Bisnis & Ekonomi

IHSG Diproyeksi Menguat Terbatas Senin 3 Agustus 2026, Laporan Keuangan dan Data Makro Jadi Sinyal

×

IHSG Diproyeksi Menguat Terbatas Senin 3 Agustus 2026, Laporan Keuangan dan Data Makro Jadi Sinyal

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: IHSG Berpeluang Menguat Awal Pekan, Laporan Keuangan dan Data Ekonomi Jadi Penentu

jurnalistik.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan melanjutkan penguatan secara terbatas pada perdagangan Senin (3/8/2026). Perkiraan ini mengacu pada penutupan Jumat (31/7/2026) yang ditutup naik 0,80 persen.

Di awal pekan, pergerakan pasar dinilai masih akan ditopang sentimen tertentu, terutama dari perkembangan fundamental emiten dan indikator ekonomi. Namun, ruang kenaikan disebut tidak akan sepenuhnya lebar, menyesuaikan kombinasi sinyal yang masuk.

Analis Teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memproyeksikan IHSG bergerak pada rentang support 6.180 dan resistance 6.268. “Untuk Senin posisi pergerakan IHSG masih berpeluang menguat terbatas dengan support 6.180 dan resistance 6.268,” ujar Herditya saat dihubungi Kompas.com, Minggu (2/8/2026).

Herditya menilai arah pergerakan IHSG masih dipengaruhi sejumlah sentimen, terutama rilis laporan keuangan semester I 2026 dari emiten berkapitalisasi besar. Pada saat yang sama, pasar juga mencermati sejumlah data makroekonomi Indonesia.

“Untuk sentimen, kami perkirakan akan dipengaruhi oleh rilis laporan keuangan emiten kuartal II-2026, rilis data makro Indonesia, PMI Manufaktur, neraca dagang, dan inflasi. Pergerakan nilai tukar rupiah yang diperkirakan berpeluang menguat,” paparnya.

Selain laporan keuangan dan indikator inflasi, faktor eksternal juga ikut menjadi pertimbangan investor. Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) disebut memiliki peluang menguat, yang dapat memberi dorongan pada minat terhadap aset berisiko.

Dalam kondisi sentimen seperti itu, Herditya merekomendasikan beberapa saham yang layak dicermati. Ia menargetkan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) pada kisaran Rp 595 hingga Rp 605 per saham.

Untuk PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), Herditya menempatkan rentang target harga pada kisaran Rp 1.455 hingga Rp 1.610 per saham. Sementara itu, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dipatok pada rentang Rp 540 hingga Rp 580 per saham.

Sentimen lain yang disebut turut memengaruhi penguatan IHSG datang dari kebijakan bank sentral AS. Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menilai penguatan IHSG belakangan didorong keputusan Federal Reserve (The Fed) yang mempertahankan suku bunga acuannya pada kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen.

Menurut Reza, kebijakan tersebut meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk saham. Ia juga menambahkan kinerja emiten semester I 2026, terutama dari sektor perbankan dan komoditas, menjadi katalis positif bagi pasar domestik.

Meski demikian, ruang penguatan IHSG dinilai masih dibatasi beberapa faktor. Reza menyebut pelemahan rupiah, ketidakpastian kepemimpinan Bank Indonesia (BI), serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memengaruhi harga minyak dunia.

Untuk perdagangan Senin, Reza memproyeksikan IHSG bergerak pada area support 6.180 hingga 6.200 dan resistance 6.300 hingga 6.380. “IHSG berpotensi lanjutkan penguatan dengan support di 6.180-6.200 dan resistance di 6.300-6.380,” ujarnya.

Dengan kombinasi sinyal dari rilis laporan keuangan dan data makroekonomi, serta tetap memperhitungkan faktor eksternal dan risiko domestik, pasar diprediksi tetap bergerak hati-hati. IHSG pun dipandang berpotensi menguat, tetapi dengan batasan yang tercermin dari level-level support dan resistance yang dipantau pelaku pasar.

Memasuki awal pekan, pelaku pasar cenderung menunggu sinyal yang lebih konsisten dari dua kelompok data yang sedang bergerak bersamaan: rilis laporan keuangan emiten berkapitalisasi besar pada semester I 2026 serta deretan indikator ekonomi nasional. Di sisi lain, perhatian juga diarahkan pada PMI Manufaktur, neraca dagang, dan inflasi, karena perubahan pada komponen-komponen tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar. Kekuatan nilai tukar rupiah yang disebut memiliki peluang menguat ikut menjadi pertimbangan dalam menjaga minat terhadap aset berisiko.

Dari kacamata teknikal, IHSG diproyeksikan tetap berada dalam koridor yang relatif terukur, dengan level-level yang dipantau dari sisi support dan resistance. Herditya menempatkan support di kisaran 6.180 dan resistance 6.268, sedangkan Reza Diofanda melihat area support 6.180 hingga 6.200 serta resistance 6.300 hingga 6.380. Dengan panduan level tersebut, pergerakan diharapkan tidak langsung melebar, melainkan mengikuti alur kenaikan yang masih dibatasi oleh zona-zona yang relevan bagi pelaku pasar.

Selain menilai arah indeks, analis juga menyoroti sejumlah saham sebagai pilihan yang layak dicermati, sejalan dengan ekspektasi katalis dari kinerja emiten. BRMS dipatok pada kisaran Rp 595 hingga Rp 605, ENRG pada Rp 1.455 hingga Rp 1.610, dan MBMA pada Rp 540 hingga Rp 580. Namun, keputusan investasi tetap diiringi pertimbangan risiko: pelemahan rupiah, ketidakpastian kepemimpinan Bank Indonesia, serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang turut memengaruhi harga minyak dunia.