jurnalistik.co.id – Arsène Wenger menilai pembatalan rencana investasi swasta FIFA adalah langkah yang “absolutely necessary and beyond question”. Pernyataan itu muncul setelah Presiden FIFA Gianni Infantino menarik proposal yang sebelumnya menuai kontroversi di tengah tekanan dari berbagai pihak sepak bola.
Dalam rencana tersebut, Infantino bermaksud membentuk entitas komersial untuk mengelola ajang utama FIFA, termasuk Piala Dunia. Skema yang disorot memberi ruang bagi investor eksternal untuk membeli kepemilikan, sekaligus menawarkan dukungan ekonomi kepada asosiasi anggota.
Infantino menawarkan dana sebesar $40 juta (ÂŁ30 juta) untuk masing-masing dari 211 asosiasi anggota FIFA bila mereka menyetujui proposal tersebut. Menurut laporan, tawaran itu menjadi salah satu pemicu perdebatan tajam setelah muncul ancaman pemboikotan dari beberapa pihak.
Di Eropa, ancaman datang dari UEFA yang melibatkan 55 negara anggota. Disebutkan bahwa mereka berencana memboikot seluruh turnamen FIFA, sehingga Infantino akhirnya “forced to withdraw the plan”.
Selain gelombang penolakan di level konfederasi, kritik juga datang dari Pangeran Ali dari Yordania. Ia menuduh FIFA menciptakan situasi yang “amounts to blackmail” terkait persoalan pembayaran hadiah dan dukungan, serta menghubungkannya dengan upaya penguatan dukungan untuk pemilihan ulang Infantino.
Wenger sendiri menjelaskan bahwa perannya selama ini meliputi analisis data permainan, pelatihan online FIFA, serta kompetisi sepak bola usia muda sejak 2019. Ia sebelumnya juga diketahui pernah mendukung gagasan agar Piala Dunia putra digelar setiap dua tahun, namun kali ini ia menegaskan posisi berbeda terkait proyek investasi.
Dalam pernyataan yang disampaikan melalui FIFA, Wenger menyebut “transparency and integrity” sebagai tuntutan utama kepada lembaga sepak bola dunia. Ia juga menyatakan bahwa ia bukan bagian dari rencana strategis tersebut, dan baru mengetahui proyek itu lewat pemberitaan media.
Wenger menilai keputusan untuk menarik proyek itu “was absolutely necessary and beyond question”. Ia menekankan keyakinannya pada adanya FIFA yang independen, yang melayani permainan dengan komitmen terhadap transparansi dan integritas.
Pandangan tersebut muncul di tengah eskalasi yang juga melibatkan hubungan FIFA dengan UEFA. Disebutkan bahwa Wenger termasuk salah satu dari 18 pejabat FIFA yang disebut dalam surat pelestarian dokumen yang dikirim UEFA sambil mengancam langkah hukum.
Berita Terkait
Di sisi lain, Carlos Cordeiro—penasihat senior Infantino untuk strategi dan tata kelola—menjadi satu-satunya pejabat FIFA yang mengundurkan diri. Dalam penjelasannya, ia menggambarkan proposal itu sebagai “a bad deal for football” sekaligus “mortgage football’s future”.
Sementara itu, Mattias Grafstrom ikut bergabung dalam kritik terhadap rangkaian keputusan terakhir. Dalam email internal kepada staf, ia menulis bahwa pekan tersebut merupakan “a sad and reproachable series of events” yang pada akhirnya ditutup dengan proyek yang ditinggalkan secara permanen.
Grafstrom menyebut situasi tersebut “difficult to comprehend and accept” dan meminta seluruh pihak tetap fokus pada hal yang sejak awal menyatukan mereka. Fokus itu, menurutnya, adalah melayani sepak bola dan melayani 211 asosiasi anggota FIFA, sejalan dengan kepatuhan penuh pada statuta dan regulasi FIFA.
Ia juga memberi penegasan bahwa anggota administrasi akan “be defended and safeguarded” dari konteks politis yang sedang dialami. Grafstrom menekankan bahwa momen-momen tidak stabil dan episode yang tidak menyenangkan akan berlalu, sementara institusi serta misi dan tanggung jawab kepada sepak bola dunia terus berjalan.
Dalam kritiknya, Pangeran Ali menyoroti dugaan penahanan pembayaran hadiah. Ia mengklaim hadiah yang seharusnya diterima sebagai runner-up Piala Arab FIFA pada Desember belum dibayarkan, sekaligus menggambarkan upaya dukungan sebagai bagian dari tekanan yang ia anggap tidak dapat diterima.
Ia juga menulis bahwa sebelum laga final Piala Dunia, Infantino menyatakan menerima lebih dari 200 surat dukungan dari 211 asosiasi anggota untuk pemilihan ulang. Yordania disebut menjadi salah satu dari sedikit negara yang tidak mendukung, dan Ali mengaitkannya dengan tudingan bahwa FIFA mencoba menggunakan persoalan pembayaran untuk memperoleh dukungan tersebut.
Ali menegaskan penolakannya dengan mengatakan situasi itu “amounts to blackmail” dan mereka menolak untuk tunduk. Ia turut menyatakan bahwa Yordania mengedepankan nilai etis dan tidak memberikan dukungan sebelum maupun sesudahnya, sesuai prinsip yang ia klaim dipegang.
Selain isu pembayaran, Ali juga mengunggah tuduhan lain terkait visa. Ia mengeklaim pendukung Yordania yang memiliki tiket ditolak memperoleh visa untuk memasuki Amerika Serikat musim panas ini guna menyaksikan penampilan perdana mereka di Piala Dunia.
FIFA disebut telah dihubungi untuk memberikan tanggapan atas berbagai pertanyaan terkait skema investasi dan respons atas kritik tersebut. Dengan rencana investasi yang telah ditarik, perdebatan kini bergeser pada bagaimana tata kelola dan legitimasi keputusan FIFA dapat dipulihkan di tengah tekanan eksternal dan internal.












