jurnalistik.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bergerak di zona merah pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Pada pukul 10.40 WIB, indeks tercatat berada di level 5.748,60 atau turun 3,30% setara 197 poin dibanding posisi saat pembukaan yang berada di 5.919,56.
Tekanan jual pada IHSG juga diiringi pelemahan sejumlah emiten yang bergerak kompak. Kondisi ini membuat pergerakan indeks semakin berat untuk kembali menguat pada jam-jam awal perdagangan.
Di antara saham yang ikut melemah, BBCA turun 3,62% atau 200 poin menjadi Rp 5.325,00 per lembar. Pada saat yang sama, BBNI juga berada di teritori negatif dengan penurunan 4,20% atau 150 poin menjadi Rp 3.420,00 per lembar.
Selain dua saham tersebut, BMRI turut terkoreksi dengan pelemahan 1,98% atau 80 poin menjadi Rp 3.970,00 per lembar. BBRI juga bergerak turun sebesar 3,45% atau 100 poin menuju level Rp 2.800 per lembar.
Secara umum, pergerakan saham-saham menunjukkan kecenderungan melemah dan tidak terlepas dari sentimen yang menekan bursa. IHSG yang berada di level 5.748,60 pada pukul 10.40 WIB menjadi cerminan bahwa tekanan masih dominan saat perdagangan berjalan.
Tekanan juga terlihat dari sektor yang bergerak paling dalam. Pada awal perdagangan, IDX Sektor Barang Baku mencatat pelemahan terdalam sebesar 7,35%.
Pergerakan sektor tersebut bahkan masih berlanjut ketika waktu mendekati pukul 10.50 WIB. Pada saat itu, IDX sektor barang baku tambah anjlok dengan pengurangan 76,36 poin menjadi berada di level 1.451,54.
Selain melihat sektor, pergerakan juga dirangkum melalui daftar top losers dan top gainers di LQ45 pada pagi hari. Untuk kelompok top gainers, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) naik 0,74%.
Sementara itu, pada kelompok top losers, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) turun 10,34%. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) melemah 10,2%, dan PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) turun 10,19%.
Dengan IHSG yang tetap terpuruk di 5.748,60, penurunan pada BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI turut memperkuat gambaran bahwa pergerakan bursa masih dipenuhi sentimen negatif. Rangkaian data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) via Stockbit memperlihatkan bahwa tekanan terjadi sejak awal pembukaan, lalu berlanjut saat perdagangan memasuki pertengahan pagi.
Kondisi ini sekaligus menunjukkan bahwa penurunan tidak hanya terkonsentrasi pada sejumlah emiten, tetapi juga tercermin pada sektor—terutama IDX Sektor Barang Baku yang sempat melemah 7,35% di awal dan kemudian berada di level 1.451,54 setelah berkurang 76,36 poin pada pukul 10.50 WIB.
Pergerakan yang ditunjukkan IHSG pada pukul 10.40 WIB tidak langsung berubah menjadi sinyal pemulihan. Alih-alih menguat, indeks justru terus berada dalam kondisi tertekan, sejalan dengan besarnya persentase pelemahan yang dibarengi penurunan pada sejumlah saham utama.
Di sisi lain, pelemahan yang terjadi juga tampak konsisten pada saham perbankan dan sektor keuangan yang disebutkan dalam rangkaian laporan ini. BBCA yang turun 3,62% dan BBNI yang melemah 4,20% menjadi contoh bahwa tekanan jual tidak bersifat setempat, melainkan menyebar mengikuti dinamika perdagangan.
Sentimen negatif yang sudah mulai terlihat pada jam awal kemudian mendapat penguatan ketika pergerakan sektor ikut turun tajam. IDX Sektor Barang Baku yang sempat tercatat melemah 7,35% di awal perdagangan kemudian menampilkan pergerakan lanjutan menjelang pukul 10.50 WIB, ketika levelnya bergeser ke angka 1.451,54 setelah anjlok 76,36 poin.
Gambaran serupa juga muncul dari komposisi pergerakan saham dalam LQ45. Pada kelompok yang menguat, AMRT hanya bergerak naik 0,74%, sedangkan di bagian top losers CUAN turun 10,34%, BRPT melemah 10,2%, dan SCMA terkoreksi 10,19%. Pola ini memperlihatkan bahwa dominasi tekanan masih lebih besar dibanding peluang kenaikan.












