Teknologi

Inggris Hadirkan Kurikulum Teknik dan AI untuk Siswa 14 Tahun

×

Inggris Hadirkan Kurikulum Teknik dan AI untuk Siswa 14 Tahun

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Inggris Tawarkan Pembelajaran Teknik dan AI untuk Siswa Berusia 14 Tahun

jurnalistik.co.id – Pemerintah Inggris mengumumkan reformasi pendidikan yang memberi ruang bagi siswa sekolah menengah untuk mulai mempelajari mata pelajaran teknik dan kecerdasan buatan (AI) sejak usia 14 tahun.

Kebijakan ini disusun agar berjalan berdampingan dengan kurikulum akademik inti. Tujuannya, jalur karier yang ditempuh siswa menjadi lebih jelas dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

Perdana Menteri Inggris Andy Burnham menjelaskan bahwa program kejuruan yang akan tersedia mulai kelas 10 akan terhubung langsung dengan sektor industri lokal. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya berhenti pada kompetensi akademik, tetapi diarahkan pada keterampilan yang dapat digunakan di lingkungan kerja.

Burnham menekankan bahwa pemerintah ingin mengubah cara sistem pendidikan “mengirimkan pesan” kepada anak muda. Menurutnya, pembelajaran yang ada selama ini terlalu menitikberatkan rute menuju universitas.

“Kita sudah terlalu lama memiliki sistem yang dibangun di sekitar rute universitas. Itu mengirimkan pesan kepada sebagian anak muda bahwa mereka adalah warga negara kelas dua dan itu tidak benar,” kata Burnham, dikutip dari BBC, Selasa (28/7/2026).

Ia melanjutkan, “Mereka membutuhkan sistem pendidikan yang juga bermanfaat bagi mereka, yang menawarkan jalan bagi semua anak muda, yang seimbang antara akademis dan teknis.” Pernyataan ini menjadi dasar arah kebijakan yang mencoba menyandingkan pelajaran inti dengan pendidikan berbasis keahlian.

Langkah tersebut diumumkan di tengah kondisi pendidikan anak muda yang dinilai mengkhawatirkan. Data nasional yang disebutkan pemerintah mencatat lebih dari satu juta anak muda di Inggris tidak menempuh pendidikan, bekerja, maupun mengikuti pelatihan (NEET).

Angka tersebut disebut sebagai yang tertinggi dalam kurun waktu lebih dari 12 tahun. Pemerintah menilai situasi itu menunjukkan perlunya perubahan jalur pendidikan agar lebih menarik sekaligus terasa manfaatnya bagi lebih banyak kelompok.

Skema kurikulum: inti tetap wajib, teknik dan AI ditambahkan

Dalam usulan baru, para siswa tetap mempelajari mata pelajaran wajib seperti matematika, bahasa Inggris, dan sains. Perbedaannya terletak pada fleksibilitas untuk menggabungkan pelajaran inti tersebut dengan pendidikan teknik.

Pendidikan teknik yang dimaksud juga mencakup kesempatan magang. Selain itu, pemerintah menyebut kebijakan ini memberi ruang untuk jejaring dengan pengusaha lokal, sehingga pengalaman belajar lebih dekat dengan kebutuhan lapangan.

Burnham, di sisi lain, tidak memasang tenggat waktu pasti terkait capaian target penurunan angka pemuda NEET. Ia mengaitkan reformasi sebagai upaya yang akan disiapkan bertahap dan dijalankan melalui skema uji coba.

Pemerintah memperkirakan jalur pendidikan teknik baru ini akan mulai diuji coba dan beroperasi di beberapa daerah pada 2028. Artinya, implementasi tidak langsung berlaku menyeluruh pada tahun yang sama, melainkan melalui tahapan pengujian di lokasi tertentu.

Tanggapan oposisi: dinilai tidak menyelesaikan akar masalah

Kebijakan ini mendapat respons beragam, termasuk kritik dari kubu oposisi. Sekretaris Bayangan Bidang Pekerjaan dan Pensiun, Helen Whately, menilai pengumuman tersebut bukan terobosan besar untuk mengatasi akar persoalan ketenagakerjaan.

Menurut Whately, yang terjadi justru kekurangan lapangan kerja yang drastis. Ia juga menautkan persoalan itu dengan kebijakan Partai Buruh selama beberapa tahun terakhir yang dinilai telah mengurangi peluang kerja bagi kaum muda.

“Yang terjadi di sana adalah kekurangan lapangan kerja yang drastis karena kebijakan Partai Buruh selama beberapa tahun terakhir telah menghancurkan peluang kerja bagi kaum muda. Pengumuman ini tidak akan menyelesaikan masalah itu,” tutur Helen Whately.

Penilaian tersebut berbeda dengan narasi pemerintah yang menempatkan reformasi kurikulum sebagai cara untuk memperjelas arah karier anak muda dan menekan jumlah mereka yang berada di luar pendidikan dan pekerjaan.

Meski demikian, pemerintah tetap menegaskan komitmennya untuk menurunkan laju pertumbuhan angka pemuda NEET. Reformasi pendidikan yang menonjolkan teknik dan AI sejak usia 14 tahun diposisikan sebagai pendekatan yang seimbang, yakni menyatukan akademis dan teknis.

Dengan rencana uji coba pada 2028 di beberapa daerah serta penerapan program kejuruan mulai kelas 10, kebijakan ini berupaya mengubah pengalaman belajar siswa. Fokusnya adalah memberi pilihan yang lebih luas sekaligus menyediakan keterhubungan yang lebih kuat antara sekolah, industri lokal, dan jalur keterampilan yang dapat langsung dimanfaatkan.

Ke depan, hasil uji coba dan respons terhadap pelaksanaan di wilayah yang ditentukan akan menjadi rujukan penting. Terutama untuk menilai apakah reformasi tersebut mampu menjawab persoalan NEET, serta mempertemukan kebutuhan siswa dengan realitas kesempatan kerja di daerah masing-masing.