berupa airsoft gun. Posisinya berada tepat di samping ruang kelas yang digunakan oleh murid taman kanak-kanak (TK). Pada hari kunjungan, pintu ruangan juga disegel dengan garis polisi dan ditutup kain berwarna putih untuk menghalangi pandangan dari luar.
Menurut Untung, ruangan tersebut awalnya merupakan ruang kelas yang masih aktif digunakan para siswa. Namun, seiring jumlah murid berkurang dalam beberapa tahun terakhir, ruangan tidak lagi digunakan untuk kegiatan belajar dan kemudian dialihfungsikan menjadi gudang penyimpanan barang. “Dulu itu dipakai buat ruang kelas ini. Terus seiring murid berkurang, jadi digabung, tidak dipakai dan akhirnya berubah fungsi jadi semacam gudang penyimpanan barang mantan ketua yayasan itu,” ucapnya.
Sebelumnya, Polres Metro Jakarta Selatan menyelidiki temuan sekitar 995 senjata yang terdiri dari airgun, air rifle, serta satu pucuk yang diduga senjata api di sebuah yayasan sekolah swasta di Kebayoran Lama. Dalam laporan Kompas.com, jumlah tersebut juga disebut terdiri dari airsoft gun dan senapan angin yang ditemukan di dua ruangan dalam lingkungan sekolah.
Hingga Jumat (7/8/2026), dua ruangan yang berbeda peruntukannya itu tetap berada dalam kondisi disegel. Keputusan menutup akses dan memasang pembatas di pintu menunjukkan bahwa selain pemeriksaan barang, proses penelusuran kemungkinan keterkaitan antar-area di sekolah masih terus berjalan, termasuk terhadap bunker dan ruang penyimpanan yang semula digunakan untuk kebutuhan sekolah.
Pemasangan garis polisi dan penutupan akses itu membuat pemeriksaan berlangsung dalam ruang lingkup petugas yang berwenang. Saat kunjungan media pada hari yang sama, pintu-pintu yang dibatasi tetap tidak dibuka, sehingga informasi yang bisa dipastikan sebatas pengamatan di area depan pintu serta keterangan yang disampaikan pihak yayasan di lokasi.
Perbedaan karakter ruang juga tampak jelas dari detail pengamanannya. Pada ruang yang berada di bagian paling depan dan merupakan bekas ruang kepala yayasan IWD, pengunci berupa gembok dan penutupan rapat membuat konfigurasi akses ke area bawah tanah tidak terlihat dari luar. Sementara itu, ruang kedua yang bersebelahan dengan lingkungan kelas TK juga ditutup kain putih, menyiratkan upaya agar isi ruangan tidak mudah terpantau saat proses penelusuran masih berlangsung.












