Olahraga

Calon Pengganti Presiden FIFA: siapa yang berpeluang menggantikan Gianni Infantino?

×

Calon Pengganti Presiden FIFA: siapa yang berpeluang menggantikan Gianni Infantino?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Fifa president next candidates: Who might replace Gianni Infantino in world football's top job?

jurnalistik.co.id – Tekanan terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino terus menguat. Setelah ia membatalkan rencana kontroversial untuk melepas saham di kompetisi FIFA kepada investasi swasta, posisi Infantino kini disebut berada dalam situasi yang makin terisolasi.

Ke depan, Infantino tetap berencana maju pada pemilihan ulang Maret. Ia menargetkan masa jabatan keempat sekaligus yang terakhir sebagai presiden.

Untuk menang dalam pemilihan itu, Infantino membutuhkan 106 suara dari 211 anggota FIFA. Meski demikian, sejumlah asosiasi nasional—termasuk dari Inggris dan Wales—mulai menarik surat dukungan bagi pencalonannya.

Selain penarikan dukungan, muncul pula kemungkinan FIFA Council mengadakan pertemuan darurat untuk mendorong Infantino mengundurkan diri. Dalam skenario tersebut, pertanyaan besar berikutnya adalah: siapa yang berpotensi memimpin FIFA bila Infantino benar-benar tak melanjutkan masa jabatannya?

Situasi Infantino dan batas waktunya

Infantino disebut menghadapi tekanan yang berlapis dari berbagai pihak. Dalam konteks tersebut, rencana penataan ulang tata kelola dan arah kebijakan FIFA dinilai menjadi sorotan, terutama setelah keputusan terkait rencana penjualan saham kompetisi dicabut.

Masa jabatan Infantino berikutnya akan ditentukan pada 77th Congress FIFA di Maroko pada Maret mendatang. Batas waktu pengajuan nama kandidat jatuh pada 18 November.

Dengan kondisi politik yang makin tak solid dan surat dukungan yang mulai ditarik, jalan untuk mempertahankan posisi semakin sulit. Setidaknya, tanda-tanda pergeseran dukungan sudah terlihat dari asosiasi-asosiasi yang sebelumnya berada di barisan pendukung.

Nama-nama yang berpeluang menjadi penerus

Salah satu nama yang paling sering dikaitkan dengan kemungkinan suksesi adalah Victor Montagliani. Ia menjabat sebagai presiden Concacaf, konfederasi yang mengelola sepak bola di Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Karibia.

Montagliani terpilih pada 2016 dengan janji reformasi tata kelola, mirip dengan pola kampanye yang pernah digaungkan Infantino. Sebelum memimpin Concacaf, ia juga pernah menjadi presiden Canada Soccer.

Selain pengalaman administratif, Montagliani disebut memiliki keterlibatan besar pada persiapan hingga pelaksanaan Piala Dunia 2026, yang menjadi edisi pertama dengan status tuan rumah oleh tiga negara. Ia juga dikenal menguasai bahasa Prancis, Italia, Spanyol, dan Inggris.

Dalam penjelasan terkait pencalonannya memimpin Concacaf, Montagliani menyampaikan kepada BC Business: “Like anything, when I decide to go, I go. I campaigned on my own dime for three months, went to see all 41 countries, from the US to Bonaire – a little island off Venezuela.”

Di tingkat regional, ia juga disebut memimpin momen ketika Concacaf menjadi tuan rumah penyelenggaraan Copa America yang diperluas pada 2024. Namun, dalam sebuah wawancara dengan BBC Sport, ia menolak gagasan bahwa turnamen itu akan berubah menjadi agenda yang rutin.

Secara politik, Montagliani digambarkan sebagai sosok yang kuat dalam merapikan hubungan, termasuk ketika Arsene Wenger—mantan manajer Arsenal—mencoba mengumpulkan dukungan untuk Piala Dunia yang dihelat setiap dua tahun. Ia juga disebut tidak sepenuhnya sejalan dengan gagasan format 64 tim.

Pada konferensi Leaders 2025, Montagliani menguraikan alasan mengapa ia merasa sepak bola cukup kuat untuk melewati setiap badai. Ia mengatakan, “The game is bigger than world current leaders,” lalu menambahkan, “Football will survive regimes. Does it cause a headache? Of course. You have to be realistic about that. That is the beauty of our game, it is bigger than any individual and country.”

Nama lain yang juga disebut sebagai kandidat potensial adalah Sheikh Salman bin Ebrahim Al Khalifa. Ia merupakan presiden AFC dan pertama kali terpilih pada 2013, lalu kembali tanpa lawan untuk masa jabatan keempat yang akan berjalan hingga 2027.

Selama memimpin AFC, Al Khalifa disebut berperan dalam pertumbuhan signifikan di level konfederasi Asia. Perkembangan itu mencakup kompetisi Champions League Elite, Champions League Two, Challenge League, serta Women’s Champions League yang diluncurkan pada 2024–25.

Al Khalifa juga terlibat dalam ekspansi Piala Asia menjadi 24 tim. Di sisi lain, ia ikut menandatangani langkah yang disebut sebagai “takedown brutal” atas cara FIFA dijalankan di bawah Infantino.

Ia juga disebut membawa serta sebuah konfederasi beranggotakan 46 orang, yang banyak di antaranya dinilai memahami bahwa angka yang ditawarkan dalam rencana Infantino berpotensi sangat besar dari sisi pengeluaran sepak bola secara keseluruhan.

Berikutnya adalah Nasser Al-Khelaifi, yang menjabat sebagai presiden Paris Saint-Germain. Ia mengambil alih peran sebagai ketua European Clubs’ Association setelah satu peristiwa besar lain yang sempat mengancam pecahnya permainan: European Super League yang kolaps dalam waktu 48 jam pada 2021.

Di bawah kepemimpinannya, Al-Khelaifi disebut melakukan perubahan nama menjadi European Football Clubs. Ia juga diklaim memperluas keanggotaan hingga lebih dari 800 klub, dengan catatan Real Madrid menjadi satu-satunya klub besar yang berada di luar struktur itu.

Secara teori, sosok Al-Khelaifi bisa menjadi penantang serius bagi Infantino. Namun, ia disebut tidak ingin mengambil peran tersebut.

Ketika kemungkinan itu ditanyakan pada Kamis, sumber yang dekat dengan Al-Khelaifi—berusia 52 tahun—memberikan respons: “He genuinely, genuinely, genuinely doesn’t want the job,”.

Nama lain yang turut sering muncul adalah Mattias Grafstrom. Ia diangkat sebagai sekretaris jenderal FIFA pada Mei 2024, dan sejak itu disebut menjadi suara yang makin berpengaruh di meja FIFA.

Grafstrom dikenal sebagai figur yang dekat dengan struktur kepemimpinan FIFA, karena ia pernah menjadi chief of staff Infantino setelah Infantino terpilih sebagai presiden pada 2016. Ia juga disebut kerap tampil terlihat di ajang Piala Dunia.

Namun, kedekatan itu bisa menjadi pertimbangan negatif. Secara umum, ada persepsi bahwa presiden FIFA berikutnya idealnya berasal dari non-Eropa, dan hal itu dapat memengaruhi peluang Grafstrom.

Pada akhirnya, siapa pun yang terpilih akan ditentukan melalui mekanisme FIFA yang berlangsung pada 77th Congress di Maroko pada Maret mendatang, dengan batas pengajuan nama kandidat hingga 18 November. Dengan tanda-tanda dukungan yang mulai tergerus bagi Infantino, kompetisi suksesi berpotensi menjadi salah satu perdebatan besar dalam sepak bola dunia.