jurnalistik.co.id – Universitas Cambridge akan meninjau ulang proses penunjukan akademisi senior setelah pengunduran diri Jason Arday dalam pusaran tuduhan plagiarisme.
Langkah itu muncul setelah kampus mengatakan temuan dari penyelidikan terhadap kualifikasi akademik serta penugasan Jason Arday akan “feed into” kajian baru mengenai bagaimana peran-peran senior di universitas tersebut diisi.
Dalam konteks yang sama, Jason Arday juga menghadapi tuduhan terkait dugaan fabrikasi atau pembesaran elemen-elemen dalam CV-nya. Ia membela diri dan menegaskan pada karyanya, sementara perhatian publik kini juga tertuju pada memoir terbarunya.
Alasan peninjauan: kredensial, proses, dan dampak reputasi
Berita tentang peninjauan itu mengikuti seruan dari sejumlah akademisi yang meminta adanya penyelidikan independen. Salah satu yang paling vokal adalah Prof Priyamvada Gopal, profesor studi poskolonial di Cambridge.
Gopal menilai Cambridge sedang menanggung “massive reputational damage” akibat perkara tersebut. Ia mengatakan kerusakan reputasi ini telah mengganggu rekan-rekan di berbagai bidang dan spektrum politik.
Menurut Gopal, Cambridge tidak boleh membiarkan persoalan berlalu tanpa langkah berarti. Ia menyebutnya bukan pilihan untuk “sweep this under the carpet” dan tidak melakukan tindakan sama sekali.
Gopal juga menekankan bahwa universitas seharusnya tidak menjalankan pemeriksaan sambil memeriksa dirinya sendiri, dengan mengatakan tidak semestinya “marking its own homework”. Kelompok akademisi yang dipimpinnya mengusulkan format penyelidikan yang melibatkan kombinasi akademisi senior di Cambridge dan dari institusi lain.
Di pihak Cambridge, kampus menyatakan pada Jumat bahwa mereka “fully aware of the public commentary and concerns”, serta akan melanjutkan penyelidikan terkait situasi di seputar penunjukan dan masa jabatannya di universitas.
Seorang juru bicara menolak memberi komentar lebih lanjut. Sebelumnya, Cambridge telah mengumumkan penyelidikan terhadap “new information” mengenai kualifikasi akademik dan penugasan Arday pada hari Rabu, setelah sebelumnya menyatakan mereka sedang menelaah tuduhan plagiarisme.
Jesus College, yang menaungi status Arday sebagai fellow, menyambut rencana peninjauan tersebut. Namun kampus itu menegaskan peran Arday di sana “had been ‘contingent on his university position’”.
Peninjauan lintas kampus: Cambridge dan Glasgow
Universitas Glasgow, tempat Arday bekerja sedikit lebih dari setahun sebelum berpindah ke Cambridge, turut membentuk kajian sendiri. Dalam pernyataannya, kampus menyebut Arday dipekerjakan sebagai Professor of Sociology of Education dari Januari 2022 hingga Maret 2023.
Pihak Glasgow menyatakan Principal telah “commissioned a review of the appointment” dengan tujuan memahami seluruh fakta dan pelajaran untuk masa depan.
Langkah Glasgow ikut menambah panjang daftar respons institusi akademik yang berupaya menata ulang prosedur penilaian kredensial, terutama ketika perkara menyangkut integritas akademik muncul ke permukaan.
Dalam perkembangan tuduhan plagiarisme, Nathan Cofnas disebut sebagai figur yang pertama kali mengangkat isu tersebut. Cofnas adalah peneliti asal AS yang perannya di salah satu kolega Cambridge dihentikan setelah muncul reaksi terhadap pandangannya bahwa dalam “true meritocracy” orang kulit hitam akan “disappear from almost all high-profile positions outside of sports and entertainment”.
Ia menyoroti bahwa perangkat lunak pendeteksi plagiarisme menemukan beberapa bagian disertasi PhD Jason Arday dicopy secara verbatim atau hanya diubah ringan dari karya-karya akademik sebelumnya.
Berita Terkait
Universitas Liverpool John Moores (LJMU), institusi yang memberikan gelar PhD kepada Arday, menyatakan pada tahun lalu mereka menyelidiki tuduhan plagiarisme dan menolaknya. LJMU menyebut tuduhan itu kemungkinan muncul dari “honest and reasonable error”.
LJMU juga menyampaikan kepada BBC bahwa posisinya tetap sama, dan gelar PhD Arday “still stands”.
Cofnas juga menyebut seorang profesor yang telah pensiun sebelumnya mengangkat kekhawatiran terkait artikel akademik Arday berikutnya. Ia mengatakan dua jurnal kemudian menerbitkan catatan koreksi, serta mempertanyakan sebagian klaim pencapaian Arday, termasuk “extensive marathon running” dan penggalangan dana hingga jutaan untuk amal.
Sejumlah universitas yang menurut CV Arday pernah memberinya jabatan akademik kemudian membantah bahwa Arday benar-benar memiliki peran-peran tersebut. Kontroversi ini juga memunculkan beragam pandangan dalam dunia akademik, termasuk pertanyaan apakah pengawasan terhadap Arday dinilai tidak adil karena faktor ras.
Jason Arday mengakui adanya kesalahan dalam karyanya, tetapi membantah plagiarisme. Ia mengatakan autismenya serta kurangnya supervisi yang memadai pada tahap awal karier akademiknya dapat berkontribusi pada kekeliruan-kekeliruan tersebut.
Arday juga menyangkal kebohongan mengenai pencapaiannya. Ia menyatakan keputusan untuk mundur tidak boleh disamakan dengan penerimaan terhadap narasi yang telah menyelimutinya, yang sebelumnya ia sebut “racially motivated”.
Gopal menambahkan bahwa universitas “being targeted in particular by a lazy and false division between academic excellence and diversity and equality on campus”, dan menurutnya itu lebih merupakan bagian dari “culture wars” ketimbang bagian dari kehidupan kampus.
Gopal dan rekan-rekannya juga menilai ada yang “unusual” ketika Arday dipilih untuk pos yang “very senior, very prestigious” sejak sangat awal kariernya. Ia juga mengatakan Arday dipropulsikan di media dengan persepsi seolah menjadi “a bit of a target on his back”.
Gopal menegaskan setiap penyelidikan seharusnya menilai apakah universitas terlibat, dalam tingkat apa pun, dalam upaya mencegah jurnalis melaporkan dugaan-dugaan tersebut.
Dalam isu pelaporan, muncul informasi bahwa Metropolitan Police menelidiki Jack Grove—wartawan Times Higher Education (THE)—atas keluhan pelecehan setelah ia menghubungi Arday terkait tuduhan plagiarisme tahun lalu. The Telegraph juga melaporkan Arday menggunakan firma hukum Carter-Ruck untuk mengirim surat kepada THE yang menyiratkan bahwa “apparent attack” terhadap Arday mungkin bersifat “racially motivated”.
Metropolitan Police kemudian menutup kasus tersebut, dan Komisaris Sir Mark Rowley meminta maaf. Ia mengatakan kepada LBC bahwa keluhan itu seharusnya “screened out earlier on as not requiring investigation”.
Klaim lain dalam polemik: memoir dan perbedaan naskah
Di antara klaim-klaim Arday yang dipandang keluar dari kewajaran adalah pernyataan dalam sebuah wawancara dengan Guardian. Arday menyebut ia dibayar “1.4 million” untuk memoir berjudul Great and Unfortunate Things yang dijadwalkan rilis pekan depan, meski ia tidak menyebut mata uangnya.
Sejumlah pengamat penerbitan mempertanyakan kemungkinan angka sebesar itu, termasuk kemampuan menarik pembayaran uang muka sebesar tersebut. Simon & Schuster menyatakan akan tetap melanjutkan penerbitan meski kontroversi terus berlangsung.
The Atlantic melaporkan pada Kamis bahwa terdapat perbedaan antara salinan konsep memoir dan proposal buku tahun 2024 yang mereka peroleh. Di antaranya, proposal menyebut upaya bunuh diri terjadi sebelum pandemi Covid, sedangkan dalam memoir kejadiannya berlangsung selama pandemi.
The Atlantic juga menuturkan proposal menggambarkan Arday tertabrak mobil saat remaja sebelum “miraculously” terbangun kembali, sementara episode tersebut tidak muncul dalam versi buku yang telah selesai.
Setelah itu, The Telegraph melaporkan Arday mengklaim telah menerbitkan buku berjudul Being Young, Black and Male: Challenging the Dominant Discourse. Palgrave Macmillan yang dikaitkan dengan publikasi itu menyatakan pihaknya menerima proposal buku tersebut, tetapi tidak menerbitkannya.
BBC kemudian menghubungi Simon & Schuster serta Good Law Project, organisasi yang secara publik mewakili Arday dalam sengketa plagiarisme, untuk mendapatkan komentar.












