jurnalistik.co.id – UEFA menyatakan akan menempuh langkah hukum terhadap FIFA terkait rencana Gianni Infantino yang dibatalkan. Langkah ini diumumkan setelah otoritas sepak bola Eropa itu menilai rencana investasi yang sempat digagas tidak berjalan sesuai rancangannya.
Ancaman tersebut berkaitan dengan rencana Infantino untuk melepaskan kepemilikan pada kompetisi-kompetisi FIFA kepada investor swasta. Namun rencana itu akhirnya disetop, sehingga UEFA memilih mendorong isu tersebut ke jalur proses hukum, termasuk melalui mekanisme yang melibatkan sengketa dan pengaduan regulasi.
Di level sepak bola internasional, kepemimpinan Infantino sendiri sebelumnya sudah mendapat sorotan publik dari badan-badan pengatur sepak bola di Eropa, Amerika Utara dan Tengah, serta Karibia. Dalam situasi itu, UEFA dan Concacaf merilis pernyataan yang berisi kritik terhadap rencana tersebut.
Perkembangan terbaru datang pada Senin, ketika Wales menjadi negara pertama yang secara terbuka menarik dukungan untuk Infantino agar tetap memimpin sebagai presiden FIFA. Penarikan dukungan ini menambah tekanan politik dan kelembagaan di sekitar upaya kelanjutan jabatan Infantino.
Menurut rencana yang dikemukakan FIFA dan Infantino, mereka ingin membentuk sebuah entitas komersial untuk mengelola agenda utama FIFA, termasuk Piala Dunia. Dengan skema itu, investor eksternal disebut berpeluang membeli porsi kepemilikan di entitas yang baru dibentuk.
Pemahaman resmi yang disampaikan dalam konteks tersebut adalah bahwa FIFA akan “invite third parties to make minority, non-controlling investments” dalam anak usaha baru bernama Fifa Forward Enterprise (FFE). Kalimat itu menjadi rujukan terkait bagaimana investasi pihak ketiga diposisikan, yakni sebagai kepentingan minoritas tanpa kontrol pengendali.
Surat UEFA dan rencana jalur prosedural
Berita Terkait
Sebagaimana dilaporkan The Telegraph, UEFA menyampaikan pandangannya melalui sebuah surat kepada Infantino. Dalam surat itu, UEFA menyatakan bahwa mereka “it is actively considering legal action, arbitration, and/or regulatory complaints (together, the ‘proceedings’) arising out of and in connection with the FFE plan proposed by Fifa”.
Artinya, UEFA tidak membatasi respons pada satu bentuk upaya, melainkan membuka opsi proses hukum, arbitrase, dan/atau pengaduan kepada otoritas regulasi yang relevan. Penyebutan istilah “proceedings” dalam surat tersebut menegaskan bahwa UEFA memandang rencana FFE sebagai titik yang memunculkan dasar pemrosesan lanjutan.
UEFA juga menegaskan adanya kewajiban administratif yang harus dilakukan. Dalam surat yang dimaksud, UEFA menuliskan permintaan agar langkah segera diambil untuk mengamankan bahan-bahan terkait rencana FFE.
UEFA menambahkan bahwa pihaknya menginginkan “immediate steps to identify, locate and preserve all documents and electronically stored information described in this notice that are in your or Fifa possession, custody or control.” Pernyataan itu menekankan identifikasi, penelusuran, serta pemeliharaan dokumen maupun informasi yang tersimpan secara elektronik.
UEFA kemudian menegaskan bahwa kewajiban tersebut muncul terlepas dari kebijakan retensi internal yang selama ini diterapkan oleh Infantino atau organisasinya. UEFA menyebut kewajiban itu “supersede any routine document destruction or deletion policies that would otherwise apply.” Dengan kata lain, penghapusan rutin atau pemusnahan data yang biasa dilakukan tidak berlaku untuk informasi yang disebut dalam pemberitahuan.
Dalam konteks rencana yang telah dibatalkan itu, surat UEFA menggambarkan bahwa perhatian kini bergeser dari perdebatan publik menuju langkah formal terkait dokumen dan potensi proses sengketa. Kejelasan mengenai kewajiban pelestarian informasi juga memperlihatkan bahwa UEFA ingin memastikan materi yang relevan tidak hilang selama proses berjalan.
Hingga kini, rincian mengenai respons pihak FIFA terhadap surat UEFA tidak disebutkan dalam laporan tersebut. Namun, fakta bahwa Wales telah menarik dukungan secara terbuka, sementara UEFA memilih mempersiapkan jalur prosedural, menunjukkan bahwa dinamika di tubuh sepak bola global sedang menuju fase yang lebih tegang.
Dengan latar itu, posisi Infantino menjadi semakin tidak pasti setelah kritik dari berbagai kawasan makin terakumulasi. Pembatalan rencana investasi FFE oleh FIFA tidak membuat isu mereda, melainkan justru memicu langkah lanjutan dari UEFA terkait aspek hukum dan kepatuhan.












