jurnalistik.co.id – Perdagangan Kamis (16/7/2026) berpotensi berlangsung lebih bergejolak karena IHSG dinilai rawan mengalami koreksi. Sentimen dari luar pasar dan pelemahan nilai tukar rupiah ikut menjadi faktor yang membatasi ruang gerak indeks.
Pada Rabu (15/7/2026), IHSG ditutup menguat tipis sebesar 0,04 persen ke level 6.041. Meski demikian, analis memperkirakan pergerakan berikutnya belum sepenuhnya bebas dari tekanan.
Sinyal teknikal IHSG
Herditya Wicaksana dari MNC Sekuritas menilai pergerakan indeks memerlukan perhatian pada level-level kunci. Ia menyebut area support IHSG berada di 6.020, sedangkan resistance berada di kisaran 6.057.
Menurut Herditya, tekanan terhadap IHSG terutama dipengaruhi sentimen eksternal. Pelaku pasar, lanjutnya, masih menantikan rilis data produksi industri dan produk domestik bruto (PDB/GDP) China.
Di saat bersamaan, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat cenderung melemah tipis. Kondisi ini diperkirakan ikut membatasi ruang gerak indeks dalam perdagangan Kamis.
Herditya juga menyoroti bahwa perhatian pasar masih tertuju pada kenaikan harga minyak dunia serta arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat, termasuk The Fed. Dalam konteks tersebut, ia menyampaikan penilaian teknikalnya sebagai berikut: โUntuk Kamis, kami perkirakan IHSG rawan koreksi dengan support 6.020 dan resist 6.057, dimana akan ada rilis data industri dan GDP China,โ ujar Herditya saat dihubungi Kompas.com.
Rekomendasi saham untuk investor ritel
Dengan mempertimbangkan skenario tersebut, Herditya merekomendasikan tiga saham yang dapat dicermati investor ritel pada perdagangan Kamis. Pilihan pertama adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dengan target harga Rp 2.990 hingga Rp 3.120.
Berita Terkait
Saham kedua yang disarankan Herditya adalah PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dengan kisaran target harga Rp 162 hingga Rp 180. Adapun saham ketiga, PT Timah Tbk (TINS), diproyeksikan bergerak menuju rentang harga Rp 3.650 hingga Rp 3.900.
Di luar rekomendasi tersebut, analis dari BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, juga menyampaikan satu saham yang layak dipantau. Reza merekomendasikan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA).
Pada perdagangan Rabu (15/7/2026), saham TPIA ditutup menguat 1,60 persen ke level Rp 1.910. Reza menilai perseroan mulai menunjukkan momentum penguatan setelah mampu bertahan di atas moving average (MA) 20 hari serta menguji level resistance di Rp 1.920.
Ia menambahkan, indikator moving average convergence divergence (MACD) masih bergerak positif sehingga peluang penguatan lanjutan dinilai masih terbuka. Reza mengusulkan strategi buy on breakout bila harga berhasil menembus level Rp 1.920, dengan area support di Rp 1.850 dan resistance pada kisaran Rp 2.000 hingga Rp 2.050.
Sementara itu, analis Binaartha Sekuritas Ivan Rosanova juga membidik peluang pada satu saham perbankan. Ivan merekomendasikan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).
Pada perdagangan Rabu, BMRI ditutup naik 0,96 persen ke level Rp 4.200. Ivan memperkirakan saham tersebut berpeluang melanjutkan tren kenaikan menuju level resistance berikutnya di Rp 4.460, dengan catatan harga mampu menembus resistance terdekat di Rp 4.280.
Menurut Ivan, indikator MACD menunjukkan adanya momentum bullish yang mendukung potensi penguatan harga. Ia merumuskan strategi trading buy pada kisaran harga Rp 4.090 hingga Rp 4.160, dengan support di Rp 4.020 dan target pada resistance Rp 4.460.
Catatan untuk kehati-hatian
Rekomendasi yang disampaikan dalam ulasan ini bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham. Seluruh panduan berasal dari analis sekuritas, sedangkan keputusan investasi tetap menjadi tanggung jawab investor yang perlu melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.












