jurnalistik.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penguatan tipis sebesar 0,34% selama periode perdagangan 20 hingga 24 Juli 2026, dan berakhir di level 6.196,43.
Meski demikian, pergerakan masih mencerminkan fase konsolidasi pasar yang diiringi rotasi antarsektor.
Di tengah perubahan minat tersebut, tekanan dari aksi jual investor asing masih menjadi salah satu faktor penahan laju kenaikan.
Sepanjang sepekan, investor asing mencatat net foreign sell senilai Rp 3,37 triliun. Akumulasi capital outflow sepanjang 2026 pun melebar hingga Rp 79,09 triliun, sejalan dengan sikap hati-hati pelaku pasar global yang membebani saham-saham berkapitalisasi besar, terutama pada sektor finansial.
Namun, tekanan itu tidak sepenuhnya menguasai pergerakan karena ada pengimbang dari sektor properti dan energi. Penguatan keduanya ditopang oleh optimisme terhadap kebijakan pemerintah di sektor perumahan serta katalis positif dari harga komoditas.
Selain itu, dominasi investor domestik yang menyumbang 69% nilai transaksi harian turut membantu menjaga stabilitas arah pergerakan IHSG.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Brigita Kinari menilai kombinasi rotasi sektoral dan likuiditas domestik menjadi alasan IHSG tetap terjaga walau tekanan eksternal masih berlangsung. Menurutnya, valuasi pasar yang relatif atraktif juga ikut mendorong minat beli secara selektif.
Brigita menyebut bahwa pasar masih bertumpu pada daya tarik valuasi, dengan PER berada di level 12,64x. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar cenderung memilih peluang dari sisi valuasi, bukan mengejar pergerakan secara agresif.
Berita Terkait
Sementara itu, dinamika pasar global masih mewarnai arah sentimen. Brigita menjelaskan bahwa indeks utama Wall Street yang mencakup S&P 500, Dow Jones, dan Nasdaq bergerak volatil dengan kecenderungan melemah.
Ia mengaitkan pelemahan itu pada kombinasi tekanan proteksionisme tarif Presiden Donald Trump, eskalasi geopolitik Amerika Serikat (AS) dan Iran yang sempat mendorong harga minyak Brent ke kisaran 100 dollar AS per barrel, serta aksi profit taking pada sektor Big Tech dan kecerdasan buatan (AI) menjelang musim laporan keuangan.
Memasuki pekan ini, bursa global diperkirakan masih berada pada fase konsolidasi. Fokus perhatian pasar tertuju pada rilis produk domestik bruto (PDB) AS kuartal II 2026 serta hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 30 Juli 2026.
Menjelang dua agenda tersebut, pelaku pasar diproyeksikan mengambil posisi risk-off dan wait and see. Perputaran dana kemudian diarahkan ke aset defensif atau sektor yang dinilai lebih resilien terhadap inflasi dan tarif, sambil menunggu kepastian arah kebijakan moneter The Fed yang berpotensi menentukan aliran modal global.
Dari sisi domestik, Brigita melihat IHSG pekan ini dipengaruhi keseimbangan antara fondamental yang relatif kondusif dan tekanan eksternal yang masih membayangi. Keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di tengah pertumbuhan kredit yang dinilai tetap solid dinilai mencerminkan fokus menjaga momentum ekspansi sektor riil.
Selain itu, stabilisasi nilai tukar rupiah juga diarahkan melalui optimalisasi instrumen lindung nilai (hedging) untuk menekan risiko kenaikan biaya dana (cost of fund) perbankan.
Dengan dasar tersebut, kondisi fundamental domestik masih memberi sentimen positif bagi sektor keuangan. Namun, ruang penguatannya dinilai berpotensi terbatas selama arus keluar dana asing dari saham-saham big caps belum mereda.
Dalam konteks tersebut, peluang rebound IHSG lebih mungkin tumbuh melalui selektivitas pembelian dan kelanjutan rotasi sektor, sambil tetap memperhatikan perkembangan dari sentimen global dan arus dana asing.












