Olahraga

Nasib FIFA di ujung krisis: Gianni Infantino di bawah tekanan

×

Nasib FIFA di ujung krisis: Gianni Infantino di bawah tekanan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: What next for Fifa and under-pressure Gianni Infantino?

jurnalistik.co.id – Tekanan terhadap Gianni Infantino kian menguat, menyusul rangkaian langkah yang membuat sebagian penguasa sepak bola dunia mempertanyakan posisinya sebagai presiden FIFA.

Dalam hitungan hari, Infantino yang sebelumnya dipandang berada di posisi aman justru menghadapi pusaran politik yang makin sulit dikendalikan.

Pemicu utamanya datang setelah Infantino mencoba menjual kepentingan (stakes) dalam kompetisi FIFA kepada perusahaan investasi swasta, disebut dilakukan “apparently without the knowledge of anyone else”. Praktik itu kemudian dipandang sebagai langkah yang menyalakan alarm di berbagai pihak.

UEFA—kritikus paling keras terhadap Infantino—membalas dengan langkah tegas. Pada Kamis, UEFA mengancam akan memboikot seluruh kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia.

Bagi UEFA, momen ini dinilai sebagai peluang untuk mendorong perubahan. Namun, jalan untuk menggeser Infantino tidak sesederhana sekadar tekanan politik di permukaan.

Tak hanya UEFA yang bergerak. Concacaf, konfederasi yang bekerja sangat dekat dengan Infantino dalam penyelenggaraan Piala Dunia 2026, meminta adanya “full review” terhadap kepemimpinan FIFA. Permintaan itu muncul sebagai respons atas rencana Infantino.

Di Asia, sejumlah negara yang selama ini loyal ikut menjauh. Media melaporkan bahwa federasi-federasi di bawah AFC memilih sikap menyamping, sehingga dukungan terhadap Infantino makin menyempit.

Lebih jauh, dua sekutu terdekat Infantino juga meninggalkannya. Pertama, penasihat senior Carlos Cordeiro. Setelah itu, chief operating officer Kevin Lamour juga tidak lagi berada dalam barisan terdepan yang mendukung Infantino.

Meski Infantino kemudian melakukan koreksi pada awal Sabtu—dengan “backtracked”—UEFA kembali memberikan pukulan. UEFA mengeluarkan pernyataan kuat yang menyatakan telah “lost confidence” pada kepemimpinan Infantino.

Dengan demikian, konflik memasuki fase baru: garis pertempuran semakin jelas, dan pertanyaan besar bergeser ke arah “apa yang terjadi berikutnya”.

Skenario penentuan nasib di FIFA

Secara prosedural, jalur tercepat untuk mengakhiri masa jabatan Infantino adalah jika ia mengundurkan diri. Opsi itu, dalam konteks politik sepak bola, sudah pernah terjadi pada figur sebelumnya: Sepp Blatter yang mundur pada 2015 setelah berada di tengah pusaran skandal.

Namun, menurut laporan, Infantino masih memiliki basis dukungan sehingga ia bisa bertahan sampai Maret, saat ia menghadapi pemilihan ulang untuk periode keempat—sekaligus yang terakhir—sebagai presiden FIFA.

Jika tidak ada pengunduran diri, mekanisme berikutnya melibatkan FIFA Council. Salah satu opsi yang dibahas adalah memaksa “emergency meeting” ketika 19 dari 37 anggota Council mengajukan permintaan.

Susunan anggota Council disebut terdiri dari UEFA (9 anggota), AFC (7), Concacaf (5), Africa (6), Conmebol (5), dan Oceania (3). Proses itu juga melibatkan Infantino serta sekretaris jenderal Mattias Grafstrom.

Walau demikian, BBC melaporkan terdapat keraguan bahwa jumlah 19 suara bisa benar-benar tercapai. Apabila angka itu berhasil dipenuhi, pertemuan harus digelar dalam dua pekan, dan FIFA Council dapat meminta Infantino menyerahkan pengunduran diri.

Infantino tetap memiliki ruang untuk menolak, namun penolakan itu akan menambah tekanan politik di sekitarnya.

Langkah lanjutan yang lebih berat adalah extraordinary congress untuk 211 asosiasi anggota FIFA. Kongres luar biasa itu bisa terselenggara bila “one-fifth, or 43 associations” mengajukan permintaan secara tertulis dengan syarat yang ditetapkan.

Karena UEFA memiliki 55 negara, UEFA dianggap mampu memicu extraordinary congress kapan pun ia menginginkan. Namun, prosesnya tidak instan: laporan menyebut minimal dua bulan dari pemicuan, dan lebih mungkin sekitar tiga bulan. Bahkan jika kongres digelar, hasilnya belum tentu berakhir sesuai harapan pihak penekan.

Secara efektif, mekanisme ini menjadi semacam pemilihan tanpa calon lain yang telah ditetapkan sejak awal, karena diperlukan 106 suara untuk menjatuhkan posisi melalui “vote of no confidence”. Rinciannya juga disebut: UEFA 55, Africa 54, Asia 46, Concacaf 35, Oceania 11, dan Conmebol 10.

Menariknya, Africa, Conmebol, dan Oceania disebut belum mengkritik rencana Infantino. Dalam laporan yang sama, disebut pula total 136 negara menolak rencana investasi tersebut, tetapi menolak ide tidak selalu berarti memilih untuk mengusung langkah keluar dari kursi presiden.

Beberapa sinyal dukungan masih bertahan. Qatar disebut sudah menyatakan dukungan kepada Infantino, sementara Meksiko memilih menjauh dari pernyataan bersama Concacaf.

Dari sini, tantangan berikutnya adalah mencari sosok yang dinilai layak untuk menghadapi pemilihan pada Maret.

Infantino sendiri tercatat pernah menang tanpa lawan pada pemilihan 2019 dan 2023. Jika ada pihak yang berniat menantangnya, batas pengumuman pencalonan disebut jatuh pada 18 November.

Siapa yang bisa menggantikan?

Jika jalur pemilihan benar-benar ditempuh, pihak penekan tidak hanya perlu sekadar menolak Infantino, tetapi juga menemukan figur yang mampu menyatukan dukungan lintas konfederasi.

Dengan posisi UEFA yang begitu kuat menentang Infantino, calon dari Eropa dinilai akan menghadapi tantangan saat mencari penerimaan global. Alasannya sederhana: peluang tampak seperti upaya mengambil alih FIFA itu sendiri.

Karena itu, kandidat yang dianggap paling mungkin muncul adalah Victor Montagliani, presiden Concacaf. Ia, seperti Infantino, terpilih pada 2016 dengan janji reformasi tata kelola. Ia juga pernah menjadi presiden Canada Soccer dan terlibat kuat dalam persiapan serta penyampaian Piala Dunia 2026.

Selain reputasi organisasional, Montagliani juga disebut fasih dalam bahasa Prancis, Italia, dan Spanyol, serta Inggris.

Opsi lain yang muncul adalah Sheikh Salman bin Ebrahim Al Khalifa, presiden AFC. Ia dipilih pertama kali pada 2013 dan kemudian terpilih kembali tanpa lawan untuk masa jabatan keempat yang berjalan hingga 2027. Laporan juga menyebut ia menandatangani langkah keras AFC yang menilai cara FIFA dikelola di bawah Infantino.

Menurut laporan, Sheikh Salman membawa konvensi dan pemahaman dari konfederasi beranggotakan 46 negara, termasuk terkait besarnya angka pengeluaran yang ditawarkan oleh rencana Infantino untuk keseluruhan sepak bola.

Nama Nasser Al-Khelaifi juga disebut—yakni presiden Paris St-Germain yang juga menjadi ketua European Football Clubs. Ia berperan dalam menyatukan kembali sepak bola Eropa setelah peristiwa besar yang sempat mengancam persatuan permainan, yaitu European Super League yang gagal.

Namun, meski secara teori ia bisa menjadi penantang serius, laporan menilai ia tampak tidak terlalu menginginkan peran tersebut. Dukungan Qatar terhadap Infantino juga bisa menjadi persoalan tambahan dalam upaya perubahan kepemimpinan.

Apakah Infantino akan bertahan?

Dalam bisnis normal, seorang figur yang berada di bawah tekanan seperti ini cenderung sulit bertahan. Tetapi sepak bola tidak sepenuhnya berjalan seperti mekanisme perusahaan pada umumnya.

Sejumlah orang membandingkannya dengan Sepp Blatter yang mundur pada 2015 setelah skandal korupsi, sekalipun saat itu ia bahkan baru saja terpilih ulang dalam rentang waktu yang dekat.

Untuk Infantino, pertanyaan berikutnya adalah apakah ia akan memilih melawan tekanan atau menyerah pada tuntutan.

Dalam pernyataan pada Sabtu, disebutkan niatnya adalah “was to bring all interested parties back together in the coming days and weeks”.

Pada situasi seperti ini, permintaan maaf atau sikap menyesuaikan diri bisa saja memengaruhi arah politik yang berkembang, karena ada kemungkinan beberapa pihak menganggap langkah koreksi sebagai upaya meredakan konflik.

Setelah Qatar mendukungnya pada Sabtu malam, co-host Piala Dunia 2030, Morocco, juga disebut turut mendukung. Laporan menambahkan bahwa Mesir kemudian memuji Infantino karena membatalkan masterplan-nya.

Infantino kemungkinan berpikir bahwa jika ia terus menambah asosiasi yang kembali berada dalam dukungannya, peluang “vote of no confidence” akan makin sulit diwujudkan. Dengan basis dukungan yang sudah lama kuat, ia dipandang memiliki keyakinan bahwa kerusakan yang muncul bisa dipulihkan.

Karena pemungutan suara “vote of no confidence” disebut berlangsung tiga bulan lagi, ada ruang waktu untuk memperbaiki posisi—termasuk upaya meyakinkan mantan sekutu bahwa ini hanya “aberration”.

Bagi UEFA, tantangannya adalah menciptakan kondisi agar Infantino pada akhirnya tidak punya pilihan selain mengundurkan diri. Untuk mencapai itu, kritik dari federasi di seluruh dunia harus terus berlanjut.

Namun, ada faktor yang bisa membuat situasi makin rapuh: jarak yang diambil mitra sponsor besar dari organisasi.

Dalam skandal FIFA 2015, beberapa perusahaan besar diketahui menghentikan kesepakatan sponsor mereka—termasuk Sony, Emirates, Castrol, Continental Tyres, dan Johnson & Johnson. Laporan menyatakan belum ada tanda serupa saat ini, tetapi saga ini masih memiliki potensi untuk terus bergulir.