jurnalistik.co.id – Setelah insiden bentrokan maut di kawasan Jalan Matraman Dalam, Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat pada Minggu (26/7/2026), proses belajar di RA dan MI Karisma yang berada di Masjid Jami’ Matraman kembali berjalan normal secara tatap muka pada Selasa (28/7/2026).
RA Karisma dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Karisma menempati lantai dua Masjid Jami’ Matraman, tepat di area yang berdekatan dengan lokasi bentrokan. Kondisi sekitar sekolah yang sebelumnya belum aman membuat kegiatan belajar sempat harus dialihkan.
Belajar daring menyusul situasi belum kondusif
Senin (27/7/2026), pihak sekolah menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau belajar daring. Kebijakan itu diambil sebagai langkah pengamanan bagi para siswa di tengah suasana yang masih memanas setelah bentrokan.
Peralihan tersebut disampaikan mendadak kepada orang tua dan siswa. Rosidah, wali murid yang ditemui di depan sekolah pada Selasa, mengatakan informasi perubahan belajar diterima melalui guru-guru pada Senin pagi.
Menurut Rosidah, pemberitahuan itu kemudian disebarkan melalui grup WhatsApp orang tua murid serta status para guru. Ia mengaku keputusan peralihan membuat dirinya cukup khawatir sejak kemarin.
Orang tua bersyukur, kecemasan mereda
Rosidah menyampaikan rasa lega ketika sekolah akhirnya kembali mengadakan tatap muka. Ia bahkan menceritakan bahwa kekhawatiran sempat mengganggu pikirannya sebelum anaknya kembali berangkat.
“Alhamdulillah sudah bisa masuk sekolah hari ini. Memang dari kemarin khawatir sih, sempat kepikiran soalnya takut kenapa-kenapa kalau anak sekolah,” kata Rosidah saat ditemui di depan sekolah, Selasa.
Ia menuturkan dirinya terkejut setelah mengetahui titik awal keributan berada di gerobak nasi uduk langganannya. Lokasi pedagang tersebut tidak jauh dari area sekolah, dan Rosidah mengaku rutinitasnya sendiri sering bersinggungan dengan tempat itu.
Berita Terkait
“Soalnya posisinya di sini, orang saya saja sering sarapan di tukang nasi uduk itu kalau habis mengantar dia sekolah. Eh, pas kemarin ternyata ributnya dari situ,” kata Rosidah.
Rosidah juga menekankan bahwa insiden tersebut terjadi pada akhir pekan ketika para siswa sedang libur. Ia menyebut momen itu menjadi alasan utamanya merasa lebih aman, meski tetap ada rasa waswas setelah mendengar kabar bentrokan.
“Untung pas ribut-ribut itu hari Minggu, lagi enggak sekolah anak, jadi aman. Pas tahu beritanya, ya Allah untung lagi enggak sekolah. Walaupun sebenarnya pasti aman ya kalau di sekolah, apalagi namanya di masjid. Tapi waswas,” ujarnya.
Ia menambahkan meski situasi sempat membuat tegang, anaknya tidak menunjukkan ketakutan ketika akhirnya kembali mengikuti kegiatan belajar di lingkungan sekolah. Rosidah mengatakan sang anak justru merasa senang karena dapat melihat aparat saat berangkat.
“Dia malah senang, dari kemarin ketemu tentara sama polisi. ‘Mama, banyak tentara’, katanya. Cuma saya bilang (penjagaannya) paling beberapa hari doang,” kata dia.
Menurutnya, penjagaan yang ada di sekitar sekolah tidak mengubah cara pandang anak terhadap situasi. Keberadaan aparat dianggap sebagai sesuatu yang bisa dikenali secara kasat mata oleh anak, meski tetap berada dalam konteks keamanan.
Kawasan diawasi ketat, namun kegiatan kembali normal
Walaupun area sekitar sekolah masih dijaga ketat, Rosidah menyebut sang anak sama sekali tidak merasa takut saat berangkat ke sekolah. Pengawasan dilakukan oleh ratusan personel TNI-Polri, termasuk kendaraan taktis yang ikut disiagakan di sekitar Jalan Matraman Dalam.
Di sisi lain, Winda (38), wali murid lainnya, mengaku sempat menyiapkan rencana agar anaknya tidak masuk sekolah pada Senin. Ia menilai situasi pada Minggu malam masih cukup mencekam, terutama dengan adanya upaya penyerangan balik ke permukiman warga Matraman Dalam.
Dengan penguatan pengamanan dan berangsur membaiknya suasana, sekolah akhirnya kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka pada Selasa (28/7/2026). Bagi sejumlah orang tua, langkah itu sekaligus menutup masa belajar jarak jauh yang diterapkan sementara.
Selain berfokus pada keselamatan siswa, keputusan untuk memulihkan kegiatan di kelas juga menjadi penanda bahwa lingkungan sekitar mulai kondusif setelah insiden pada 26 Juli 2026. Dalam kondisi tersebut, RA Karisma dan MI Karisma kembali menjalankan rutinitas belajar mengajar di lokasi mereka, yang berjarak dekat dari area kejadian.












