jurnalistik.co.id – SOLO—Kubik Society, brand fesyen asal Solo, menarik perhatian warganet dalam beberapa hari terakhir lewat pendekatan yang berbeda dari kebanyakan merek pakaian. Brand ini memasang label bergambar wajah penjahit pada setiap produk, lengkap dengan profil singkat yang membuat pelanggan bisa mengenal sosok di balik pembuatan pakaian.
Konsep tersebut muncul sebagai cara untuk menghadirkan “wajah” yang selama ini sering tidak terlihat dalam proses produksi. Dengan label yang menampilkan foto penjahit sekaligus keterangan singkat, pelanggan mendapat gambaran bahwa setiap produk tidak hanya lahir dari bahan dan desain, tetapi juga dari tangan para pekerja yang menjahit.
Kubik Society memasang label tersebut untuk mengenalkan individu yang terlibat langsung saat proses merapikan kain menjadi pakaian siap pakai. Sejumlah orang lalu membicarakan konsep ini di media sosial karena dianggap memperlihatkan sisi manusia di balik kerja produksi yang biasanya berjalan tanpa sorotan.
Pemilik Kubik Society, Ahmad Fauzan Tirmidzi, menyebut pemasangan label bukan semata bertujuan mengejar omzet. “Tujuan saya bukan untuk meningkatkan penjualan, tetapi mengapresiasi para bapak-bapak ini karena sudah menjahit dari selembar kain menjadi satu kemeja,” ujarnya saat berbicara kepada Kompas.com, Selasa (21/7/2026).
Fauzan menilai, dampak yang paling terasa justru datang dari meningkatnya kesadaran publik terhadap merek Kubik Society. Ia mengatakan banyak orang yang sebelumnya belum mengetahui brand tersebut akhirnya mulai mengenali melalui label bergambar yang ditempel pada produk.
Menurut Fauzan, label juga turut membangun citra Kubik Society agar lebih menonjol dibanding merek fesyen lokal lainnya. “Itu juga sangat berdampak banget karena tahulah anak-anak apa itu sekarang itu brand fashion kan sudah banyak banget,” katanya, menjelaskan bahwa keberbedaan tersebut membantu brand tetap mudah dikenali.
Di sisi lain, peningkatan kepercayaan terhadap merek kemudian ikut berpengaruh terhadap penjualan. Fauzan menyampaikan omzet Kubik Society mengalami kenaikan sekitar 50 persen setelah label bergambar penjahit mulai diterapkan.
Berita Terkait
Meski terlihat sebagai identitas produk, Fauzan menekankan bahwa label tersebut juga berfungsi sebagai bagian dari pengendalian mutu. Ia menerangkan, pemasangan label membantu tim melakukan penelusuran saat ditemukan kekurangan pada hasil jahitan.
Produk Kubik Society yang menggunakan label mencakup kemeja flanel, stripe shirt, kemeja polos, kaos, celana pendek, hingga berbagai aksesori. Dalam proses evaluasi, label dipakai sebagai petunjuk untuk mengetahui penjahit yang menangani bagian tertentu.
“Kalau ada satu produk yang reject, kita lihat labelnya. Oh yang jahit contohnya Bapak Anton. Terus saya tanyakan kenapa kok reject , lalu biasanya dibenarkan,” ujar Fauzan. Dengan sistem itu, setiap hasil jahitan dapat ditelusuri sehingga koreksi dan evaluasi menjadi lebih mudah ketika ditemukan masalah pada produk.
Pendekatan Kubik Society, dengan demikian, menempatkan proses menjahit bukan sekadar tahapan produksi, melainkan bagian dari cerita yang bisa dibaca pelanggan. Melalui label wajah penjahit, brand ini mencoba merangkum apresiasi untuk para pekerja sekaligus memastikan kualitas tetap terjaga dari setiap produk yang keluar.
Lewat label wajah penjahit, Kubik Society juga memberi konteks yang lebih spesifik pada setiap produk. Pelanggan bisa melihat bahwa pemrosesan kain hingga menjadi pakaian jadi tidak berhenti pada hasil akhir, melainkan melibatkan individu yang bekerja langsung.
Dalam praktiknya, informasi pada label memudahkan tim saat melakukan pengecekan setelah proses jahit selesai. Ketika ditemukan bagian yang tidak memenuhi standar, identitas yang tercantum pada label membantu mengarahkan evaluasi agar perbaikan bisa dilakukan secara lebih tepat pada tahap terkait.
Selain memperjelas proses produksi, keberadaan label turut menjadi bahan percakapan yang membuat brand lebih mudah diingat. Setelah banyak orang mengenali konsep tersebut, citra Kubik Society dipersepsikan lebih berbeda dan bernilai, sehingga perhatian publik tidak hanya berhenti pada bentuk produk, tetapi juga pada cerita di baliknya.












