jurnalistik.co.id – Kepala International Monetary Fund (IMF), Kristalina Georgieva, memperingatkan ekonomi maju agar segera menekan utang ketika biaya pinjaman terus meningkat. Dalam wawancara eksklusif, ia menyebut gejolak global mendorong tingkat utang naik, sementara pemerintah dinilai belum mengambil langkah yang memadai untuk menahan biaya layanan utang tersebut.
Georgieva menyampaikan peringatan itu pada forum sidang Majelis Umum PBB di New York. Menurutnya, tekanan ekonomi global membuat “debt levels up like a staircase not to heaven”, tetapi pemerintah tetap “no action to contain that service cost”. Ia menegaskan, “It’s time to take that action”, dan mengatakan diperlukan “courage” dari para pembuat kebijakan untuk melakukan langkah yang dianggap sulit secara politik namun tetap diperlukan.
Pesan IMF muncul di tengah lonjakan biaya pinjaman pemerintah. Georgieva mengaitkan kenaikan tersebut dengan perang yang mengganggu pasokan minyak, yang kemudian ikut mengerek inflasi. Saat inflasi mendorong suku bunga dan imbal hasil obligasi bergerak naik, beban bunga pemerintah turut meningkat, termasuk untuk negara-negara yang masuk kategori ekonomi maju seperti Inggris dan Amerika Serikat.
Di Inggris, biaya pinjaman yang lebih tinggi berdampak pada kondisi anggaran menjelang pidato anggaran perdana Perdana Menteri Andy Burnham bulan depan. Angka terbaru menunjukkan bahwa kebutuhan pinjaman (borrowing)—selisih antara penerimaan pajak dan belanja pemerintah—mencapai £18,3 miliar ($24,4 miliar) pada bulan Agustus. Nilai itu hampir naik seperlima dibanding setahun sebelumnya dan lebih tinggi dari proyeksi resmi.
Beban “debt interest” pada Agustus juga tercatat sebagai yang tertinggi untuk bulan tersebut sejak pencatatan bulanan dimulai pada 1997. Dengan kata lain, kenaikan biaya layanan utang tidak hanya terjadi sesaat, melainkan tercermin pada level tertinggi dalam data historis yang tersedia.
Di Amerika Serikat, tekanan serupa terlihat dari besarnya tumpukan utang yang telah menembus lebih dari $40 triliun. Georgieva menyoroti bahwa total utang tersebut bahkan mengalami pelipatan dalam satu dekade terakhir, sehingga memunculkan kekhawatiran baik di dalam negeri maupun dari sisi persepsi global terhadap risiko keuangan.
Prioritas kebijakan: tekan utang, konsolidasi fiskal, dan kepastian stabilitas harga
Dalam forum PBB, Georgieva menegaskan bahwa meski faktor-faktor ekonomi tertentu berada di luar kendali pemerintah, negara tetap memiliki ruang kendali atas kebijakan domestik. Ia menyebut ada “two things that must be done”: pertama, “bring debt levels down”; kedua, menjadikan “fiscal consolidation as a priority”. Selain itu, ia menekankan agar bank sentral menjalankan mandatnya untuk “price stability”.
Berita Terkait
Ia juga menegaskan pentingnya keberanian langkah kebijakan tersebut, dengan menyatakan, “It is impossible to stress strongly enough how critical it is to get the courage to take the steps that are necessary.” Georgieva menambahkan bahwa meski langkah-langkah itu secara politik berat, “necessary steps to take” tetap harus dilakukan.
Ketika ditanya lebih spesifik tentang tingginya biaya bunga Inggris dibanding ekonomi besar lainnya, Georgieva menyatakan posisinya “not very different” dari negara-negara lain. Ia menunjuk adanya “fairly consistent action” untuk menurunkan utang, serta memuji perencanaan dan reformasi perumahan. Menurutnya, ekonomi maju “don’t have the cash” untuk mendorong pertumbuhan secara langsung, sehingga reformasi yang dirancang untuk mengundang investasi sektor swasta menjadi jalan yang lebih realistis.
Imbal hasil obligasi naik: inflasi dan persaingan pasar modal
Secara umum, pemerintah menghimpun dana dengan menjual obligasi yang pada dasarnya merupakan surat pengakuan utang (IOU). Sebagai imbalannya, pemerintah membayar bunga kepada investor yang membeli instrumen tersebut. Namun, kekhawatiran bahwa inflasi menggerus imbal hasil membuat suku bunga dan imbal hasil obligasi (yields) meningkat dalam beberapa bulan terakhir.
Georgieva menambahkan bahwa kenaikan yields tidak hanya dipicu inflasi. Ada faktor lain yang ikut mendorong, yaitu meningkatnya kompetisi di pasar obligasi dari perusahaan teknologi besar yang berupaya menghimpun dana dalam jumlah besar untuk membiayai pengembangan kecerdasan buatan (AI).
Menyoal AI, ia merujuk pada kekhawatiran tentang hilangnya kontrol yang aman atas sistem-sistem tersebut. Ia menyatakan, “If we see more incidents when AI takes [on a] life of its own, then we can be faced with a significant financial stability risk.” Dalam penilaiannya, risiko stabilitas keuangan dapat muncul bersama dengan isu tingkat utang.
Georgieva mengulang penilaian IMF bahwa ekonomi global sedang dipengaruhi oleh dua kekuatan yang “pushing in opposite directions”: pertama, “the energy price shock”; kedua, “investment in AI”. Kombinasi keduanya membuat arah kebijakan dan sensitivitas pasar terhadap perubahan kondisi semakin kompleks.
Ia juga menekankan pentingnya agar ekspor minyak dan gas dari kawasan Teluk dapat kembali berjalan secara berkelanjutan. Tujuannya, agar “the energy supply shock” akhirnya menjadi “in the rearview mirror”. Ia menyebut, “That is a very significant step to normalisation”, tetapi mengakui langkah menuju normalisasi itu belum terjadi.
Dengan latar itulah, IMF mendorong ekonomi maju untuk menurunkan tingkat utang sekaligus memperkuat konsolidasi fiskal. Di saat yang sama, kebijakan bank sentral untuk menjaga stabilitas harga dipandang sebagai elemen yang tidak bisa dipisahkan dari upaya menjaga ketahanan keuangan di tengah biaya pinjaman yang sedang tinggi.












