jurnalistik.co.id – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang pekan ini tidak hanya ditentukan faktor domestik, tetapi juga dipengaruhi sentimen global. Menjelang akhir pekan, arah pasar berubah setelah eskalasi konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat.
Menurut Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah, keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga sempat memberi ruang optimisme bagi pelaku pasar. Ia menilai keputusan tersebut dibaca sebagai sinyal bahwa otoritas moneter berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
“Kalau saya lihat dari sepekan ini, sebenarnya ada harapan pada saat Bank Indonesia memutuskan mempertahankan suku bunga,” kata Hari dalam Obrolan Saham Kompas.com, Jumat (24/7/2026). “Berarti itu adalah komunikasi dari Bank Indonesia bahwa mereka ingin menstabilkan rupiah. Karena itu, pada Senin hingga Rabu pasar masih bergerak bullish,” lanjut Hari.
Respons positif di awal pekan kemudian mereda karena ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menguat. Ketika situasi eskalatif, perhatian pasar bergeser dari sinyal kebijakan domestik ke risiko global yang berpotensi memengaruhi ekonomi.
Hari menjelaskan, konflik AS-Iran yang kembali berkecamuk mendorong kenaikan harga minyak dunia. Kenaikan tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global serta kemungkinan pengetatan kebijakan moneter di berbagai negara.
“Lalu muncul sentimen baru, yaitu konflik AS dan Iran kembali berkecamuk. Dampaknya harga minyak mulai naik. Efeknya seperti domino, harga minyak naik, inflasi meningkat, lalu muncul ekspektasi suku bunga harus kembali dinaikkan,” kata dia.
Dalam kondisi seperti itu, investor cenderung menahan diri dan mengurangi eksposur terhadap aset berisiko. Dengan kata lain, pasar tidak hanya mempertimbangkan faktor internal, tetapi juga mempertanyakan arah kebijakan moneter global yang dapat merembet ke pasar keuangan.
Berita Terkait
Hari menambahkan bahwa pergerakan pasar saat ini masih sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik, khususnya yang berkaitan dengan pasokan energi dunia. Selama ketidakpastian belum mereda, volatilitas di pasar saham dinilai akan tetap tinggi.
Perubahan sentimen ini terlihat dari perilaku investor dalam dua hari terakhir. “Market melihat ini sebagai uncertainty , sehingga pada Kamis dan Jumat banyak investor memilih melakukan aksi jual sambil menunggu perkembangan situasi sebelum pasar kembali dibuka pekan depan,” tegas Hari.
Dengan demikian, meski keputusan BI mempertahankan suku bunga sempat memberi dukungan awal, eskalasi konflik AS-Iran kemudian menggeser fokus pasar. Di tengah kekhawatiran inflasi dan ekspektasi pengetatan moneter, pasar menjadi lebih berhati-hati dan cenderung menempuh strategi tunggu sebelum ada kejelasan arah situasi global.
Setelah fase optimisme awal, pelaku pasar menilai informasi yang masuk berikutnya lebih dominan datang dari perkembangan luar negeri. Ketika eskalasi di kawasan Timur Tengah kembali meningkat, interpretasi atas kebijakan domestik menjadi kurang menjadi penentu jangka pendek, sehingga reaksi harga menjadi lebih selektif.
Dalam penilaian Hari Rachmansyah, kenaikan harga minyak dunia yang dipicu konflik AS dan Iran tidak berhenti pada sisi komoditas. Kenaikan itu kemudian mendorong kekhawatiran pelaku pasar terhadap rangkaian lanjutan, mulai dari tekanan inflasi hingga perubahan ekspektasi kebijakan moneter di sejumlah negara.
Karena ekspektasi tersebut belum sepenuhnya mereda, investor cenderung mengubah strategi menjadi lebih defensif. Aksi jual yang muncul di Kamis dan Jumat mencerminkan kecenderungan menunggu kejelasan, sembari menghindari posisi yang berisiko jika volatilitas berlanjut dan arah pasar masih dipengaruhi oleh faktor geopolitik.
Dengan kondisi itu, pergerakan IHSG di pekan ini lebih terlihat sebagai gabungan antara sinyal kebijakan yang menopang rupiah dan dorongan risiko global yang memperkuat ketidakpastian. Selama pasar belum memperoleh informasi baru yang menurunkan tekanan sentimen, potensi pergerakan yang fluktuatif dinilai tetap akan membayangi.












