jurnalistik.co.id – Jakarta, Senin (27/7/2026) menjadi hari yang dinantikan pelaku pasar, setelah IHSG terkoreksi pada penutupan perdagangan Jumat (24/7/2026). Pada saat itu, indeks turun 1,88 persen ke level 6.196,43.
Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan pergerakan IHSG pada hari ini cenderung menguat, namun sifatnya masih terbatas. Ia menilai IHSG memiliki ruang naik meski tetap perlu dicermati dari sisi batas pergerakan.
Herditya menyebutkan, indikator pergerakan IHSG berada di wilayah support 6.125 dan resistance 6.223. “Untuk Senin, posisi pergerakan IHSG masih berpeluang menguat terbatas dengan support 6.125 dan resistance 6.223,” ujar Herditya kepada Kompas.com, Minggu (26/7/2026).
Sentimen global dan domestik
Menurut Herditya, arah pergerakan indeks masih dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik. Dari eksternal, perhatian investor tertuju pada ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang dinilai berpotensi mengangkat harga minyak dunia sekaligus memicu kekhawatiran terhadap inflasi global.
Selain isu geopolitik, pasar juga menunggu dampak kebijakan tarif impor baru yang diumumkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada sejumlah negara. Perubahan kebijakan perdagangan internasional itu menjadi variabel yang dapat memengaruhi preferensi risiko investor.
Dari dalam negeri, investor juga menaruh fokus pada rilis laporan keuangan emiten semester I 2026. Herditya menempatkan rilis kinerja tersebut sebagai salah satu katalis utama yang berpotensi mengubah arah pergerakan IHSG pada awal pekan.
“Untuk sentimen kami perkirakan akan dipengaruhi oleh pertama, investor masih mencermati kondisi geopolitik Timur Tengah yang masih memanas, dimana akan menyebabkan kenaikan harga minyak dunia dan meningkatkan kekhawatiran akan kenaikan inflasi global. Kedua, investor mencermati dampak tarif impor baru yang ditetapkan oleh Trump secara global. Ketiga investor juga akan mencermati rilis kinerja emiten 1H26,” paparnya.
Berita Terkait
Saham yang layak dicermati
Dalam pandangan Herditya, terdapat beberapa saham yang dapat menjadi perhatian pada perdagangan awal pekan ini. Ia merekomendasikan PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) dengan target harga Rp 175 hingga Rp 200.
Selain BIPI, Herditya juga menyoroti PT Sentul City Tbk (BKSL) pada kisaran Rp 75 hingga Rp 82. Rekomendasi berikutnya adalah PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) dengan rentang target harga Rp 980 hingga Rp 1.090.
Di sisi lain, praktisi pasar modal sekaligus Founder WH Project William Hartanto melihat pelemahan IHSG dalam tiga hari perdagangan terakhir membuka kemungkinan terjadinya kondisi jenuh jual (oversold). IHSG diketahui ditutup melemah 118 poin atau 1,88 persen ke level 6.196,43 pada Jumat, namun secara mingguan indeks masih menguat tipis 0,34 persen.
William menilai koreksi yang terjadi relatif sehat karena sebagian besar didorong pelemahan pada saham-saham konglomerasi yang sebelumnya telah mencatat kenaikan signifikan. “Efek pelemahan yang tercermin pada IHSG merupakan dampak dari bobot masing-masing saham di dalam indeks,” ujar William.
Ia kemudian memproyeksikan IHSG berpotensi bergerak pada kisaran 6.154 hingga 6.310 pada perdagangan Senin. Dalam rekomendasi sahamnya, William menyarankan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) dengan target harga Rp 2.250 hingga Rp 2.300 per saham, serta PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) pada rentang Rp 3.500 hingga Rp 3.800.
Dengan mempertimbangkan batas support-resistance yang disebut Herditya, serta proyeksi rentang pergerakan dari William, pelaku pasar umumnya diposisikan pada skenario “menguat terbatas” menjelang rangkaian laporan emiten 1H26. Pada saat yang sama, sentimen geopolitik Timur Tengah dan kebijakan tarif impor yang dikaitkan dengan Trump tetap menjadi faktor yang dapat mempengaruhi arah harga berbagai instrumen.
Terlepas dari potensi pantulan indeks, pelaku pasar biasanya akan mencermati reaksi awal terhadap informasi baru pada hari ini, termasuk sinyal dari dinamika global dan pembacaan terhadap hasil kinerja semester I 2026. Pergerakan IHSG yang masih dibatasi level teknikal menjadi pengingat bahwa ruang naik dapat berlangsung bertahap, bukan tanpa batas.












